Covid-19

Terjangkit COVID-19 setelah Sembuh, Apa Beda Reinfeksi dan Repositif?

July 15, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Orang yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 bisa saja terkena penyakit yang sama di kemudian hari. Hal itu bisa disebut sebagai reinfeksi atau repositif. Tapi, ada perbedaan mendasar di antara keduanya.

Lantas, apa itu reinfeksi dan repositif dalam kasus COVID-19? Mengapa bisa terjadi? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Mengenal reinfeksi dan repositif

Menurut penjelasan dr. Yoga Fitria Kusuma, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam, reinfeksi adalah kondisi saat seseorang terjangkit penyakit yang sama setelah sebelumnya pernah dinyatakan sembuh. Dalam kasus ini, penyakit yang dimaksud adalah COVID-19.

Namun, virus yang membuat seseorang mengalami reinfeksi biasanya mempunyai struktur berbeda dengan virus pada infeksi sebelumnya. Secara definisi, ini berbeda dengan orang yang mengalami repositif.

Untuk kasus repositif, atau yang juga disebut dengan reaktivasi, merupakan kondisi ketika virus Corona yang masih tersisa di dalam tubuh menginfeksi orang yang sama. Artinya, infeksi disebabkan oleh virus dengan struktur yang sama.

Baca juga: Panduan Isolasi Mandiri COVID-19

Bagaimana cara mengetahuinya?

Bukan perkara mudah untuk menentukan apakah seseorang mengalami reinfeksi atau repositif. Dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui hal tersebut. Untuk membedakan antara reinfeksi dan repositif, harus dilakukan pengambilan sampel.

Tujuannya, mengurutkan genome atau informasi genetik dari virus SARS-CoV-2. Meski begitu, baik reinfeksi maupun repositif, penanganan atau perawatan terhadap pasien tetap sama seperti pertama kali didiagnosis mengidap COVID-19.

Mana yang lebih sering terjadi?

Masih menurut dr. Yoga, sebuah penelitian di Nuffield Department of Medicine di University of Oxford menemukan banyaknya kasus reinfeksi COVID-19 yang kemungkinan merupakan repositif. Ini karena virus Corona dapat menimbulkan infeksi dalam rentang waktu cukup lama.

Selain itu, struktur genetik dari virus juga mampu bertahan di dalam tubuh. Virus tersebut tidak bisa terdeteksi dalam tes, lalu berisiko untuk menyerang sekali lagi hingga menimbulkan penyakit yang sama.

Meski, sebenarnya, reinfeksi COVID-19 adalah kasus yang jarang terjadi. Menurut studi baru-baru ini oleh sejumlah peneliti asal Statens Serum Institute di Denmark, orang yang pernah terinfeksi virus Corona mendapat perlindungan 80 persen dari risiko infeksi kedua.

Artinya, infeksi berulang pada orang yang sama disebabkan oleh genetik virus yang masih tersisa di dalam tubuh, bukan dari strain lain dengan struktur yang berbeda.

Kelompok yang rentan reinfeksi

Masih dari penelitian yang sama, meski angkanya cukup rendah, reinfeksi bisa saja terjadi pada siapa pun yang pernah mengidap COVID-19. Dari banyaknya penyintas COVID-19 di gelombang pertama, sekitar 0,65 persen di antaranya mengidap penyakit serupa pada gelombang kedua.

Orang-orang yang mempunyai komorbid atau penyakit penyerta lebih rentan mengalami reinfeksi. Meski tubuh sudah mengembangkan kekebalan, seseorang masih mungkin untuk terinfeksi kembali. Ini karena virus pemicunya bisa bermutasi dan membentuk varian baru.

Selain komorbid, orang lanjut usia atau lansia juga masuk dalam kategori yang rentan mengalami reinfeksi. Steen Ethelberg, peneliti senior yang terlibat dalam studi, menjelaskan, perlindungan dari sistem kekebalan yang terbentuk setelah infeksi pertama pada lansia bisa 50 persen lebih rendah.

Dengan begitu, meski telah dinyatakan sembuh dari infeksi pertama, orang dengan komorbid dan lansia harus tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sebab, terbentuknya sistem kekebalan setelah infeksi pertama tidak bisa memberi perlindungan hingga 100 persen.

Gejala reinfeksi

Sebenarnya, hingga kini, belum diketahui secara jelas tentang gejala yang dirasakan oleh orang-orang yang mengalami reinfeksi. Hanya saja, jika pada infeksi pertama tidak merasakan gejala, infeksi kedua bisa saja memunculkan tanda-tanda klinis yang lebih serius.

Menurut penjelasan dr. Umit Savasci, ahli penyakit menular dan mikrobiologi klinis di Turki, gejala klinis lebih intens di paru-paru bisa terjadi pada pasien yang telah sembuh dari infeksi pertama lalu terjangkit kembali.

Nah, itulah ulasan tentang reinfeksi dan repositif terkait COVID-19 yang bisa terjadi pada pasien yang sebelumnya pernah dinyatakan sembuh dari penyakit yang sama. Untuk meminimalkan risikonya, tetap patuhi protokol kesehatan di mana pun kamu berada, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr