Info Sehat

Mengenal Konsep Child-free: Menikah Tapi Tak Ingin Punya Anak

August 25, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Istilah child-free mendadak populer di tengah masyarakat. Tentu saja, konsep tersebut dibarengi dengan pro dan kontra yang riuh. Banyak pihak yang menentangnya, tapi tak sedikit pula yang memberikan dukungan.

Lantas, apa sih sebenarnya child-free itu? Apakah bisa memengaruhi kehidupan rumah tangga pasangan suami istri? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu child-free?

Menurut Cambridge Dictionary, child-free adalah sebuah konsep di mana seseorang memilih untuk tidak memiliki anak, atau tempat dan situasi yang tanpa ada kehadiran anak.

Penerapan child-free sendiri bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah lumrah di banyak negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, seperti dikutip dari laporan National Survey of Family Growth, tak kurang dari 15 persen wanita dan 24 persen pria memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Konsep child-free bukan tentang benar atau salah. Meski, menurut dr. Shannon Curry, psikolog klinis di Amerika Serikat, ada stigma yang terlanjur melekat pada masyarakat bahwa tujuan utama menikah adalah untuk memiliki anak.

Narasi itu cenderung memberi tekanan pada kaum wanita. Apalagi, tak sedikit orang yang menganggap bahwa menikah tanpa adanya anak bisa menyebabkan penyesalan di akhir hidup.

Latar belakang munculnya child-free

Menurut penjelasan Amy Blackstone, sosiolog asal University of Maine, ada banyak alasan mengapa seseorang atau pasangan memilih untuk tidak punya anak. Salah satunya adalah pandangan terhadap kehidupan orang lain yang berubah setelah kehadiran buah hati.

Tak hanya itu, banyak pasangan suami istri yang memilih menerapkan child-free dengan alasan agar bisa saling dekat satu sama lain dan tidak ingin kehidupannya menjadi terbatas karena kehadiran anak.

Perlu diingat bahwa kebanyakan pasangan child-free sudah memikirkan matang-matang keputusannya dan bertanggungjawab atas apa yang dipilihnya.

Kehidupan pernikahan dan respons sosial

Penerapan child-free umumnya merupakan kesepakatan bersama, meski wanita adalah pihak yang cenderung memberikan inisiatif. Tak sedikit orang yang bertanya, apakah pasangan child-free bisa hidup bahagia dalam menjalani rumah tangganya?

Dikutip dari laman American Addiction Center Resources, child-free adalah sebuah pilihan. Ada motivasi tertentu mengapa pasangan suami istri memilih untuk menjalankannya. Artinya, child-free mungkin justru menjadi salah satu cara agar kehidupan pernikahan tetap bahagia.

Bagaimana dengan respons sosial termasuk orang tua dan mertua? Ini semua tergantung dari pribadi masing-masing, apakah menerima atau justru terjebak pada stigma seperti yang telah disebutkan.

Menurut sebuah publikasi, stigma negatif telah menjadi aspek tertinggi sebagai efek sosial yang didapat oleh pasangan tanpa anak (termasuk karena masalah infertilitas) dari lingkungan sekitar.

Baca juga: Berbagai Hal yang Harus Dilakukan agar IUD Ampuh Cegah Kehamilan

Apakah child-free berpengaruh pada kesehatan?

Beberapa orang mungkin bertanya apakah tidak hamil atau tidak melahirkan seumur hidup akan memengaruhi kesehatan atau tidak. Belum ada laporan tentang munculnya penyakit akibat tidak hamil atau melahirkan seumur hidup.

Bahkan, dalam dunia medis, ada metode sterilisasi yang justru bertujuan mencegah kehamilan secara permanen. Praktik tersebut adalah sesuatu yang normal. Tapi bagi pasangan yang memilih alat kontrasepsi sebagai pencegah kehamilan, tentu ada risiko kesehatan yang bisa muncul.

Menurut sebuah publikasi, kontrasepsi berupa pil atau berbagai alat yang kinerjanya memengaruhi organ reproduksi wanita bisa memicu sejumlah masalah kesehatan, di antaranya adalah:

  • Efek kardiovaskular: Penggunaan kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko penyakit tromboemboli vena, serangan jantung, dan stroke. Risiko tersebut bisa lebih tinggi pada wanita yang punya kebiasaan merokok
  • Efek metabolik: Komponen progestin dari produk kontrasepsi dapat menurunkan kolesterol baik. Selain itu, komponen estrogen pada produk kontrasepsi juga bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat. Keduanya berperan dalam sistem metabolisme tubuh
  • Tumor: Penggunaan kontrasepsi oral bisa meningkatkan risiko munculnya tumor jinak bernama neoplasma, dapat memicu perdarahan lambung yang serius
  • Masalah empedu: Penggunaan pil kontrasepsi dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko gangguan empedu
  • Gangguan organ reproduksi dan rahim: Penggunaan intrauterine device (IUD) jangka panjang bisa meningkatkan risiko munculnya radang panggul, luka pada uterus (perforasi), dan masalah pada saluran tuba

Nah, itulah ulasan tentang child-free dan tinjauan dari aspek sosial dan kesehatan yang perlu kamu tahu. Untuk memutuskan sebuah pilihan dalam kehidupan rumah tangga, selalu diskusikan dengan pasanganmu, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Today, diakses 24 Agustus 2021, Child-free by choice: Why many women are intentionally opting out of parenthood.
  2. Today, diakses 24 Agustus 2021, ‘I don’t think this is for me’: 7 reasons why people choose to be childfree.
  3. American Addiction Centers Resources, diakses 24 Agustus 2021, Choosing to be Childless, Is It Selfish?
  4. Cambridge Dictionary, diakses 24 Agustus 2021, Child-free.
  5. Planned Parenthood, diakses 24 Agustus 2021, Sterilization.
  6. NCBI, diakses 24 Agustus 2021, Contraceptive Use and Controlled Fertility: Health Issues for Women and Children Background Papers.
  7. NCBI, diakses 24 Agustus 2021, The social and cultural consequences of being childless in poor-resource areas.

    register-docotr