Covid-19

Studi Terbaru: COVID-19 Sebabkan Perubahan pada Jaringan Otak

June 23, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Bagaimana virus COVID-19 memengaruhi otak manusia? Studi terbaru telah memberi sedikit petunjuk mengenai hal ini.

Dilansir dari Reuters, sekelompok peneliti telah menemukan bahwa virus corona dapat menyebabkan hilangnya jaringan otak, dan itu akan memiliki beberapa konsekuensi jangka panjang.

Ketahui lebih lanjut mengenai hal tersebut lewat ulasan di bawah ini.

Baca juga: COVID-19 Munculkan Varian Baru, Efektifkah Vaksin saat Ini?

COVID-19 dan kaitannya dengan otak

Infeksi virus corona telah terbukti memiliki efek merugikan pada fungsi otak. Ini termasuk “brain fog“, kejang, depresi, kehilangan indera penciuman (anosmia), perubahan indera perasa (dysgeusia), gangguan pendengaran, dan kerusakan saraf permanen akibat stroke.

Studi di Universitas Oxford and Imperial College, London, adalah yang pertama mendokumentasikan hal tersebut. Melibatkan 782 sukarelawan dari studi Biobank Inggris, diketahui bahwa bahkan kasus COVID-19 yang ringan terbukti dapat menyebabkan hilangnya jaringan otak.

UK Biobank sendiri adalah database biomedis besar yang memiliki lebih dari 500.000 peserta sukarelawan. Semua anggota yang terdaftar di situ memberikan informasi penelitian jangka panjang yang berharga untuk berbagai fokus penelitian.

UK Biobank mulai mengumpulkan informasi dari lebih dari 100.000 peserta pada tahun 2014, termasuk hasil pemindaian otak MRI, perut, dan jantung. Data itu berperan membantu menyelidiki dampak genetika maupun gaya hidup pada kesehatan dari waktu ke waktu.

Baca juga: Apa Hubungan antara Mendengkur dan Infeksi COVID-19? Ini Penjelasannya!

Studi dampak virus COVID-19 terhadap fungsi otak

Studi menggunakan data dari 782 peserta di mana 394 di antaranya telah dinyatakan positif COVID-19 antara Maret 2020 dan April 2021. Sebagian besar diketahui hanya memiliki gejala ringan hingga sedang, atau tidak ada gejala sama sekali, sementara 15 dirawat di rumah sakit.

Selanjutnya, para ahli melakukan pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) otak sekelompok besar pasien baik sebelum dan setelah infeksi COVID-19.

Hasil scan MRI tersebut dibandingkan dengan hasil pemindaian sekelompok individu (388 orang) tanpa riwayat infeksi COVID-19 sama sekali.

Kedua kelompok dicocokkan untuk usia, jenis kelamin, etnis dan faktor metabolisme dasar termasuk tekanan darah dan indeks massa tubuh (BMI). Faktor terakhir dianggap sebagai indikator obesitas, di mana itu merupakan faktor risiko keparahan gejala COVID-19.

Hasil penelitian

Para peneliti menemukan bahwa di antara para penyintas COVID-19, terdapat kehilangan materi abu-abu “signifikan” di daerah otak yang terkait dengan penciuman dan pengecapan. Ini dikenal dengan nama gyrus parahippocampal kiri, korteks orbitofrontal kiri, dan insula kiri.

Beberapa daerah otak yang terkena juga terlibat dalam memori pengalaman yang membangkitkan reaksi emosional. Adapun perubahan tadi tidak terlihat pada kelompok yang belum terinfeksi.

Para penulis mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah penyintas COVID-19 akan memiliki masalah dalam jangka panjang dengan kemampuan mereka untuk mengingat peristiwa yang membangkitkan emosi atau tidak.

Mereka juga belum tahu apakah hilangnya materi abu-abu adalah akibat dari virus yang menyebar ke otak, atau efek lain dari penyakit tersebut.

Studi lain tentang hal ini

Dilansir dari Medical News Today, Dr. de Erausquin bersama rekannya melakukan sebuah penelitian dengan ide dasar bahwa beberapa virus pernapasan memiliki ketertarikan terhadap sel sistem saraf.

Erausquin lalu menambahkan bahwa sel penciuman sangat rentan terhadap invasi virus dan secara khusus ditargetkan oleh SARS-CoV-2. Itulah sebabnya salah satu gejala utama COVID-19 adalah kehilangan penciuman.

Sel-sel penciuman terkonsentrasi di hidung. Melalui mereka, virus mencapai bola penciuman di otak, yang terletak di dekat hipokampus, atau area otak yang terlibat dalam memori jangka pendek.

Jejak virus ketika menyerang otak, hampir mengarah langsung ke hipokampus dan diyakini menjadi salah satu sumber gangguan kognitif yang diamati pada pasien COVID-19 dari waktu ke waktu.

Tahun 2022, penulis berencana untuk meneliti lebih banyak tentang bagaimana COVID-19 meningkatkan risiko, keparahan, dan perkembangan kondisi neurodegeneratif, seperti Alzheimer, atau depresi.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Reuters diakses pada 22 Juni 2021

Forbes diakses pada 22 Juni 2021

Medical News Today diakses pada 22 Juni 2021

    register-docotr