Info Sehat

Meninggal Akibat Tenggelam: Respons Tubuh, Pengaruh Suhu dan Tekanan Air

April 26, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Menjelang akhir April 2021, Indonesia kembali berduka atas tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 di utara perairan Bali. Tak seorang pun dari 53 awak kapal dinyatakan selamat dalam insiden itu.

Ketika seseorang tenggelam, risiko kematian bisa meningkat jika tidak segera mendapat pertolongan. Lalu, apa yang terjadi pada tubuh saat tenggelam? Faktor apa saja yang dapat menyebabkan kematian di dalam air? Berikut ulasannya!

Meninggal karena tenggelam

Drowning adalah kondisi di mana seseorang meninggal akibat tenggelam di air, baik itu kolam maupun lautan. Kematian tersebut disebabkan oleh gagalnya paru-paru mendapatkan oksigen. Saat tenggelam, paru-paru akan dipenuhi oleh air, membuatnya menjadi sedikit lebih berat.

Tidak ada oksigen yang bisa dikirim ke jantung. Dengan begitu, semua bagian dan organ juga tak akan mendapatkan suplai oksigen. Tanpa oksigen selama beberapa menit, organ tubuh bisa mati.

Jika seseorang terendam setelah menghirup air selama 4 sampai 6 menit tanpa resusitasi, itu akan mengakibatkan kerusakan otak dan kematian karena tenggelam.

Rata-rata kemampuan orang dalam menahan napas (termasuk di dalam air) hanya sekitar 30 detik. Untuk anak-anak, durasinya mungkin lebih pendek. Namun, untuk kalangan profesional yang telah mendapat pelatihan, orang itu dapat menahan napas hingga 2 menit.

Baca juga: Jangan Panik Dulu, Ini Cara Menolong Orang Tenggelam yang Perlu Kamu Lakukan!

Tahapan respons tubuh saat tenggelam

Bukan hanya di lautan, genangan air dan bak mandi bahkan bisa membuat seseorang tenggelam dan meninggal. Itu semua dipengaruhi oleh usia, bobot tubuh, dan kesehatan pernapasan.

Kematian akibat tenggelam berlangsung sangat cepat, tapi terjadi secara bertahap. Dikutip dari Healthline, seseorang bisa benar-benar meninggal di dalam air setelah 10 hingga 12 menit tidak mendapatkan bantuan. Tahapannya meliputi:

  • Selama beberapa detik pertama setelah menghirup air, orang yang tenggelam berada dalam keadaan fight-or-fligh, kondisi yang mengharuskannya berjuang untuk terus bernapas
  • Secara alami, saluran udara atau jalan napas akan menutup ‘pintu’-nya ketika ada air yang masuk. Namun, saat tenggelam, banyaknya air yang masuk membuat katup tersebut tak dapat menahannya. Secara refleks, seseorang akan mulai menahan napas
  • Lebih dari dua menit, seseorang bisa kehilangan kesadaran
  • Pada tahap ini, orang itu sebenarnya masih bisa diselamatkan dengan resusitasi
  • Pernapasan akan berhenti dan jantung mulai melambat, bisa berlangsung selama beberapa menit
  • Tubuh mengalami kejang akibat hipoksia (kekurangan oksigen) dan tersentak (megap-megap) secara tidak menentu
  • Kulit akan berubah membiru, diikuti berhentinya fungsi otak, jantung, dan paru-paru
  • Setelah itu, kematian tak bisa dihindarkan

Suhu air memperparah kondisi

Saat seseorang tenggelam di lautan, keadaannya bisa diperparah oleh suhu air. Suhu normal manusia adalah 37 derajat Celcius. Ketika terpapar oleh air dingin, suhu tubuh akan menyesuaikan. Saat temperatur badan berada di bawah 35 derajat Celcius, itulah yang disebut kondisi hipotermia.

Suhu air laut mungkin bisa berbeda antara satu dengan yang lain. Namun, mengutip dari Scientific American, temperatur air 24 hingga 27 derajat Celcius sudah cukup membahayakan bagi tubuh. Hanya dibutuhkan waktu 15 menit hingga akhirnya badan menjadi sangat lemah.

Semakin dingin air, semakin cepat pula seseorang mengalami hipotermia. Gejalanya bermacam-macam, seperti kebingungan, berbicara cadel, dan mengantuk. Denyut nadi juga bisa melemah, termasuk penurunan tekanan darah.

Saat tubuh masuk ke dalam air yang dingin, seseorang akan mengalami hiperventilasi, yaitu kondisi ketika bernapas sangat cepat dan dalam (tak terkendali). Jika dalam posisi tenggelam, hal itu dapat mempercepat proses drowning seperti yang telah disebutkan di atas.

Dalam kasus bukan tenggelam, normalnya seseorang bisa hidup di air bersuhu 5 derajat Celcius selama 15 hingga 20 menit. Setelah melebihi batas waktu itu, otot akan melemah, koordinasi tubuh menjadi kacau, dan kekuatan mulai menurun.

Bagaimana dengan tekanan air di bawah laut?

Semakin dalam lautan, maka semakin besar pula tekanannya. Tekanan air meningkat 1 atmosfer (atm) untuk setiap kedalaman 10 meter (33 feet). Bagi manusia, tekanan yang sangat tinggi bisa membuat paru-paru hancur hingga perdarahan di sejumlah organ dalam.

Untuk ikan dan hewan yang hidup di laut dalam, protein di tubuhnya bisa membentuk filamen (seperti serat) yang dapat memengaruhi kontraksi badan. Kontraksi tersebut akan menyesuaikan dengan tekanan air di lautan.

Dikutip dari Medical Daily, pada kedalaman melebihi 30 meter (100 feet), jaringan paru-paru mulai berkontraksi, berdampak pada ketersediaan oksigen di dalamnya. Lalu, darah akan lebih banyak dialirkan ke organ-organ penting, dan degup jantung bisa turun menjadi 14 detak per menit.

Nah, itulah ulasan tentang kondisi tenggelam yang bisa menyebabkan kematian. Persiapan matang adalah hal yang sangat penting dilakukan sebelum kamu memutuskan untuk beraktivitas di perairan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Healthline, diakses 26 April 2021, Drowning Facts and Safety Precautions.
  2. Medical Daily, diakses 26 April 2021, Breaking Point: How Much Water Pressure Can The Human Body Take?
  3. Mayo Clinic, diakses 26 April 2021, Hypothermia.
  4. Schmidt Ocean Institute, diakses 26 April 2021, LIFE UNDER PRESSURE – 100 ELEPHANTS ON YOUR HEAD.
  5. Scientific American, diakses 26 April 2021, Hypothermia: How long can someone survive in frigid water?

    register-docotr