Covid-19

WHO Rekomendasikan Vaksin J&J untuk Varian Baru COVID-19, Seberapa Efektif?

March 19, 2021 | Richaldo Hariandja | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan vaksin Johnson & Johnson untuk digunakan di negara dengan varian baru virus COVID-19.

Rekomendasi ini dikeluarkan lantaran vaksin J&J dianggap efektif terhadap varian virus COVID-19. Dengan demikian, vaksin J&J ini menyusul vaksin Pfizer dan Astrazeneca yang sebelumnya sudah mendapat restu WHO.

Baca Juga: Benarkah Wanita Merasakan Efek Samping Lebih Kuat Setelah Disuntik Vaksin COVID-19?

Tentang vaksin J&J

Vaksin J&J diproduksi oleh perusahan farmasi Janssen asal Belgia. Yang unik dari vaksin ini adalah kamu hanya perlu menerima satu suntikan, tidak seperti jenis vaksin lainnya yang memerlukan dua kali suntikan agar proteksi vaksin efektif.

Berdasarkan keterangan dalam laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin ini aman untuk digunakan oleh orang dewasa berusia 18 tahun ke atas. CDC menyebut Vaksin J&J memiliki efikasi sebesar 66,3 persen.

Rekomendasi WHO

Rekomendasi WHO agar vaksin J&J digunakan di negara dengan penyebaran varian baru virus COVID-19 ini dikeluarkan setelah SAGE melakukan rapat pada Senin (16/03). Sebelumnya, pemakaian vaksin J&J untuk darurat dikeluarkan WHO, Jumat (12/03). 

“Kami merekomendasikan agar vaksin ini digunakan di negara dengan penyebaran tinggi varian COVID-19 dan juga di negara yang sedang menggunakan vaksin ini untuk mengontrol Sars-CoV-2,” ucap kepala SAGE, Alejandro Cravioto.

Lebih jauh, SAGE menyebut satu dosis vaksin J&J memiliki 66 persen efikasi terhadap infeksi dengan gejala, 76,7 persen efikasi terhadap infeksi COVID-19 yang parah setelah 14 hari dan 85,4 persen efikasi setelah hari ke-28.

“Efikasi vaksin terhadap pasien COVID-19 yang rawat inap bisa mencapai 93,1 persen,” terang SAGE.

Bukan senjata utama, hanya tambahan

Meskipun direkomendasikan untuk negara dengan varian baru COVID-19, WHO tidak memandang kalau vaksin J&J sebagai senjata utama yang paling diandalkan.

Dr. Annelies WIlder-SMith, technical adviser dari Sekretariat SAGE justru menyebut vaksin J&J sebagai senjata tambahan.

Itu berarti, vaksin yang sebelumnya sudah ada dan disetujui oleh WHO sama efektifnya dan diperlengkapi dengan vaksin J&J.

Negara mana saja yang sudah pesan vaksin J&J?

Berikut negara-negara yang sudah memesan vaksin J&J:

  • Inggris: 30 juta dosis
  • Uni Eropa: 200 juta dosis
  • Kanada: 38 juta dosis

Selain itu, 500 juta dosis vaksin J&J juga sudah dipesan dengan skema Covax untuk disalurkan ke berbagai negara miskin.

Bagaimana proses kerja vaksin J&J?

Vaksin ini menggunakan virus flu biasa yang telah direkayasa sedemikian rupa sehingga tidak lagi berbahaya bagi manusia.

Ketika disuntikkan, vaksin akan membawa sebagian dari kode genetik virus corona ke dalam tubuh. Hal ini terjadi untuk membantu tubuh mengenal ancaman dan belajar melawan virus COVID-19.

Dengan demikian, kekebalan tubuh untuk melawan virus COVID-19 sudah terlatih sehingga tidak kewalahan ketika kelak bertemu virus yang sebetulnya.

Baca Juga: Mengenal Varian Baru Mutasi Virus Corona N439K, Ini Fakta Lengkapnya!

Apakah ada efek samping vaksin J&J?

Situs kesehatan Healthline menyebut sejauh ini efek samping vaksin J&J yang tercatat hanya berupa reaksi alergi saja. Jumlahnya pun lebih kecil dibandingkan dengan vaksin Moderna dan Pfizer.

Selain itu, beberapa keluhan yang tercatat seputar vaksin ini adalah sebagai berikut:

Munculnya bekas luka suntikan

Berdasarkan data dari uji klinis vaksin J&J, disebutkan kalau sekitar setengah orang yang menerima vaksin mengalami reaksi di lokasi penyuntikan. 

Rasa nyeri yang muncul di lokasi penyuntikan menjadi keluhan yang paling umum dilaporkan. Terjadi di hampir semua kasus.

Efek samping lokal ini terjadi sekitar 2 hari setelah vaksinasi. Nyeri dan kemerahan yang timbul berlangsung rata-rata 2 hari dan bengkak terjadi rata-rata 3 hari.

Sakit kepala dan sensasi flu

Efek samping sistemik terjadi di 55 persen orang yang menerima vaksin J&J. yang paling umum dilaporkan adalah munculnya rasa sakit kepala, letih dan nyeri otot. Pada sebagian orang, timbul sensasi mula-mual dan demam.

Keluhan ini terjadi 2 hari setelah vaksinasi. Rasa letih, sakit kepala dan sakit otot berlangsung rata-rata selama 2 hari. Sementara yang merasakan mual dan demam hanya berlangsung 1 hari.

Demikianlah berbagai penjelasan tentang vaksin J&J dan rekomendasi yang diberikan oleh WHO untuk penggunaannya di negara dengan varian baru COVID-19. Selalu jaga kondisi kesehatan kamu, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr