Info Sehat

Jangan Sepelekan Buang Air Kecil Tidak Tuntas, Ini 5 Faktor Penyebabnya!

February 15, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Buang air kecil tidak tuntas dapat disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari kondisi medis tertentu hingga infeksi. Kondisi ini harus mendapatkan penanganan yang tepat. Apakah ini berbahaya? Bagaimana cara mengatasinya?

Agar kamu lebih memahami mengenai kondisi ini, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Sering Nyeri saat Kencing? Yuk, Kenali Gejala Infeksi Saluran Kemih pada Wanita!

Mengenal tentang retensi urine

Buang air kecil tidak tuntas dapat disebabkan oleh suatu kondisi, yakni retensi urine. Retensi urine sendiri merupakan kondisi yang dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya, meskipun sudah penuh.

Hal tersebut bisa menyebabkan seseorang merasa selalu ingin buang air kecil. Kondisi ini bisa terjadi pada pria atau wanita. Namun seringnya terjadi pada pria, terutama seiring dengan pertambahan usia.

Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa kondisi 10 kali lebih umum memengaruhi pria dibandingkan wanita.

Apa gejala dari retensi urine?

Kandung kemih merupakan tempat penyimpanan urine. Urine terdiri dari limbah yang disaring dari darah oleh ginjal. Setelah disaring, urine kemudian bergerak menuju kandung kemih.

Di dalam kandung kemih, urine menunggu sampai tiba waktunya untuk bergerak melalui uretra, kemudian dikeluarkan oleh tubuh.

Gejala dari buang air kecil tidak tuntas dapat dibedakan menjadi dua tipe, yakni retensi urine akut dan kronis. Agar kamu lebih memahaminya, berikut adalah penjelasannya masing-masing.

1. Retensi urine akut

Retensi urine akut bisa menyebabkan seseorang merasa sangat ingin buang air kecil, tetapi tidak dapat buang air kecil sama sekali. Ini bisa menimbulkan rasa sakit dan rasa yang tidak nyaman pada perut bagian bawah.

2. Retensi urine kronis

Retensi urine kronis dapat terjadi dalam jangka waktu yang lama. Seseorang dapat buang air kecil, namun kandung kemih tidak benar-benar kosong atau buang air kecil tidak tuntas. Pada awalnya, kondisi ini bisa tidak menimbulkan gejala.

Apa penyebab buang air kecil tidak tuntas?

Berikut ini adalah beberapa penyebab buang air kecil tidak tuntas yang perlu diwaspadai.

1. Aliran urine terhalang

Apapun yang menghalangi aliran urine dari kandung kemih dapat menyebabkan retensi urine, baik akut maupun kronis. Adapun beberapa kondisi yang bisa menyebabkan aliran urine terhalang di antaranya adalah:

  • Striktur uretra
  • Terdapat massa atau kanker di panggul atau usus
  • Sembelit yang berlangsung parah
  • Pembekuan darah yang berasal dari perdarahan pada kandung kemih
  • Peradangan pada uretra

2. Obat-obatan tertentu

Terdapat beberapa obat yang membuat kandung kemih kurang mampu untuk mengeluarkan urine. Ini dapat menjadi penyebab lain dari buang air kecil tidak tuntas. Beberapa obat-obatan tersebut misalnya:

  • Antihistamin
  • Pseudoephedrine
  • Antipsikotik
  • Beberapa antidepresan
  • Obat pelemas otot (muscle relaxant)

3. Gangguan pada saraf

Agar kita dapat buang air kecil, sinyal dari otak harus bergerak melalui sumsum tulang belakang dan saraf di sekitarnya menuju kandung kemih dan otot sfingter. Apabila satu atau lebih dari sinyal saraf ini tidak berfungsi, maka berisiko bisa menyebabkan retensi urine.

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan gangguan saraf pada kandung kemih di antaranya:

  • Stroke
  • Diabetes
  • Cedera pada otak atau sumsum tulang belakang
  • Multiple sclerosis

4. Infeksi

Pada pria, infeksi pada prostat bisa menyebabkan pembengkakan. Ini dapat menyebabkan kelenjar prostat menekan uretra, sehingga bisa menghalangi aliran urine. Demikian seperti dikutip dari Cleveland Clinic.

Di sisi lain, infeksi saluran kemih (ISK) juga dapat menyebabkan pembengkakan uretra atau melemahnya kandung kemih. Kedua faktor tersebut bisa menyebabkan buang air kecil tidak tuntas.

5. Operasi

Tindakan bedah, terutama operasi penggantian sendi atau operasi pada tulang belakang, juga dapat menyebabkan buang air kecil tidak tuntas yang terjadi sementara.

Satu studi menunjukkan bahwa seseorang yang menjalani operasi penggantian sendi 1,5 kali lebih mungkin mengembangkan retensi urine dibandingkan dengan operasi lainnya. Tekanan darah tinggi atau diabetes juga dapat meningkatkan risiko tersebut.

Baca juga: Daftar Penyebab Kencing Berdarah: Mulai dari Kanker hingga Penyakit Ginjal

Apakah buang air kecil tidak tuntas berbahaya?

Perlu kamu tahu bahwa kondisi ini perlu diwaspadai. Berdasarkan Healthline, pada kasus retensi urine yang bersifat akut dapat terjadi secara tiba-tiba serta dapat mengancam jiwa. Ini harus mendapatkan penanganan medis dengan segera.

Tak hanya itu, retensi urine yang bersifat kronis jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan komplikasi. Sebaiknya, segeralah hubungi dokter jika kamu mengalami kondisi ini atau mengalami gejala lainnya, seperti:

  • Frekuensi buang air kecil meningkat, 8 kali atau lebih dalam sehari
  • Kesulitan ketika buang air kecil
  • Aliran urine lemah
  • Mengalami inkontinensia urine, atau perasaan kuat untuk buang air kecil dengan segera yang diikuti dengan ketidakmampuan untuk menahan diri dari buang air kecil
  • Ketidaknyamanan di panggul atau perut bagian bawah

Cara mengatasi buang air kecil tidak tuntas

Pengobatan pada kondisi ini disesuaikan dengan gejala yang berlangsung. Berikut ini adalah beberapa cara mengatasi retensi urine yang perlu diketahui:

1. Retensi urine akut

Retensi urine akut merupakan keadaan darurat medis, pemasangan kateter pada kandung kemih mungkin saja akan dilakukan untuk mengeluarkan urine. Mengosongkan kandung kemih akan membuat seseorang merasa lebih baik serta mencegah komplikasi.

Di sisi lain, dokter juga akan segera mengobati penyebab yang mendasari dari retensi urine.

2. Retensi urine kronis

Sedangkan, pengobatan pada kasus retensi urine yang bersifat kronis dapat meliputi:

Kateterisasi

Kateterisasi bertujuan untuk membantu mengeluarkan urine dari kandung kemih, kecuali penyebab retensi urine dapat segera ditangani.

Sistoskopi

Sistoskopi merupakan metode yang dilakukan untuk memeriksa kondisi kandung kemih dan saluran urine. Metode ini dapat membantu untuk mengeluarkan batu atau benda asing dari kandung kemih serta uretra.

Obat-obatan tertentu

Ada beberapa obat-obatan yang dapat membantu untuk menangani kondisi ini, seperti antibiotik atau obat-obatan lain untuk menangani infeksi saluran kemih, prostatitis, atau sistitis.

Tak hanya itu, obat-obatan yang dapat membuat otot sfingter uretra dan kelenjar prostat menjadi lebih rileks juga dapat membantu untuk menangani kondisi ini.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Cleveland Clinic (2021). Diakses pada 08 Februari 2021. Urinary Retention 

Healthline (2018). Diakses pada 08 Februari 2021. What Causes Urinary Retention and How Is It Treated? 

Ugare, U G, Ima-Abasi Bassey (2014). Management of Lower Urinary Retention in a Limited Resource Setting. NCBI (diakses pada 08 Februari 2021)

Sung, Ki Hyuk, Kyoung Min Lee (2015). What Are the Risk Factors Associated with Urinary Retention after Orthopaedic Surgery? (diakses pada 08 Februari 2021)

    register-docotr