Covid-19

Vaksin COVID-19 di Inggris Sebabkan Reaksi Alergi, Ini Penjelasan Para Ahli

December 12, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Badan pengatur produk obat Inggris, The Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), mengungkapkan adanya reaksi alergi yang terjadi pada dua petugas layanan kesehatan yang menerima vaksin COVID-19 Pfizer BioNTech.

Karena adanya kejadian tersebut, otoritas kesehatan Inggris tersebut memberikan peringatan untuk pemberian vaksin kepada mereka yang pernah punya riwayat alergi. 

Baca Juga: Kenali Delirium, Gejala Baru COVID-19

Vaksin COVID-19 Pfizer menyebabkan reaksi alergi

Dilansir dari Medscape.com, pihak otoritas kesehatan Inggris tersebut juga menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan informasi lebih lanjut secepatnya, jika diperlukan. Pihak Pfizer sendiri menyatakan telah mendapat informasi tersebut dari MHRA.

Karena itu, sebagai langkah pencegahan, MHRA mengeluarkan arahan sementara untuk melakukan penyelidikan terkait dua reaksi alergi yang terjadi. “Pfizer dan BioNTech mendukung MHRA dalam penyelidikan tersebut,” ungkap perwakilan Pfizer, seperti dilansir dari BMJ

Sementara penyelidikan dilakukan, informasi yang dikeluarkan Pfizer adalah vaksin COVID-19 tersebut tidak boleh diberikan kepada orang yang memiliki alergi terhadap zat aktif atau bahan lain yang ada di vaksin tersebut. 

Hasil pemantauan sementara

Vaksin Pfizer tersebut telah disetujui penggunaannya di Inggris dan Kanada. Diutamakan untuk petugas kesehatan dan para lansia yang berusia di atas 80 tahun. Pada percobaan fase III, diketahui 95 persen efektif 28 hari setelah dosis pertama. Namun data tersebut belum dipublikasikan. 

Meski hasilnya menjanjikan, reaksi alergi memang mungkin saja terjadi. Sementara itu, reaksi cepat tanggap yang dilakukan oleh MHRA dianggap sebagai salah satu bukti sistem pemantauan berjalan dengan baik. 

Bagaimana pemantauan berikutnya? 

Untuk mengetahui reaksi lainnya dari pemberian vaksin, otoritas kesehatan Inggris meminta semua yang mendapatkan vaksin untuk melaporkan kondisi setelah pemberian vaksin. Laporan dapat disampaikan melalui situs Yellow Card, yang dibuat khusus untuk perkembangan vaksin COVID-19. 

Apa kata para ahli mengenai kejadian ini? 

Dilansir dari BMJ, Peter Openshaw, profesor kedokteran eksperimental di Imperial College London mengatakan, bahwa kemungkinan reaksi alergi memang bisa terjadi. Sama halnya dengan semua makanan dan obat-obatan. 

“Serupa dengan peluncuran semua vaksin dan obat-obatan baru, vaksin COVID-19 baru ini juga masih dalam pemantauan ketat oleh MHRA,” ujar Peter Openshaw. 

MHRA sedang mencari tahu apakah reaksi alergi tersebut memang terkait pemberian vaksin, atau hanya kebetulan terjadi setelah pemberian vaksin. Namun masih dibutuhkan waktu untuk memberikan informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut. 

Sementara Penny Ward, profesor tamu di bidang kedokteran farmasi di King’s College, London mengatakan reaksi alergi yang terjadi pada petugas kesehatan adalah hal yang dapat dimengerti.

Karena keduanya memiliki riwayat alergi yang cukup parah, sehingga perlu membawa autoinjector adrenalin (alat bantu darurat pada reaksi alergi). Orang-orang seperti itu memang risiko tinggi terhadap reaksi alergi. Ini tantangan baru pada pengobatan COVID-19 berikutnya. 

Untungnya, meski sempat mengalami reaksi alergi, kedua petugas kesehatan tersebut dikabarkan sudah kembali pulih. 

Apakah pemberian vaksin selanjutnya tetap dilakukan?

Pemberian vaksin masih tetap dilakukan. Dari uji klinis fase ketiga, telah melibatkan lebih dari 44.000 peserta dan lebih dari 42.000 di antaranya telah menerima vaksinasi kedua.

Stephen Evans, profesor farmakoepidemiologi di London School of Hygiene & Tropical Medicine menambahkan, bahwa masyarakat umum tidak perlu cemas dengan kabar ini. Bahwa memang ada kandungan yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada seseorang.

“Untuk populasi umum ini tidak perlu dikhawatirkan saat menerima vaksin. Orang perlu mengingat bahwa makanan seperti Marmite pun (sejenis makanan fermentasi) dapat menyebabkan reaksi alergi parah yang tidak terduga,” ujarnya.

Dengan adanya larangan penerimaan vaksin pada mereka yang memiliki riwayat alergi, setidaknya kejadian reaksi alergi bisa dikendalikan hingga penyelidikan yang dilakukan MHRA membuahkan hasil. 

Baca Juga: Vaksin COVID-19 Sinovac Sudah Tiba, Bagaimana Prosedur Mendapatkannya?

Vaksin COVID-19 di Indonesia

Jika di Inggris telah memulai pemberian vaksin Pfizer, di Indonesia baru saja kedatangan 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac tahap pertama. Pemberian vaksin tersebut baru akan diberikan setelah mendapat izin penggunaan dari Badan POM. 

Sementara pemberian vaksin masih menunggu untuk dilakukan, jumlah angka positif COVID-19 di Indonesia, masih terus bertambah. Per 11 Desember 2020, diketahui ada 605.243 pasien positif, 496.886 dinyatakan sembuh dan 18.511 meninggal dunia. 

Demikian informasi mengenai larangan pemberian vaksin Pfizer pada orang-orang dengan riwayat alergi yang terjadi di Inggris dan sedikit kabar terbaru tentang vaksin COVID-19 di Indonesia. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr