Info Sehat

Bruce Willis Idap Penyakit Afasia, Apa Penyebab dan Gejalanya?

May 1, 2022 | Arianti Khairina | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Baru-baru ini diketahui bahwa Bruce Willis akan mundur dari dunia akting setelah didiagnosa menderita penyakit afasia (aphasia). Ini adalah sebuah penyakit yang memengaruhi area otak dan menghambat kemampuan kognitifnya. Namun, apa itu afasia, penyebab, dan gejala pada penderitanya?

Apa itu afasia?

Afasia adalah gangguan berkomunikasi yang membuat penderitanya sulit menggunakan kata-kata. Afasia dikarenakan adanya kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk memahami dan memproduksi bahasa. Sehingga penyakit ini memengaruhi kemampuan memahami bahasa, ucapan, bahkan tulisan. 

Sehingga mereka akan kesulitan memahami sebuah percakapan dan kata-kata tertulis. Selain itu, mereka juga jadi sulit menulis kata dan menggunakan angka. Orang yang menderita penyakit afasia bahkan dapat mengulang-ulang kata atau frasa.

Penyakit Afasia sendiri terjadi akibat adanya kerusakan atau cedera pada bagian otak. Penyakit ini lebih sering dialami oleh orang dewasa berusia tua, terutama bagi mereka yang mengalami stroke.

Penyebab penyakit afasia

Penyebab afasia yang paling umum terjadi yaitu: 

  • Stroke
  • Cedera kepala
  • Tumor otak
  • Kondisi neurologis progresif, menyebabkan otak dan sistem saraf menjadi rusak seiring waktu, seperti demensia.

Afasia sendiri dapat menyerang semua kalangan usia, tetapi paling sering terjadi pada orang yang berusia di atas 65 tahun. Ini karena stroke dan kondisi neurologis progresif cenderung menyerang orang dewasa yang sudah berusia tua. 

Gejala penyakit afasia

Gejala utama afasia, yaitu:

  • Kesulitan berbicara 
  • Kesulitan menemukan istilah atau kata yang tepat
  • Menggunakan kata-kata aneh ketika bercakap-cakap
  • Kesulitan memahami apa yang orang lain katakan 
  • Kesulitan mengekspresikan diri secara tertulis 
  • Berbicara dalam kalimat atau frasa pendek
  • Menggunakan kata-kata yang tidak dapat dipahami orang lain. 

Jenis-jenis penyakit afasia

Ada berbagai jenis afasia. Masing-masing dapat menyebabkan gangguan yang bervariasi dari gejala ringan hingga serius. Namun, berikut ini beberapa jenis afasia yang paling sering terjadi:

1. Afasia ekspresif 

Orang yang mengalami afasia ekspresif artinya mereka tahu apa yang ingin dikatakan, namun sulit mengkomunikasikannya dengan orang lain. 

2. Afasia reseptif

Orang yang mengalami afasia reseptif artinya mereka  dapat mendengar suara atau membaca tulisan, tetapi tidak memahami arti pesan tersebut. Seringkali, seseorang yang menderita afasia reseptif memahami bahasa secara harfiah. 

3. Afasia anomik

Orang yang mengalami afasia anomik artinya mereka kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk berkomunikasi baik saat akan berbicara atau menulis.

4. Afasia global

Ini adalah jenis afasia yang paling parah. Kondisi afasia global biasanya dialami oleh seseorang yang menderita stroke. Mereka akan kesulitan berbicara dan memahami kata-kata. Selain itu, penderitanya juga tidak dapat membaca atau menulis. 

5. Afasia progresif primer

Terakhir adalah afasia progresif primer yang termasuk dalam jenis langka. Kondisi ini akan mengakibatkan penderitanya kehilangan kemampuan berbicara, membaca, menulis, dan memahami apa yang mereka dengar dalam sebuah percakapan selama periode waktu tertentu.

Pengobatan untuk afasia

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi afasia harus berdasarkan pada beberapa hal terlebih dahulu seperti usia, penyebab cedera otaknya, jenis yang dideritanya, serta posisi dan ukuran lesi otak. 

Sebagai salah satu contoh adalah seseorang yang menderita afasia mungkin memiliki tumor otak sehingga akan memengaruhi kemampuan bahasanya. Maka, operasi adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengobati tumor otak serta membantu memperbaiki afasia.

Selanjutnya, orang yang menderita afasia dan mengalami stroke, maka cara terbaik untuk mengobatinya adalah melakukan sesi latihan bicara dengan ahlinya atau terapis. 

Terapi afasia ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dengan membantu mereka menggunakan ingatan bahasa yang tersisa, serta mempelajari cara berkomunikasi lainnya. Seperti gerak tubuh, gambar, atau penggunaan perangkat elektronik.

Terapi individu ini berfokus pada kebutuhan spesifik penderita, sementara terapi kelompok menawarkan kesempatan untuk menggunakan keterampilan komunikasi baru. 

Baca juga: Bahaya Karbon Monoksida: Bisa Sebabkan Kerusakan Otak hingga Kematian

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

Reference
  1. Reuters.com (2022) diakses pada 1 April 2022. Bruce Willis to retire from acting due to cognitive disease
  2. Webmd.com (2020) diakses pada 1 April 2022. Aphasia
  3. Webmd.com (2022) diakses pada 1 April 2022. Bruce Willis To Stop Acting After Aphasia Diagnosis
  4. Mayoclinic.org (2022) diakses pada 1 April 2022. Aphasia
  5. Nhs.uk (2021) diakses pada 1 April 2022. Aphasia
  6. Nidcd.nih.gov (2017) diakses pada 1 April 2022. Aphasia
    register-docotr