Info Sehat

Bayar ‘Hutang Tidur’ akibat WFH, Apakah Baik bagi Kesehatan?

September 17, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Bagi banyak orang, memiliki waktu tidur yang cukup adalah tantangan. Apalagi di saat pandemi, di mana mayoritas masyarakat melakukan work from home atau WFH.

Diakui atau tidak, cara kerja seperti ini dapat mengacaukan pola aktivitas sehari-hari. Misalnya saat harus mengorbankan waktu tidur di malam hari, karena sibuk mengerjakan urusan kantor.

Sebagian mencoba mengatasinya dengan membayar ‘hutang tidur’ di siang hari. Tapi apakah itu bisa berhasil membayar kekurangan waktu istirahat yang kamu alami? Atau jangan-jangan, ini malah dapat berdampak buruk bagi kesehatan?

Baca juga: Studi Terbaru: Kurang Tidur di Usia 50 tahun Meningkatkan Risiko Demensia

Apakah mengganti kekurangan waktu tidur efektif?

Dilansir dari Healthline, tidur adalah aktivitas restoratif yang bertujuan memberikan seseorang tenaga baru. Saat kamu tidur, otak akan membuat katalog informasi dan memutuskan apa yang penting untuk disimpan, dan apa yang bisa dibuang.

Di waktu yang sama, otak juga akan menciptakan jalur baru yang membantu kamu mengarahkan satu hari ke depan. Tidur juga menjadi momen di mana tubuh memperbaiki pembuluh darah serta jantung yang mengalami kerusakan.

Dengan melihat fungsi tidur yang begitu penting, muncul pertanyaan, apakah kekurangan tidur yang kamu alami bisa dibayar pada waktu yang lain?

Ternyata ketika kamu mencoba membayar ‘hutang tidur’, tubuh membutuhkan waktu ekstra untuk pulih. Sebuah studi pada 2016, menyebutkan bahwa dibutuhkan empat hari untuk pulih sepenuhnya dari satu jam tidur yang hilang.

Mengurangi waktu tidur akibat WFH

Pandemi membuat banyak perusahaan menerapkan WFH yang membuat jam kerja bisa dijalankan dengan lebih fleksibel.

Bagi sebagian orang, ini mungkin bisa meningkatkan produktivitas. Tapi ada juga yang malah kelimpungan dan akhirnya bekerja dengan waktu tidak teratur. Umumnya itu terjadi karena batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.

Kondisi tersebut membuat sebagian orang menukar waktu kerjanya di siang hari dengan bersosialisasi atau mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Alhasil, tugas kantor jadi dikerjakan di malam hari dengan mengurangi waktu tidur yang ada.

Apabila dibiarkan, hal ini memiliki dampak yang kurang baik bagi kesehatan, seperti yang disampaikan sebuah penelitian, di Jagiellonian University, Polandia.

Dampak kurang tidur bagi kesehatan

Jeremi Ochab, PhD, penulis utama dalam studi tersebut mengatakan bahwa pemulihan kurang tidur, khususnya yang terjadi selama berhari-hari, tidak akan berjalan dengan mudah.

Ketika kamu mengalami kurang tidur selama 10 hari, dan diikuti dengan periode pemulihan 7 hari. Tubuh memang telah cukup pulih, namun beberapa fungsi penting di dalamnya ternyata belum bisa bekerja dengan optimal.

Kurang tidur juga berdampak negatif pada kesehatan otak dan kemampuannya dalam memroses informasi. Studi menunjukkan, kemampuan tersebut baru bisa pulih sepenuhnya setelah kamu tidur cukup secara rutin dalam seminggu.

Para ahli juga telah mengaitkan kurang tidur dengan beberapa masalah kesehatan yang cukup berat, termasuk gangguan kardiometabolik seperti tekanan darah tinggi, sindrom metabolik, dan diabetes mellitus.

Selain itu, kurang tidur juga telah dikaitkan dengan masalah neurobehavioral seperti penyimpangan dalam perhatian, memori kerja yang melambat, kapasitas kognitif yang berkurang, dan suasana hati yang tertekan.

Tips agar bisa tidur dengan cukup

Ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu kamu tidur dengan cukup, misalnya:

1. Pastikan kamar tidur sejuk, gelap, nyaman, dan tenang

Suhu antara 18 hingga 20 ° C adalah yang paling kondusif untuk tidur. Pastikan pula bahwa kasur, bantal, dan seprai yang kamu pakai bersih dan nyaman untuk beristirahat.

2. Hindari kafein

Jangan mengonsumsi kafein dalam waktu 8 jam sebelum tidur, karena kafein dapat menunda jam biologis tubuh, yang pada akhirnya akan mengurangi waktu tidurmu.

3. Hindari melihat gadget 1 hingga 2 jam sebelum tidur

Cahaya pada layar handphone bisa menekan produksi hormon melatonin yang membantu kamu siap untuk tidur. Jadi usahakan untuk tidak bermain gawai sebelum masuk ke jam istirahat malammu.

Baca juga: Merokok Meningkatkan Risiko Penyakit Demensia, Bagaimana Faktanya?

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Journal Plos, diakses pada 17 September 2021

Healthline, diakses pada 17 September 2021

Everyday Health, diakses pada 17 September 2021

Healthline, diakses pada 17 September 2021

Liputan 6, diakses pada 17 September 2021

    register-docotr