Info Sehat

Penting! Segala Sesuatu Tentang Asma yang Wajib Kamu Tahu

May 14, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Asma menjadi salah satu penyakit yang akrab di masyarakat Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 1 dari 22 orang di Indonesia menderita asma.

World Health Organization (WHO) sendiri mencatat asma sebagai penyebab kematian terbesar ke-13 di Indonesia pada 2014 lalu. Di tahun yang sama, Indonesia menjadi negara ke-20 dengan kematian akibat asma terbesanya di dunia.

Sebagai penyakit yang menyerang sistem pernapasan, gejala utama asma adalah sesak napas. Tapi, tidak semua sesak napas itu adalah asma, lho.

Oleh karena itu, penting agar kamu kenal penyakit ini. Dirangkum dari berbagai sumber, inilah segala sesuatu tentang asma yang perlu kamu ketahui:

Asma sebagai penyakit kronis

Beberapa gejala dari asma yang wajib kamu ketahui. Foto: Freepik.com

Asma merupakan penyakit kronis yang menimpa saluran pernapasan kamu. Penyakit ini membuat saluran pernapasan bengkak dan sempit, membuatnya sulit untuk bernapas.

Pada saat terjadi serangan, saluran napas kamu akan membengkak, otot-otot di sekitarnya akan mengencang dan membuat udara menjadi sulit untuk masuk dan keluar paru-paru.

Batuk, mengi, napas yang menjadi pendek dan sesak di dada adalah gejala klasik penyakit ini. Beberapa asma yang berat bahkan bisa membuat kamu susah bergerak atau berbicara.

Jenis asma berdasarkan tipenya

Asma dapat terjadi dengan banyak cara dan alasan yang berbeda. Tapi pemicunya cendrung sama, contohnya polusi di udara, virus, terpapar alergen, bulu hewan peliharaan, jamur dan asap rokok.

Berikut ini adalah tipe-tipe umum penyakit ini:

Asma pada anak-anak

Asma merupakan kondisi kronis yang umum terjadi pada anak-anak. Penyakit ini bisa terjadi di usia berapapun, tapi lebih banyak terjadi di anak-anak daripada orang dewasa.

Dilansir American Lung Association, beberapa pemicu umum asma anak adalah:

  • Infeksi di saluran pernapasan dan pilek
  • Asap rokok
  • Alergen
  • Polusi udara, termasuk polusi ozon dn partikel baik di dalam maupun di luar ruangan
  • Terpapar udara dingin
  • Perubahan suhu yang tiba-tiba
  • Perasaan gembira yang meluap-luap
  • Stres
  • Olahraga

Sangat penting untuk segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami penyakit ini, karena bisa berujung pada kematian.

Dalam beberapa kasus, asma pada anak bisa berkembang seiring dengan anak tersebut mencapai usia dewasa. Untuk banyak orang, kondisi ini bahkan berlangsung seumur hidup.

Serangan pada orang dewasa

Berbeda dengan anak-anak, gejala asma pada orang dewasa dapat terjadi terus-menerus. Beberapa faktor risiko terjadinya penyakit ini pada orang dewasa yakni:

  • Penyakit saluran pernapasan
  • Alergi dan terpapar alergen
  • Faktor hormon
  • Obesitas
  • Stres
  • Merokok

Asma akibat kerja

Kondisi ini terjadi ketika kamu terpapar alergen atau benda-benda di tempat kerja yang membuat pernapasanmu terganggu.

Di tempat kerja berikut, alergi dapat menyebabkan penyakit pernapasan ini jika kamu sensitif atau memiliki alergi:

  • Pabrik roti, pabrik tepung, dan dapur
  • Rumah sakit dan tempat medis lainnya
  • Toko hewan, kebun binatang dan laboratorium dengan hewan di dalamnya
  • Peternakan atau lokasi pertanian lainnya

Sementara di beberapa tempat kerja berikut, benda-benda yang dapat mengganggu pernapasan dapat menghadirkan gejala penyakit ini antara lain:

  • Bengkel perbaikan mobil atau pabrik
  • Pabrik mesin atau pandai besi
  • Pekerjaan dengan kerajinan kayu
  • Salon kecantikan
  • Kolam renang indoor

Kondisi dan lokasi itu sangat berbahaya bagi kamu yang merokok, memiliki alergi rhinitis, atau memiliki riwayat alergi lingkungan.

Asma berat yang sulit dikontrol

Beberapa orang mengalami asma yang sulit dikontrol. Dalam hal ini, pengobatan yang dilakukan tidak menghasilkan respons yang baik. Bahkan dengan dosis pengobatan yang tinggi atau penggunaan inhaler yang tepat.

Asma musiman

Kondisi ini terjadi sebagai respons terhadap alergen yang ada di sekitar lingkungan pada waktu tertentu setiap tahunnya. Biasanya terjadi di negara 4 musim.

Di negara tersbut biasanya cuaca dingin musim salju dan serbuk sari yang memenuhi udara pada musim semi dan panas menjadi pemicu gejala penyakit ini.

Penyebab dan pemicu asma

Pakar kesehatan sampai saat ini belum tahu apa penyebab persis dari penyakit pernapasan ini. Meskipun demikian, gen dan faktor-faktor lingkungan diyakini menjadi pemicu utama.

Beberapa faktor, termasuk sensitivitas terhadap alergen, menjadi salah satu penyebab dan pemicunya pula.

Sementara faktor-faktor lainnya adalah sebagai berikut:

Kehamilan

Berdasarkan kajian yang dilakukan Department of Pediatrics and Adolescent Medicine Medical University of Vienna, Austria, ditemukan fakta jika merokok selama masa kehamilan meningkatkan risiko janin terkena asma.

Beberapa perempuan juga mengalami gangguan gejala penyakit pernapasan ini selama masa kehamilan.

Obesitas

Dalam sebuah studi yang dilakukan Department of Family Medicine, Carolina Healthcare System, Amerika Serikat, ditemukan adanya kemungkinan yang besar penyakit ini pada orang yang obesitas dibandingkan yang tidak.

Alergi

Kamu tentu tahu jika alergi terjadi saat tubuh kamu menjadi sensitif terhadap suatu senyawa. Saat sensitivitas itu terlalu dominan, maka kamu akan menjadi rentan mengeluarkan reaksi alergi setiap kali kamu kontak dengan senyawa tersebut.

Meskpun tidak semua orang dengan penyakit pernapasan ini memiliki alergi, tapi ada benang merahnya di sini.

Pada setiap orang yang memiliki penyakit alergi, paparan pada alergen akan memicu gejala asma.

Merokok

American Lung Association menyebutkan bahwa merokok dapat memicu gejala asma.

Maka dengan rokok, risiko kondisi penyakit seperti penyakit paru-paru yang merusak dapat meningkat dan ini dapat membuat gejala penyakit pernapasan ini makin berat.

Faktor lingkungan

Polusi udara baik di dalam ataupun di luar rumah dapat menyebabkan asma.

Beberapa alergen di dalam rumah antara lain:

  • Jamur
  • Debu
  • Rambut hewan peliharaan
  • Uap dari pekerjaan rumah dan cat
  • Kecoa

Beberapa pemicu di dalam dan luar rumah antara lain:

  • Serbuk sari
  • Polusi udara dari lalu lintas dan sumber lainnya
  • Level ozon terendah

Stres

Stres dapat meningkatkan gejala asma, begitupun dengan kondisi emosional lainnya. Senang, marah, kegembiraan, tertawa, menangis dan reaksi emosional lainnya dapat memicu serangan penyakit ini.

Peneliti di McMaster University, menemukan bukti yang memperkuat kemungkinan penyakit pernapasan ini terjadi pada orang-orang dengan kondisi kesehatan mental seperti depresi.

Faktor genetik

Ada bukti berdasarkan kajian yang dilakukan Department Dermatology, Bispebjerg Hospital, Denmark, jika asma terjadi di lingkungan keluarga.

Belum lama ini, ilmuwan berhasil memetakan sebuah perubahan genetik kemungkinan menjadi penyebab terjadinya hal ini.

Dalam beberapa kejadian, epigenetika menjadi salah satu penyebabnya. Ini terjadi saat adanya faktor lingkungan yang membuat gen menjadi berubah.

Faktor hormon

Sekitar 5,5% laki-laki dan 9,7% perempuan terkena asma. Selain itu, gejala yang terjadi bisa berbeda bergantung pada masa reproduksi perempuan dan kondisi siklus menstruasi mereka.

Sebagai contoh, selama masa reproduksi, dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya, gejala dapat menjadi lebih buruk selama menstruasi. Beberapa dokter menyebutnya sebagai asma perimenstrual.

Selain itu, selama masa menopause gejala penyakit ini juga dapat meningkat. Beberapa ilmuwan yakin jika aktivitas hormon dapat memengaruhi aktivitas imun, yang berujung pada sensitivitas tinggi di saluran pernapasan.

Kelas asma

Berdasarkan gejalanya, dokter akan mengidentifikasi asma yang kamu alami ke kelas berikut:

  • Asma ringan yang berjangka: gejala ringan terjadi kurang dari dua kali seminggu. Gejala pada malam hari kurang dari dua kali sebulan dan hanya sedikit serangan asma yang terjadi
  • Asma ringan yang terus-menerus: gejala terjadi tiga hingga enam kali seminggu. Gejala malam hari tiga hingga empat kali sebulan dan serangan asma yang terjadi dapat memengaruhi aktivitas
  • Asma sedang yang terus menerus: gejala tiga hingga enam kali seminggu. Gejala malam hari tiga hingga empat kali sebulan dan serangan asma yang terjadi dapat memengaruhi aktivitas
  • Asma berat yang terus menerus: kamu mengalami gejala tanpa henti saat siang ataupun malam hari. Saking seringnya, kamu jadi membatasi aktivitas

Diagnosis

Dokter akan menanyakan pada kamu gejala yang terjadi, riwayat medis kamu dan keluarga. Kamu juga akan menjalankan pemeriksaan fisik dan dokter akan melakukan serangkaian tes lain.

Saat dokter membuat diagnosis, dokter akan melihat apakah penyakit yang kamu derita termasuk asma ringan, berjangka, sedang atau berat. Dokter juga akan mengidentifikasi tipe dari penyakit pernapasan ini.

Beberapa tes pada paru-paru yang dapat dilakukan untuk diagnosis adalah:

  • Spirometri: merupakan sebuah metode simpel yang digunakan untuk mencatat dan mempelajari volume udara yang keluar dan masuk paru-paru.
  • Peak flow: metoda tes ini akan mengukur kemampuan menghambuskan napas yang bisa dilakukan paru-paru. Metode ini kurang akurat dibandingkan dengan spirometri.
  • Methacholine: tes yang biasanya dipakai pada orang dewasa. Ini dilakukan apabila gejala dan tes spirometri yang kamu lakukan tidak enunjukan diagnosis dari asma.
  • Tes mengembuskan nitirit oksida: sebuah mesin akan mengukur seberapa banyak nitrit oksida yang terkandung dalam napas kamu. Levelnya akan meninggi jika ada inflamasi di dalam saluran pernapasan.

Tes lain yang mungkin akan kamu terima adalah:

  • X-ray: meskipun ini bukanlah tes asma, tes ini bisa dipakai untuk melihat penyebab dari gejalanya
  • CT Scan: pemindaian di paru-paru dan sinus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah atau penyakit yang dapat menyebabkan masalah pernapasan
  • Tes alergi: tes terhadap darah dan kulit. Ini dilakukan untuk mengetahui alergi apa yang kamu derita
  • Tes dahak: untuk mengetahui kadar sel darah putih (eosinophils) yang keluar melalui batuk

Perawatan asma

Ada beberapa perwatan yang dapat kamu terima untuk meringankan gejala dari penyakit ini.

Biasanya dokter akan mengajak kamu untuk membuat rencana aksi asma, berupa rencana perawatan dan pengobatan, di antaranya:

Kortikosteroid isap

Pengobatan ini dilakukan untuk mengatasi penyakit ini dalam jangka panjang. Pengobatan ini akan mencegah dan meringankan pembengkakan di saluran pernapasan kamu, dan dia akan mengurangi produksi dahak di dalamnya.

Modifikasi leukotriene

Juga termasuk pengobatan jangka panjang. Pengobatan ini akan menahan laju produksi leukotriene, senyawa yang terdapat dalam tubuh yang memicu serangan asma.

Beta-agonist jangka panjang

Pengobatan ini akan menenangkan otot di sekitar saluran pernapasan kamu. Biasanya ini disebut dengan bronchodilator.

Kombinasi inhaler

Perangkat ini akan memberikan gabungan kortikosteroid isap dan beta-agonist jangka panjang untuk mengobati penyakit pernapasan kamu.

Theophylline

Pengobatan ini akan membuka saluran pernapasan kamu dan meringankan sesak di dada. Pengobatan ini pun dilakukan dalam jangka panjang.

Beta-agonist jangka pendek

Biasanya disebut dengan rescue inhaler. Pengobatan ini akan melonggarkan otot di sekitaran saluran pernapasan dan meringankan gejala seperti mengi, sesak di dada, batuk dan napas yang pendek.

Anticholinergic

Bronchodilator ini akan mencegah otot di sekitaran saluran pernapasan menyempit.

Kortikosteroid oral ataupun injeksi dan infus melalui intravena

Ini dilakukan bersamaan dengan rescue inhaler selama serangan asma. Ini akan meringankan pembengkakan dan inflamasi di saluran pernapasan.

Biologis

Untuk beberapa pengobatan asma yang tidak berhasil, kamu bisa mencoba pengobatan biologis.

Ada juga pengobatan biologis lain yang dirancang untuk menyetop sel imun menghasilkan senyawa yang dapat menyebabkan inflamasi.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Lifestyle.bisnis.com (2017) diakses 13 Mei 2020. https://lifestyle.bisnis.com/read/20171004/106/695602/1-dari-22-orang-indonesia-sakit-asma
  2. Ncbi.nlm.nih.gov (2016) diakses 13 Mei 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5034599/
  3. Ncbi.nlm.nih.gov (2014) diakses 13 Mei 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4230977/
  4. Lung.org (2020) diakses 13 Mei 2020. https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/asthma/asthma-symptoms-causes-risk-factors/smoking-with-asthma
  5. Lung.org (2020) diakses 13 Mei 2020. https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/asthma/learn-about-asthma/asthma-children-facts-sheet
  6. Ncbi.nlm.nih.gov (2008) diakses 13 Mei 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2869336/
  7. Ncbi.nlm.nih.gov (2015) diakses 13 Mei 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4629762/
  8. Webmd.com (2019) diakses 13 Mei 2020. https://www.webmd.com/asthma/what-is-asthma#1
  9. Medicalnewstoday.com (2020) diakses 13 Mei 2020. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323523
    register-docotr