Info Sehat

Pasien Esperanza, Jadi Pasien Kedua yang Pulih dari HIV tanpa Obat, Mungkihkah secara Medis?

November 24, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Seorang wanita di Argentina menjadi orang kedua yang didokumentasikan telah pulih secara alami dari HIV. HIV adalah virus yang memasukkan dirinya ke dalam DNA untuk merusak sistem kekebalan, dan terus berada di dalam tubuh seumur hidup.

Dilansir dari NBC News, wanita yang diberi nama the ‘Esperanza patient’ tersebut, telah sembuh tanpa melakukan pengobatan apapun. Bisa dibilang sistem kekebalannya-lah yang mungkin telah memulihkannya dari HIV.

Kejadian ini tentu membawa harapan besar meski tergolong langka, bagi 38 juta orang di dunia yang hidup dengan HIV. Teruskan membaca artikel di bawah untuk mengetahui kisah lengkapnya.

Baca juga: Jangan Dibuang! Ini 7 Tips Unik Mengolah Makanan Sisa agar Lebih Bermanfaat

Bahaya HIV dan penyakit AIDS

HIV dapat memengaruhi dan membunuh sel CD4 yang merupakan jenis sel kekebalan bernama sel T. Seiring waktu, ketika HIV membunuh lebih banyak sel CD4, tubuh akan lebih rentan terkena berbagai jenis penyakit, termasuk kanker.

Seseorang dengan HIV juga rentan mengembangkan kondisi serius bernama Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Ini adalah kondisi di mana sistem kekebalan terlalu lemah untuk berhasil merespons penyakit, infeksi, dan gangguan kesehatan lainnya.

Harapan hidup dengan AIDS stadium akhir adalah sekitar 3 tahun. Namun dengan terapi antiretroviral, HIV dapat dikelola dengan baik, dan harapan hidup bisa hampir sama dengan seseorang yang belum tertular HIV.

Kasus the ‘Esperanza patient’ pulih dari HIV

Pada 2013, dokter mendiagnosis seorang wanita asal Argentina tertular HIV yang menyebabkan penyakit AIDS. Delapan tahun kemudian, virus tersebut diketahui telah hilang dari sistem tubuhnya.

Fakta tersebut mengejutkan para peneliti, karena mereka tidak dapat menemukan bukti adanya partikel HIV di tubuh wanita tersebut.

Akan tetapi, meski analisis terhadap sejumlah besar sel darah dan jaringan menunjukkan pasien ini secara alami telah mencapai penyembuhan sterilisasi. Para ahli mengingatkan bahwa sains tidak dapat secara pasti menyatakan jejak virus HIV yang tersisa di tubuh wanita tersebut tidak ada sama sekali.

Kesembuhan terjadi secara alami

The ‘Esperanza patient’ merupakan kasus kesembuhan HIV kedua yang terjadi akibat sistem kekebalan alami. Tidak ada penanganan medis seperti transplantasi sumsum tulang ataupun intervensi obat dalam proses kesembuhan ini.

Adapun kasus pertama adalah seorang wanita bernama Loreen Willenberg. Pada 2020, setelah 27 tahun untuk pertama kalinya ia tidak menemukan virus HIV lagi di dalam tubuhnya.

Selain itu ada pula dua kasus kesembuhan HIV lainnya yang dinamakan sebagai ‘Pasien London’ dan ‘Pasien Berlin’. Keduanya juga pulih dari HIV, namun hal itu terjadi setelah sel kekebalan mereka diganti sepenuhnya melalui terapi sel induk.

Metode penelusuran virus

The ‘Esperanza patient’ mulai bermitra dengan tim Dr. Xu Yu, seorang ahli imunologi virus di Institut Ragon di Boston pada 2019. Dilansir dari Annals of Internal Medicine, Yu, kemudian memimpin pencarian virus HIV di sekitar 1,188 miliar sel darah wanita tersebut.

Yu beserta tim juga mencari 500 juta sel jaringan plasenta setelah wanita tersebut melahirkan bayi HIV-negatif pada Maret 2020.

Dengan menggunakan teknik pengurutan genetik yang sangat canggih dan sensitif yang baru-baru ini tersedia, Yu dan timnya tidak menemukan rangkaian virus yang utuh dalam pengontrol elit yang mereka pelajari.

Termasuk dalam kelompok langka

Penting untuk dicatat bahwa the ‘Esperanza patient’ masuk dalam kelompok langka pasien HIV yang disebut “pengendali elit”.

Jadi meskipun virus HIV ada dalam sistem orang-orang ini, mereka mampu mempertahankan viral load yang cukup rendah sehingga mereka tidak mengembangkan gejala, bahkan tanpa pengobatan.

‘Pengendali elit’ hanya mewakili 1 persen dari populasi HIV-positif di seluruh dunia. Menurut penelitian di 2019 di Journal of Virus Eradication, sampai saat ini para ilmuwan belum begitu yakin bagaimana sistem kekebalan tubuh mereka dapat menghilangkan virus berbahaya tersebut.

“Saya sangat ingin belajar lebih banyak tentang fenomena baru dari kontrol elit yang luar biasa ini,” kata Rowena Johnston, direktur penelitian di amfAR, The Foundation for AIDS Research, kepada NBC News.

Baca juga: Sedang Program Menggemukkan Badan tapi Harus Puasa, Ini 4 Tipsnya

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

The Lancet diakses pada 23 November 2021

Annals of Internal Medicine diakses pada 24 November 2021

Live Science diakses pada 23 November 2021

Healthline diakses pada 23 November 2021

Stat News diakses pada 23 November 2021

NBC News diakses pada 23 November 2021

Detik Health diakses pada 23 November 2021

 

 

    register-docotr