Covid-19

Wanita yang Pernah Hamil Tidak Bisa Donor Plasma Konvalesen, Apa Alasannya?

July 6, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Terapi donor plasma konvalesen oleh penyintas COVID-19 diketahui dapat membantu penyembuhan pasien yang sedang terinfeksi virus corona.

Ketua DPD RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti, bahkan mengimbau masyarakat yang telah sembuh dari COVID-19 untuk donor plasma darah konvalesen, terutama pada pasien yang sedang kritis.

Namun tak semua penyintas COVID-19 bisa mendonorkan plasma konvalesen. Salah satunya yaitu wanita yang pernah hamil.

Baca juga: Apakah Memakai Masker di Dalam Rumah Efektif Cegah COVID-19?

Apa itu donor plasma konvalesen?

Dilansir Covid19.go.id, terapi plasma konvalesen dilakukan dengan memberikan plasma. Ini adalah bagian darah yang mengandung antibodi dari orang-orang yang telah sembuh dari COVID-19, kepada pasien COVID-19 yang sedang dirawat.

Pada prosesnya, darah yang disumbangkan akan diproses untuk menghilangkan sel darah, sampai hanya meninggalkan cairan (plasma) dan antibodi.

Inilah yang kemudian dapat diberikan kepada pasien COVID-19 untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya saat melawan virus.

Dilansir Mayo Clinic, terapi plasma dapat digunakan untuk penderita COVID-19 yang masih di masa awal penyakit mereka, atau yang memiliki gangguan sistem kekebalan.

Risiko terapi plasma konvalesen

Risiko tertular COVID-19 dari plasma konvalesen belum diuji. Tetapi para peneliti percaya bahwa risikonya rendah, karena donor telah sepenuhnya pulih dari infeksi. Adapun terapi plasma konvalesen memiliki beberapa risiko, seperti:

  1. Reaksi alergi
  2. Kerusakan paru-paru dan kesulitan bernapas
  3. Infeksi seperti HIV, hepatitis B dan C

Meski begitu risiko infeksi semacam itu rendah, karena darah yang disumbangkan harus telah diuji keamanannya. Beberapa orang mungkin mengalami komplikasi ringan atau tidak sama sekali. Orang lain mungkin mengalami komplikasi yang parah atau mengancam jiwa.

Syarat pendonor plasma konvalesen

Saat dokter memutuskan untuk melakukan terapi ini, dokter akan memesan plasma konvalesen yang sesuai dengan golongan darah dari bank darah di sekitar tempat pasien dirawat.

Plasma konvalesen yang diberikan hanya berasal dari para penyintas COVID-19 yang telah memenuhi beberapa kriteria berikut:

  1. Berusia 18-60 tahun
  2. Berat badan ≥ 55 kg
  3. Diutamakan pria, apabila wanita maka hanya yang belum pernah hamil
  4. Pernah terkonfirmasi COVID-19 dengan surat keterangan sembuh dari dokter yang merawat
  5. Bebas keluhan minimal 14 hari
  6. Tidak menerima transfusi darah selama 6 bulan terakhir
  7. Lebih diutamakan yang pernah mendonorkan darah

Baca juga: COVID-19 Munculkan Varian Baru, Efektifkah Vaksin saat Ini?

Mengapa wanita hamil tidak bisa mendonorkan plasma?

Terdapat beberapa kondisi tertentu tentang siapa yang bisa dan tidak bisa mendonorkan plasmanya meski telah sembuh dari infeksi virus corona. Salah satu kategori yang tidak bisa adalah wanita yang pernah hamil.

Mengapa demikian? Dikutip dari jurnal yang diterbitkan di Karger, para ahli mengatakan bahwa wanita yang pernah hamil, selama masa kehamilan mereka telah mengembangkan antibodi yang disebut human leucocyte antigen (HLA).

Dalam keadaan tertentu, antibodi tersebut dapat memicu granulosit pasien untuk melepaskan mediator yang menyebabkan transfusion-associated lung injury (TRALI). Ini merupakan semacam kondisi cedera pada paru-paru, yang merupakan komplikasi serius dari transfusi.

Antibodi HLA juga dapat menghancurkan trombosit yang tidak kompatibel dan menyebabkan refrakter terhadap transfusi trombosit.

Ini sangat rentan menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih serius seperti sepsis atau peradangan ekstrem, yang berpotensi mengancam nyawa.

Fakta lain tentang HLA dan COVID-19

Semakin besar jumlah kehamilan yang berhasil dimiliki seorang wanita, semakin besar pula jumlah HLA yang dikembangkan. Setelah dikembangkan, mereka berada dalam darah selamanya.

Jadi meskipun antibodi HLA tidak berbahaya bagi tubuh orang yang memproduksinya, namun jika ditransfusikan ke orang lain dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

Karena pasien COVID-19 yang membutuhkan transfusi plasma biasanya paru-parunya dilemahkan oleh virus, maka transfusi plasma seorang wanita yang pernah hamil dalam hidupnya bisa berakibat fatal.

Jika kamu pernah terinfeksi COVID-19 dan memenuhi syarat-syarat untuk menjadi donor plasma konvalesen, jangan lupa untuk mendaftarkan diri di laman ini.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Karger.com diakses pada 5 Juli 2021

Plasmakonvalesen.covid19.go.id diakses pada 5 Juli 2021

Mayo Clinic diakses pada 5 Juli 2021

Covid19.go.id diakses pada 5 Juli 2021

Times of India diakses pada 5 Juli 2021

Okezone.com diakses pada 5 Juli 2021

    register-docotr