Kehamilan

Ditakutkan Wanita, Pahami Gejala dan Penyebab Hamil di Luar Kandungan

October 4, 2020 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik termasuk kasus yang jarang, namun Moms tetap perlu mengetahui apa saja hal-hal yang bisa jadi penyebab masalah ini.

Dengan demikian, berbagai cara perawatan dan pengobatan yang tepat pun bisa dilakukan oleh dokter. Yang terpenting, jangan tunda untuk cek jika menemukan gejala khasnya, ya.

Apa itu hamil di luar kandungan?

Normalnya sel yang dibuahi akan menempel pada lapisan rahim. Namun pada kondisi kehamilan ektopik, telur yang dibuahi akan tumbuh di luar rongga uterus.

Kehamilan ektopik paling sering terjadi pada saluran tuba, yakni yang membawa telur dari ovarium ke rahim. Oleh karena itu, jenis kehamilan ektopik disebut juga kehamilan tuba.

Perlu kamu ketahui bahwa sebenarnya tidak ada alasan pasti mengapa wanita mengalami kehamilan ektopik. Tidak jelas mengapa seorang wanita mengalami kehamilan ektopik.

Sudah dijelaskan di atas bahwa terkadang hamil di luar kandungan ini karena ada masalah dengan tuba falopi, seperti bentuk atau kondisi tuba falopi yang sempit atau tersumbat.

Pada umumnya penyempitan tuba falopi tersebut disebabkan karena adanya peradangan atau infeksi. Ketika mengalami hamil di luar kandungan tanyakan pada dokter apa yang menjadi penyebabnya.

Baca juga: Prosedur Operasi Caesar dan Kisaran Biayanya

Penyebab hamil di luar kandungan

Selain di saluran tuba, kehamilan ektopik juga terkadang terjadi di area lain dari tubuh, seperti ovarium dan rongga perut atau bagian bawah rahim. Pada kehamilan ektopik, telur yang dibuahi sulit untuk bertahan hidup.

Jika tidak ditangani dengan tepat, jaringan yang tumbuh dapat menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa.

Penyebab utama kondisi ini adalah telur yang telah dibuahi tersangkut dalam perjalanan ke rahim. Ada beberapa hal yang membuat Moms bisa mengalami kehamilan ektopik, seperti:

  • Peradangan atau infeksi. Infeksi menular seksual, seperti gonore atau klamidia dapat menyebabkan peradangan pada tabung atau organ lainnya sehingga meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
  • Perawatan kesuburan. Wanita yang melakukan fertilisasi in vitro atau IVF dan perawatan serupa lebih mungkin mengalami kehamilan ektopik. Infertilitas itu sendiri juga bisa meningkatkan risiko.
  • Operasi tuba. Pembedahan untuk memperbaiki tuba falopi yang tertutup atau rusak bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
  • Pilihan kontrasepsi. Kemungkinan hamil saat menggunakan alat kontrasepsi atau IUD jarang terjadi. Namun, jika kamu hamil dengan IUD di tempat maka cenderung akan menyebabkan kehamilan ektopik.
  • Merokok. Memiliki kebiasaan merokok sebelum hamil dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Tanda dan gejala hamil di luar kandungan

Pemeriksaan dini ke dokter menjadi faktor penting untuk menangani kasus kehamilan ektopik. Moms pun perlu tahu seperti apa gejala dari hamil di luar kandungan.

Kehamilan seperti ini bisa ditandai dengan mual dan nyeri pada payudara. Selain itu, ada pula beberapa gejala lain yang mungkin menyertai, seperti rasa sakit yang tajam di perut, panggul, bahu, serta leher, pusing atau pingsan, dan keluar bercak darah hingga perdarahan berat.

Baca juga: Manfaat Pare Bisa Turunkan Berat Badan Lho! Yakin Nih, Masih Enggak Mau Coba?

Hamil di luar kandungan apakah berbahaya?

Hamil di luar kandungan berisiko bagi Moms karena embrio tidak akan bisa berkembang hingga cukup lama. Oleh sebab itu, penting untuk mengeluarkan embrio sesegera mungkin demi kesehatan dan kesuburan jangka panjang ibu.

Pilihan pengobatan biasanya bervariasi tergantung pada lokasi kehamilan ektopik dan perkembangannya. Nah, perawatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kehamilan ektopik, di antaranya:

Menggunakan obat-obatan tertentu

Dokter mungkin akan memutuskan untuk meresepkan beberapa obat untuk mencegah massa ektopik pecah. Salah satu obat umum yang biasa digunakan dokter adalah methotrexate atau rheumatrex.

Obat ini bekerja dengan menghentikan pertumbuhan sel-sel yang membelah dengan cepat, seperti sel-sel massa ektopik. 

Jika meminum obat ini, dokter juga akan mengambil tes darah rutin untuk memastikan bahwa pengobatan dengan cara ini efektif. Jika efektif, obat ini akan menyebabkan gejala yang mirip seperti keguguran, yakni kram dan berdarah. Semua ini perlu pengawasan ketat dari dokter, ya.

Operasi untuk hamil di luar kandungan

Ahli bedah biasanya menyarankan untuk mengeluarkan embrio dan memperbaiki kerusakan internal. Prosedur ini disebut juga dengan laparotomi, di mana dokter akan memasukkan kamera kecil melalui sayatan untuk membantu memperbaiki kerusakan pada tuba falopi.

Jika operasi tidak berhasil, dokter bedah akan mengulangi laparotomi namun melalui sayatan yang lebih besar. Dokter mungkin juga perlu mengangkat tuba falopi selama operasi jika ternyata sudah rusak.

Perawatan di rumah setelah operasi dilakukan

Dokter akan memberikan instruksi spesifik mengenai perawatan sayatan setelah operasi dilakukan. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga luka bekas operasi tetap bersih dan kering saat sudah sembuh.

Selain itu, kamu juga perlu memeriksa sayatan bekas operasi, terutama jika memiliki beberapa tanda infeksi. Misalnya seperti perdarahan berlebih, panas ketika disentuh dan mengeluarkan bau.

Jangan lupa perhatikan beberapa langkah perawatan mandiri, seperti:

  • Tidak mengangkat benda berat
  • Minum banyak cairan untuk mencegah sembelit
  • Istirahatkan panggul atau menahan keinginan untuk berhubungan seksual
  • Perbanyak istirahat pada minggu pertama pascaoperasi
  • Jauhi kebiasaan merokok atau hentikan sebelum merencanakan untuk hamil.

Risiko kehamilan ektopik

Faktor risiko kehamilan ektopik ini pada umumnya meningkat ketika seorang wanita telah berusia 35 tahun atau lebih saat hamil.

Tak hanya itu saja berikut ini beberapa faktor lainnya ketika seorang wanita mengalami kehamilan ektopik seperti pernah mengalami operasi pada bagian panggul dan perut, ada riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, dan perokok aktif.

Bagi kamu yang sedang menjalani pengobatan terkait masalah kesuburan juga bisa meningkatkan risiko terjadinya hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik ini loh.

Ada baiknya konsultasikan kepada dokter sebelum menjadi pengobatan terkait masalah kesuburan tujuannya untuk menghindari kehamilan ektopik.

Hamil di luar kandungan apa bisa dipertahankan? 

Sebagai seorang ibu, pasti ingin mempertahankan kandungannya agar tetap bisa tumbuh. Namun penting untuk kamu ketahui bahwa ketika mengalami hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik ini akan sangat berbahaya bagi ibu dan bayinya jika tidak digugurkan. 

Hamil di luar kandungan termasuk kondisi yang membahayakan nyawa dan sering terjadi pada beberapa minggu pertama kehamilan. Umumnya, tidak mudah untuk mempertahankan bayi pada kondisi kehamilan ini.

Hal tersebut bisa sangat berbahaya karena tuba falopi adalah saluran yang menghubungkan indung telur ke rahim. Namun jika telur terjebak di dalamnya, telur tidak akan berkembang menjadi bayi dan kesehatan kamu mungkin berisiko apabila kehamilan tersebut masih berlanjut.

Jika ada hal lain yang dirasakan, segera beritahu dokter agar mendapatkan penanganan lebih lanjut, ya!

Kesehatan ibu dan janin bisa dikonsultasikan bersama dokter ahli di Good Doctor. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Healthline (2018), diakses 9 Juni 2020. Ectopic Pregnancy
  2. Mayo Clinic (2020), diakses 9 Juni 2020. Ectopic pregnancy
    Berita Terkait
    register-docotr