Info Sehat

Penyakit Demensia Tidak Bisa Dihindari Tapi Dikurangi Risikonya, Ini Tipsnya

September 8, 2020 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Demensia bukanlah penyakit tunggal, namun merupakan istilah umum yang menggambarkan gejala gangguan dalam memori, komunikasi, dan berpikir. Meski kemungkinan seseorang mengalami demensia meningkat seiring bertambahnya usia dan bukan bagian normal dari penuaan.

Beberapa demensia bersifat progresif sehingga dapat diobati atau bahkan disembuhkan setelah berkonsultasi dengan dokter. Nah, untuk mengetahui informasi lebih lengkap mengenai demensia berikut penjelasan yang bisa kamu simak.

Baca juga: Jangan Asal Konsumsi, Lebih Baik Minum Obat Antidepresi yang Sering Diresepkan Dokter, Ini Daftarnya

Apa itu demensia?

Dilansir dari Healthline, demensia merupakan penurunan fungsi kognitif yang biasanya dapat memengaruhi memori, berpikir, bahasa, pertimbangan, dan tingkah laku. Penyakit demensia mungkin disebabkan oleh berbagai penyakit atau cedera. 

Demensia menggambarkan sekelompok gejala yang memengaruhi daya ingat, cara berpikir, dan kemampuan sosial sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Meski demensia umumnya melibatkan kehilangan memori, namun seseorang yang hilang ingatan tidak berarti menderita penyakit demensia. 

Penyakit Alzheimer menjadi penyebab paling umum dari demensia progresif pada orang dewasa yang lebih tua. Nah, tergantung pada penyebabnya beberapa gejala demensia mungkin dapat disembuhkan melalui perawatan dokter.

Gejala umum demensia pada tahap awal

Seseorang dengan demensia mungkin menunjukkan salah satu gejala yang cukup jelas, yakni kehilangan ingatan. Beberapa gejala bisa diketahui sendiri atau hanya terlihat oleh perawat dan petugas kesehatan. Gejala atau tanda umum penyakit demensia yang perlu diketahui, antara lain sebagai berikut:

Perubahan kognitif

Demensia bisa ditandai dengan adanya perubahan kognitif, yakni kehilangan memori yang diketahui oleh orang lain serta sulit berkomunikasi atau menemukan kata-kata.

Tak hanya itu, beberapa tanda lain yang menyertai adalah kesulitan bernalar, kesulitan dalam perencanaan, serta kebingungan dan disorientasi.

Perubahan psikologis

Selain kognitif, penyakit demensia juga bisa ditandai dengan adanya perubahan pada psikologis. Beberapa gejala yang dimaksud adalah kepribadian berubah, depresi, kegelisahan, perilaku tidak pantas, paranoia, agitasi, dan halusinasi. 

Pada tahap awal, demensia bisa menimbulkan gejala seperti sulit menerima perubahan dalam jadwal atau lingkungan dan  perubahan halus dalam pembuatan jangka pendek.

Apatis juga bisa terjadi pada penderita demensia, termasuk kehilangan minat pada hobi dan aktivitas yang pernah dinikmati. 

Seiring bertambahnya usia pasien, gejala demensia stadium akhir cenderung bisa memburuk dan mengganggu kehidupan. Jika hal ini sudah terjadi, maka pemeriksaan bersama dokter harus segera dilakukan agar penanganan tepat bisa didapatkan.

Baca juga: Apa Itu Panic Attack? Berikut Gejala, Penyebab, dan Penanganan Serangan Panik

Tips tepat mengurangi risiko demensia

Tidak ada cara pasti untuk mencegah atau mengurangi risiko demensia, namun terdapat beberapa langkah mudah yang bisa diikuti. Meski memerlukan banyak penelitian, ada berbagai cara tepat untuk mengurangi risiko demensia pada seseorang yakni sebagai berikut:

Jagalah agar pikiran tetap aktif

Lakukanlah aktivitas yang merangsang mental, seperti membaca, memecahkan teka-teki, dan pelatihan memori. Beberapa hal tersebut diketahui dapat menunda timbulnya demensia dan mengurangi efeknya.

Aktif secara fisik dan sosial

Aktivitas fisik dan interaksi sosial bisa membantu menunda munculnya demensia dan mengurangi keparahan gejala. Bergerak lebih banyak dan targetkan latihan 150 menit dalam seminggu untuk mencegah risiko demensia semakin parah. 

Dapatkan vitamin yang cukup

Kadar vitamin D yang rendah dalam darah lebih memungkinkan seseorang untuk mengembangkan penyakit Alzheimer dan bentuk demensia lainnya. Nah, cara paling tepat yang bisa dilakukan adalah mendapatkan cukup vitamin D, yakni melalui makanan, suplemen, dan paparan sinar matahari.

Kelola faktor risiko kardiovaskular

Mengobati tekanan darah tinggi, diabetes, dan mengelola indeks massa tubuh dengan baik merupakan cara tepat untuk mengurangi risiko demensia. Temui juga dokter secara rutin untuk melakukan perawatan jika kamu mengalami gangguan pendengaran, depresi, ataupun kecemasan.

Pertahankan pola makan sehat

Mengonsumsi makanan sehat, termasuk menjaga pola diet tak hanya bisa meningkatkan kesehatan tubuh namun juga menurunkan risiko terkena demensia. Cobalah untuk mengonsumsi beberapa makanan sehat, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan asam lemak omega-3.

Terapkan pola tidur yang berkualitas

Pola tidur yang baik dan berkualitas diketahui memiliki dampak baik untuk kesehatan, termasuk mengurangi risiko terkena demensia. Bicarakan juga dengan dokter jika kamu mendengkur dengan keras atau mengalami periode dimana tubuh berhenti bernapas atau terengah-engah ketika tidur.


Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Mayo Clinic (2019), diakses pada 7 September 2020. Dementia
  2. Healthline (2018), diakses pada 7 September 2020. What Do You Want to Know About Dementia?
  3. Medical News Today (2017), diakses pada 7 September 2020. Dementia: Symptoms, stages, and types
    register-docotr