Info Sehat

Bisa Pertanda Penyakit, Kenali Penyebab Cegukan Berikut Ini

June 26, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Apa rasanya jika kamu sedang fokus beraktivitas, lalu tiba-tiba mengalami cegukan yang susah berhenti? Pasti akan mengganggu sekali, ya? Penyebab cegukan memang sering diabaikan karena dianggap biasa terjadi.

Padahal bisa saja ini menjadi pertanda terjadinya suatu penyakit. Untuk mengenali apa saja yang bisa menjadi penyebab cegukan dan cara mengatasinya, kamu bisa mencari tahu lewat ulasan di bawah ini.

Baca juga: Cara Menghilangkan Cegukan pada Bayi yang Ampuh

Apa itu cegukan?

Dilansir dari mayoclinic.org, cegukan adalah bunyi tertentu akibat gerakan diafgrama yang tak disengaja. Ini terjadi pada otot pemisah dada dan perut yang berperan penting dalam sistem pernapasan manusia.

Cegukan secara medis dikenal sebagai synchronous diaphragmatic flutter atau singultus (SDF). Cegukan dapat terjadi dalam nada tunggal maupun dalam berbeda-beda. Bunyinya sering berirama, artinya interval antara setiap cegukan relatif konstan.

Kebanyakan orang mengalami cegukan dari waktu ke waktu, dan biasanya sembuh tanpa pengobatan dalam beberapa menit. Cegukan bisa terjadi pada semua usia. Mereka bahkan bisa terjadi saat janin masih dalam kandungan ibu.

Proses terjadinya cegukan

Saat diagrama berkontraksi secara normal, paru-paru akan menghirup oksigen dan melepaskan karbon dioksida ketika beristirahat.

Saat tiba-tiba diafgrama mengejang, pangkal tenggorokan dan pita suara akan tertutup secara mendadak. Ini membuat asupan udara masuk dalam jumlah banyak dan menyebabkan suara ‘hik’ yang dikenal dengan cegukan.

Gejala cegukan meliputi:

  1. Kontraksi atau kejang tajam pada diafragma yang dirasakan tepat di bawah tulang dada.
  2. Udara tanpa sengaja tersedot ke tenggorokan.
  3. Epiglotis penutup membuat suara ‘cegukan’.
  4. Cegukan biasanya berhenti setelah beberapa menit.

Lama cegukan

Cegukan biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Jarang ada cegukan yang berkepanjangan atau terjadi selama sebulan atau lebih. Cegukan yang berlangsung lebih dari 2 bulan dikenal sebagai cegukan keras kepala.

Jika cegukan berlangsung lebih dari 48 jam, ini dianggap terus-menerus, dan orang tersebut harus ke dokter. Ini bisa menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius.

Kondisi tersebut cenderung lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Kasus cegukan terpanjang yang tercatat berlangsung selama 60 tahun.

Baca juga: 3 Alasan Lansia Tidak Diprioritaskan Mendapat Vaksin COVID-19

Cegukan di bawah 48 jam

Kondisi ini umum terjadi jika asupan udara seseorang terhalang untuk sementara. Itu bisa terjadi tanpa alasan yang jelas dan biasanya merupakan gangguan ringan atau kurang dari 48 jam.

a. Penyebab cegukan di bawah 48 jam

Cegukan yang terjadi selama kurang dari 48 jam masih dianggap normal, dan belum perlu diperiksakan secara khusus kepada dokter. Adapun beberapa hal yang bisa menjadi penyebab cegukan kategori ini di antaranya adalah:

  1. Minum minuman berkarbonasi seperti soda
  2. Minum minuman beralkohol terlalu banyak
  3. Mengonsumsi sesuatu yang terlalu panas atau dingin
  4. Makan terlalu banyak
  5. Makan terlalu cepat
  6. Makan makanan pedas
  7. Terlalu bergembira
  8. Mengalami tekanan atau stres
  9. Perubahan suhu mendadak
  10. Menelan udara sambil mengunyah permen karet atau memakan permen.

b. Penanganan cegukan ringan

Sebagian besar kasus ini akan hilang setelah beberapa menit atau jam tanpa perawatan medis. Beberapa tip mungkin membantu, tetapi keefektifannya tidak pasti karena belum didukung penelitian secara ilmiah.

Langkah-langkah berikut dapat membantu mengatasi cegukan ringan yang terjadi di bawah 48 jam:

  1. Minumlah air dingin secara perlahan atau kumur dengan air yang sangat dingin.
  2. Tahan napas sebentar, keluarkan, lalu lakukan lagi tiga atau empat kali, dan lakukan ini setiap 20 menit.
  3. Saat menelan, berikan tekanan lembut pada hidung.
  4. Beri tekanan lembut pada diafragma.
  5. Gigit lemon.
  6. Telan sedikit gula pasir.
  7. Ambil sedikit cuka, secukupnya sesuai selera.
  8. Tarik dan keluarkan dari kantong kertas, tetapi jangan pernah menggunakan kantong plastik dan jangan pernah menutupi kepala dengan kantong tersebut.
  9. Duduk dan peluk lutut sedekat mungkin ke dada untuk waktu yang singkat.
  10. Condongkan tubuh ke depan sehingga kamu menekan dada dengan lembut.
  11. Terapi alternatif mungkin termasuk akupunktur dan hipnosis.
  12. Tarik lidah dengan lembut.
  13. Gosok bola mata.
  14. Letakkan jari di tenggorokan untuk memicu refleks muntah.

Baca juga: Cara Menghilangkan Cegukan pada Bayi yang Ampuh

Cegukan terus menerus (di atas 48 jam)

Jika cegukan berlangsung terus menerus lebih dari dua hari, itu dianggap kronis. Kondisi ini bahkan dapat berlangsung selama bertahun-tahun pada beberapa orang dan biasanya merupakan tanda masalah medis.

Misalnya kelelahan karena cegukan membuat kamu terjaga hampir setiap malam, atau penurunan berat badan yang parah karena dapat memengaruhi nafsu makan.

Meski sangat jarang terjadi, tetapi gangguan cegukan kronis cenderung lebih sering terjadi pada pria daripada pada wanita. Orang lain yang mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena cegukan kronis termasuk mereka yang:

  1. Baru-baru ini menjalani anestesi umum
  2. Mengalami kecemasan atau masalah kesehatan mental lainnya
  3. Pernah menjalani operasi di daerah perut
  4. Menderita penyakit hati, usus, perut, atau diafragma
  5. Sedang hamil
  6. Menderita kanker
  7. Minum alkohol secara berlebihan
  8. Mengalami gangguan sistem saraf

a. Diagnosis cegukan kronis

Jika penyebab cegukan tidak jelas, dokter mungkin akan merekomendasikan tes untuk mendeteksi penyakit atau kondisi yang mendasarinya. Tes berikut mungkin berguna dalam menentukan penyebab cegukan yang terus-menerus:

  1. Tes darah untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, diabetes, atau penyakit ginjal
  2. Tes fungsi hati
  3. Pencitraan diafragma dengan rontgen dada, CT scan, atau MRI
  4. Ekokardiogram untuk menilai fungsi jantung
  5. Endoskopi, yang menggunakan tabung tipis berlampu dengan kamera di ujungnya untuk menyelidiki kerongkongan, tenggorokan, perut, dan usus
  6. Bronkoskopi, yang menggunakan tabung tipis berlampu dengan kamera di ujungnya untuk memeriksa paru-paru dan saluran udara

b. Penyebab cegukan terus menerus

Ada banyak hal yang diyakini menyebabkan cegukan, tetapi penyebab cegukan kronis tidak selalu diketahui. Penyebabnya mungkin membutuhkan waktu lama untuk ditemukan. Berikut ini hanyalah beberapa kemungkinan penyebabnya.

Kerusakan atau iritasi syaraf

Dilansir dari healthline.com, salah satu penyebab cegukan terlalu lama adalah iritasi pada syaraf vagus atau syaraf phrenic yang membantu diafgrama berfungsi. Beberapa faktor penyebab terjadinya kerusakan ini adalah:

  1. Ada rambut atau benda lain di dalam telinga yang menyentuh gendang telinga
  2. Terdapat tumor, kista, atau gondok di leher
  3. Terdapat tumor pada kerongkongan
  4. Kelenjar tiroid yang membesar
  5. Gastroesophageal reflux, yakni kondisi di mana asam lambung naik ke kerongkong dan terjadi radang pada tenggorokan.

Baca juga: Awas, Salah Posisi Duduk Bisa Bikin Sakit Kepala! Ketahui Juga 7 Penyebab Lainnya

Gangguan sistem syaraf pusat

Tumor atau infeksi pada sistem syaraf pusat sebagai akibat terjadinya trauma tertentu juga dapat menjadi penyebab cegukan terlalu lama.

Sistem syaraf pusat sendiri terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Gangguan pada kedua organ tersebut dapat mengakibatkan seseorang kehilangan kontrol pada cegukan. Beberapa gangguan sistem syaraf yang bisa menyebabkan hal ini adalah:

  1. Encephalitis
  2. Strok
  3. Tumor
  4. Kecelakaan yang menyebabkan trauma otak dan kepala
  5. Neurosyphilis
  6. Meningitis, yakni infeksi yang bisa membuat otak mengalami pembengkakan
  7. Multiple sclerosis, yakni penyakit gangguan syaraf kronis pada otak yang mengganggu gerakan tubuh.
  8. Hydrocephalus, yakni kondisi otak yang dipenuhi cairan melebihi batas ambang kewajaran.

Kelainan metabolisme dan obat-obatan

Cegukan yang terjadi terus menerus dan sulit dihentikan juga bisa disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini:

  1. Ketergantungan minuman beralkohol,
  2. Kebiasaan merokok
  3. Efek penggunaan obat bius setelah operasi
  4. Diabetes
  5. Ketidakseimbangan elektrolit
  6. Penyakit ginjal
  7. Berada dalam pengobatan kemoterapi
  8. Menderita penyakit parkinson
  9. Arteriovenous malformation, yakni kondisi di mana pembuluh arteri dan nadi terkait satu sama lain di dalam otak
  10. Konsumsi obat-obatan tertentu seperti barbiturate, steroid, dan obat penenang

c. Mengobati cegukan terus menerus

Mengobati cegukan kronis biasanya membutuhkan lebih dari sekadar minum segelas air, dan sebagian besar perawatan memerlukan bantuan ahli medis. Perawatan tergantung pada penyebab yang mendasari dan mungkin termasuk:

Obat-obatan

Jika cegukan yang berkepanjangan mengganggu kualitas hidup seseorang, dokter mungkin akan meresepkan obat. Berikut obat dapat membantu jika tampaknya tidak ada kondisi kesehatan yang mendasarinya:

  1. Baclofen (Lioresal), pelemas otot
  2. Gabapentin, obat anti kejang yang biasa diresepkan untuk nyeri neuropatik, ini dapat membantu meringankan gejala cegukan

Jika ini tidak berhasil, berikut ini yang disarankan:

  1. Klorpromazin atau haloperidol, obat antipsikotik yang dapat meredakan cegukan
  2. Metoclopramide (Reglan), obat antimual, yang dapat membantu beberapa orang dengan cegukan
  3. Efedrin atau ketamin dapat mengobati cegukan yang terkait dengan anestesi atau pembedahan.

Dokter biasanya akan meresepkan pengobatan dua minggu dosis rendah. Mereka mungkin secara bertahap meningkatkan dosis sampai cegukan hilang.

Pembedahan

Dalam kasus yang parah di mana pengobatan lain tidak menunjukkan hasil positif. Ahli bedah dapat menyuntikkan obat ke dalam saraf frenikus untuk sementara memblokir tindakan saraf tersebut, atau memutuskan saraf frenikus di leher.

Komplikasi yang bisa terjadi

Cegukan berkepanjangan dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  1. Penurunan berat badan dan dehidrasi: Jika cegukan berlangsung lama dan terjadi dalam interval pendek, bisa jadi sulit untuk makan dengan benar.
  2. Insomnia: Jika cegukan berkepanjangan terus berlanjut selama jam tidur, mungkin sulit untuk tertidur atau tetap tertidur.
  3. Kelelahan: Cegukan yang berkepanjangan bisa melelahkan, terutama jika membuat sulit tidur atau makan.
  4. Masalah komunikasi: Mungkin sulit bagi orang tersebut untuk berbicara.
  5. Depresi: Cegukan jangka panjang dapat meningkatkan risiko pengembangan depresi klinis.
  6. Penyembuhan luka yang tertunda: Cegukan yang terus-menerus dapat mempersulit penyembuhan luka pasca operasi, meningkatkan risiko infeksi atau pendarahan setelah operasi.

Bagaimana mencegah cegukan?

Tidak ada metode yang terbukti untuk mencegah cegukan. Namun, jika kamu sering mengalami hal ini, maka kamu dapat mencoba mengurangi paparan terhadap pemicu cegukan yang diketahui.

Berikut ini dapat membantu mengurangi kerentanan kamu terhadap cegukan:

  1. Jangan makan berlebihan.
  2. Hindari minuman berkarbonasi.
  3. Lindungi diri dari perubahan suhu yang tiba-tiba.
  4. Jangan minum alkohol.
  5. Tetap tenang, dan cobalah untuk menghindari reaksi emosional atau fisik yang intens.

Itulah hal-hal yang bisa kamu pelajari mengenai cegukan. Jika kamu mengalaminya, kamu bisa mencoba pengobatan rumahan di atas sebelum berkonsultasi kepada dokter.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Everything You Need to Know About Hiccup, https://www.healthline.com/health/hiccups diakses pada 23 Juni 2020

Hiccups, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiccups/symptoms-causes/syc-20352613 diakses pada 23 Juni 2020

Everything You Need to Know About Hiccups, https://www.healthline.com/health/hiccups diakses pada 29 Maret 2021

Chronic Hiccups, https://www.healthline.com/health/chronic-hiccups#treatment diakses pada 29 Maret 2021

What you need to know about hiccups, https://www.medicalnewstoday.com/articles/181573#causes diakses pada 29 Maret 2021

Hiccups, https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/hiccups diakses pada 29 Maret 2021

 

    register-docotr