Info Sehat

Bahaya Makan Ikan Buntal, Bisa Sebabkan Keracunan hingga Risiko Kematian!

March 7, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Ikan adalah hewan laut yang kaya akan nutrisi, begitu juga dengan ikan buntal. Meski mudah ditemukan di beberapa perairan Indonesia, banyak orang kerap mengalami keracunan setelah makan ikan buntal. Dampak fatalnya, kondisi tersebut bisa berujung pada kematian.

Lantas, apa sebenarnya ikan buntal itu? Mengapa bisa menyebabkan keracunan? Serta, bagaimana caranya agar tak keracunan setelah memakannya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Sekilas tentang ikan buntal

Ikan buntal, atau yang juga disebut dengan pufferfish, adalah hewan air yang berasal dari famili Diodontidae dan ordo Tetraodontiformes. Nama tetraodontiformes sendiri berasal dari morfologi gigi ikan ini yang besar dan tajam.

Ikan buntal hidup di wilayah tropis, seperti Jepang, Myanmar, India, Thailand, Singapura, dan Filipina. Sedangkan di Indonesia, ikan buntal bisa ditemukan di perairan Sumatera (Aceh hingga Bangka), Jawa, Madura, dan Kalimantan.

Menurut sebuah riset oleh beberapa peneliti di Institut Pertanian Bogor, sama seperti kebanyakan produk laut, ikan buntal memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, seperti protein, karbohidrat, dan asam lemak sehat.

Tingginya nilai gizi yang ada pada ikan buntal menjadi salah satu alasan mengapa ikan ini sangat digemari oleh banyak warga Jepang.

Baca juga: Kenali Lebih Awal, Ini Dia Ciri-ciri Keracunan Ikan Tongkol yang Umum Dirasakan!

Kandungan racun ikan buntal

Meski mempunyai nutrisi beragam, sebagian orang memilih untuk menghindari konsumsinya karena adanya zat racun pada ikan buntal. Makan ikan buntal bisa berisiko membahayakan nyawa, terutama jika tidak melalui proses pengolahan yang benar.

Ikan buntal terkenal dengan racunnya yang bernama tetrodotoksin (TTX). Racun ini bersifat neurotoksin (menyerang saraf) dan hingga kini belum ada penawarnya. Sehingga, saat seseorang keracunan setelah makan ikan buntal, tak ada cara lain selain memuntahkannya kembali.

Menurut sebuah studi yang terbit di Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, racun tetrodotoksin terkonsentrasi dalam jumlah yang besar pada bagian hati dan ovarium ikan buntal. Racun pada ikan buntal betina lebih tinggi ketimbang yang jantan.

Saat ada predator mendekat, ikan buntal akan menggelembungkan diri hingga tiga kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya. Pada waktu tersebut, racun akan diekskresikan ke kulit untuk mengusir musuh.

Gejala keracunan ikan buntal

Gejala keracunan bisa muncul 10 hingga 45 menit setelah makan ikan buntal, diawali dengan kebas di sekitar mulut. Kemudian, gejala bisa bertambah parah dan melibatkan lebih banyak bagian tubuh, seperti:

  • Mati rasa atau kelumpuhan pada wajah yang ekstrem
  • Tubuh terasa sangat ringan seolah-olah sedang melayang
  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Diare
  • Sulit berbicara dan tiba-tiba menjadi cadel
  • Tidak mampu berjalan
  • Penurunan fungsi otot secara ekstrem

Selain beberapa gejala di atas, keracunan ikan buntal juga bisa memicu dampak yang lebih serius, seperti gangguan pernapasan, kejang, hingga aritmia (gangguan irama jantung).

Begitu gejala awal muncul, ada baiknya segera cari pertolongan medis untuk mengeluarkan ikan buntal yang telah dimakan. Sebab, jika racun itu tetap berada di dalam tubuh selama 4 hingga 6 jam, risiko kematian bisa meningkat.

Pertolongan pertama saat keracunan

Begitu muncul gejala awal keracunan setelah makan ikan buntal, segera lakukan pertolongan pertama agar kondisinya tak memburuk, yaitu dengan:

  • Muntahkan kembali semua makanan dalam posisi terbangun. Usahakan seluruh makanan sudah dimuntahkan kurang dari tiga jam setelah makan ikan buntal
  • Jangan memasukkan makanan atau minuman jika korban sedang tidak sadarkan diri atau kesulitan menelan
  • Jika gejala makin memburuk seperti terjadi kelumpuhan pada bagian tubuh tertentu, beri pernapasan buatan. Orang itu harus tetap hidup sampai mendapat penanganan di rumah sakit

Makan ikan buntal agar tak keracunan, bagaimana caranya?

Sampai saat ini, belum ada cara atau pengolahan ikan buntal yang benar-benar membuatnya aman untuk dikonsumsi. Meski begitu, ada beberapa teknik yang bisa dilakukan agar ikan buntal tak lagi menjadi makanan beracun saat dimakan.

Berikut beberapa tips mengolah ikan buntal agar tak menyebabkan keracunan menurut Takanori Kurokawa, seorang juru masak profesional berlisensi asal Jepang:

  1. Dari banyak spesies, pilih ikan buntal torafugu (tiger pufferfish), karena memiliki kandungan racun yang jauh lebih sedikit
  2. Buang seluruh kulitnya. Potong di sekitar mulut, lalu tarik kulitnya dari sana
  3. Cuci sampai benar-benar bersih pada setiap bagian setelah ikan dilapisi garam
  4. Buang bagian matanya
  5. Berhati-hatilah dengan pisau yang digunakan. Usahakan tidak memecahkan bagian hati dan ovarium, karena kandungan racun ikan buntal ada di sana. Jika dua bagian itu pecah, racun bisa menyebar ke dalam daging
  6. Potong fillet bagian tubuhnya tanpa menyentuh hati dan ovarium ikan buntal. Caranya yakni dengan memotong ke arah tulang
  7. Ikan bisa dimakan setelah direbus tanpa bagian hati dan ovariumnya

Nah, itulah ulasan tentang ikan buntal dan risiko keracunan yang bisa ditimbulkan. Jika tetap ingin makan ikan buntal, cari restoran yang mempunyai juru masak berlisensi untuk meminimalkan risiko keracunan, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. WebMD, diakses 25 Februari 2021, Wilderness: Pufferfish Poisoning.
  2. Johns Hopkins Medicine, diakses 25 Februari 2021, Fish Poisoning.
  3. Research Gate, diakses 25 Februari 2021, KARAKTERISASI DAN UJI TOKSISITAS IKAN BUNTAL DARI PERAIRAN PAMEUNGPEUK, JAWA BARAT.
  4. Institut Pertanian Bogor, diakses 25 Februari 2021, KANDUNGAN KIMIA, FITOKIMIA DAN TOKSISITAS IKAN BUNTAL PISANG DARI KABUPATEN CIREBON.
  5. Badan POM, diakses 25 Februari 2021, Bahaya Mengkonsusmsi Ikan Buntal
  6. The Guardian, diakses 25 Februari 2021, How to prepare the world’s deadliest dinner.

    register-docotr