Info Sehat

Frozen Food Bisa Turunkan Imunitas & Tidak Baik untuk Anak dan Lansia, Benarkah?

February 21, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Frozen food kerap menjadi penyelamat di kala tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak. Namun, masih ada sebagian orang yang memilih untuk menghindarinya dengan alasan kemungkinan adanya dampak pada penurunan imunitas.

Frozen food juga diyakini tidak baik jika dikonsumsi oleh anak-anak dan orang lanjut usia (lansia). Benarkah demikian? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Hidup Lebih Sehat dengan Pedoman Gizi Seimbang, Bagaimana Caranya?

Apa itu frozen food?

Frozen food adalah makanan yang telah melewati proses pembekuan dengan suhu di bawah -18 derajat Celcius. Proses pembekuan dilakukan agar makanan bisa bertahan lama namun tetap layak dikonsumsi.

Dikutip dari Centre for Food Safety, mengawetkan makanan dengan proses pembekuan dapat menghambat pertumbuhan mikroba, seperti bakteri, jamur, dan patogen. Adanya mikroba pada makanan bisa mempercepat pembusukan, sehingga tak aman lagi untuk dikonsumsi.

Daging adalah salah satu makanan yang sering dibekukan. Menurut Food and Drug Administration (FDA), dengan cara pembekuan yang benar, daging bisa bertahan dalam suhu beku hingga 12 bulan.

Meski dapat menghambat pertumbuhan mikroba, pembekuan yang terlalu lama bisa menurunkan kualitas organoleptik suatu makanan, misalnya tentang tekstur.

Benarkah frozen food bisa menurunkan imun?

Tak sedikit orang yang percaya bahwa frozen food dapat menurunkan sistem kekebalan, sehingga tubuh menjadi rentan terhadap penyakit. Frozen food diyakini dapat menurunkan imunitas karena adanya peningkatan natrium atau zat garam saat pembekuan berlangsung.

Menurut Jenna Braddock, nutrisionis bersertifikat asal Amerika Serikat, tidak ada peningkatan natrium pada makanan yang dibekukan. Kadar garam yang ada pada frozen food masih sama seperti saat belum dibekukan.

Alasan lain mengapa frozen food dianggap bisa menurunkan sistem imun adalah menurunnya kandungan vitamin C pada makanan yang dibekukan. Dikutip dari Verywell Fit, proses pembekuan memang bisa menurunkan kadar vitamin C pada makanan, tapi tidak dengan nutrisi lainnya.

Pembekuan tidak memengaruhi jumlah kalori, serat, protein, dan mineral penting. Sebagian besar nilai gizi makanan tetap ada dan terjaga. Harvard School of Public Health menjelaskan, sistem imun terbentuk atas banyak nutrisi, bukan hanya vitamin C.

Frozen food untuk anak dan lansia, boleh atau tidak?

Sebagian orang menganggap bahwa frozen food tidak baik bagi anak-anak dan lansia. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang melarang anak-anak dan lansia mengonsumsi frozen food.

Namun, FDA menyarankan agar makanan yang hendak dikonsumsi tidak dibekukan terlalu lama, yaitu hanya beberapa minggu saja. Termasuk pada anak-anak, menurut NHS UK, makanan beku harus dicairkan seluruhnya sebelum dimasak atau diolah menjadi menu yang diinginkan.

Cara mencairkan frozen food

Sebelum dimasak, kamu perlu mengetahui bagaimana cara yang benar mencairkan kembali makanan yang telah disimpan pada suhu rendah. Tanpa pencairan yang tepat, bakteri yang telah ada sebelum proses pembekuan bisa mulai berkembang biak.

Dikutip dari laman United States Department of Agriculture (USDA), ada tiga cara paling aman yang dapat kamu lakukan untuk mencairkan frozen food, yaitu:

1. Cairkan frozen food di kulkas

Kamu bisa mencairkan frozen food di kulkas (bukan freezer). Proses pencairan yang satu ini cocok dilakukan untuk makanan seperti daging, baik sapi maupun ayam.

Pencairan di dalam kulkas akan menjaga peningkatan suhu yang tidak terlalu ekstrem, sehingga bakteri tidak bisa langsung berkembang.

2. Rendam air dingin

Cara ini lebih cepat daripada proses pencairan di kulkas, namun harus ekstra hati-hati. Jaringan pada daging bisa menyerap rendaman air dingin sehingga mempercepat proses pencairan.

Rendam frozen food pada wadah atau plastik antibocor. Adanya kebocoran bisa membuat bakteri dari udara atau lingkungan sekitar masuk lalu mengontaminasi. Jika dicairkan semuanya, makanan harus segera dimasak.

3. Microwave

Cara pencairan yang terakhir adalah menggunakan oven atau microwave. Selain mempercepat pencairan, gelombang panas dari oven bisa segera membunuh bakteri yang mungkin telah ada sebelum makanan dibekukan.

Setelah mencair, segera masak dan olah makanan tersebut sampai benar-benar matang.

Nah, itulah ulasan tentang frozen food beserta beberapa fakta dari mitos yang masih dipercaya oleh sebagian orang. Selalu terapkan proses pencairan yang tepat agar bakteri tidak berkembang biak, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

 

Reference

  1. Centre for Food Safety, diakses 19 Februari 2021, Frozen Foods – Are They Safe?
  2. Verywell Fit, diakses 19 Februari 2021, How to Incorporate Frozen Foods Into a Healthy Diet.
  3. Harvard School of Publich Health, diakses 19 Februari 2021, Nutrition and Immunity.
  4. NHS UK, diakses 19 Februari 2021, Children’s food: safety and hygiene.
  5. Food and Drug Administration (FDA), diakses 19 Februari 2021, Refrigerator & Freezer Storage Chart.
  6. Food and Drug Administration (FDA), diakses 19 Februari 2021, For Older Adults and People with Cancer, Diabetes, HIV/AIDS, Organ Transplants, and Autoimmune Diseases.
  7. United States Department of Agriculture (USDA), diakses 19 Februari 2021, Safe Defrosting Methods for Consumers.
  8. Thehealthy.com, diakses 22 Februari 2021, 10 Myths About Frozen Food You Need to Stop Believing

    register-docotr