Covid-19

Studi Terbaru: Antibodi COVID-19 Bisa Bertahan hingga 6 Bulan

February 8, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Antibodi adalah zat yang dibutuhkan tubuh untuk melawan berbagai infeksi, termasuk terhadap COVID-19. Belakangan ini, ada satu temuan yang mengungkapkan bahwa antibodi pada penyintas COVID-19 bisa bertahan hingga enam bulan.

Lantas, bagaimana antibodi tersebut terbentuk di dalam tubuh? Apakah itu artinya antibodi bisa berperan dalam menekan dan mengurangi angka penularan COVID-19 di masyarakat? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Sekilas tentang COVID-19

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2, salah satu jenis dari virus Corona. COVID-19 yang merupakan kependekan dari Coronavirus Disease 2019 merupakan penyakit yang menyerang dan memengaruhi saluran pernapasan, terutama paru-paru.

Penyakit ini sangat menular, karena virus pemicunya bisa menyebar ke udara. Transmisi dari orang ke orang membuat kasus COVID-19 terus meningkat. Pada kasus yang parah, seseorang bisa mengalami berbagai komplikasi serius yang dapat membahayakan nyawa.

Badan Kesehatan Dunia, WHO menjelaskan, Corona merupakan virus yang bersifat zoonosis. Artinya, virus tersebut pertama kali berkembang pada hewan sebelum ditularkan ke manusia.

Begitu virus berada di dalam tubuh manusia, SARS-CoV-2 bisa menyebar ke orang lain melalui percikan air liur (droplet) ketika bersin, berbicara, atau batuk.

Bagaimana antibodi COVID-19 terbentuk?

Antibodi adalah protein khusus berbentuk Y yang bertugas mengikat dan mengunci zat asing yang masuk ke dalam tubuh, baik itu virus, bakteri, jamur, maupun parasit. Antibodi bekerja dengan mencari, mengenali, dan menghancurkan zat asing tersebut.

Protein khusus itu dihasilkan oleh sistem imun yang telah mendapat rangsangan, baik itu dari sebuah penyakit atau vaksin. Dua lengan di bagian atas berbentuk Y pada antibodi mengikat apa yang disebut dengan antigen, yaitu molekul atau fragmen yang merupakan bagian dari virus atau bakteri.

Pada virus SARS-CoV-2, antibodi bekerja dengan mengunci lapisan luarnya lebih dulu, kemudian menghancurkannya. Sayangnya, virus pemicu COVID-19 tersebut bisa berkembang dengan sangat cepat di dalam tubuh. Sehingga, antibodi harus segera terbentuk untuk melawannya.

Tak hanya pada orang yang sudah terinfeksi, antibodi juga bisa terbentuk sebelum kamu terjangkit virus Corona, yaitu dengan vaksin. Vaksin yang berisi strain virus yang sama (nonaktif) bisa membantu tubuh untuk mencegah infeksi, meski tidak memberi perlindungan 100 persen.

Antibodi bertahan hingga enam bulan

Menurut riset yang dilakukan UK Biobank baru-baru ini, didapatkan hasil bahwa antibodi yang tercipta setelah terinfeksi COVID-19 bisa bertahan di dalam tubuh hingga enam bulan.

Hasil itu didapat dari penelitian yang melibatkan lebih dari 20 ribu orang di Inggris, antara 27 Mei hingga 4 Desember 2020. Tak kurang dari 88 persen peserta yang dites positif terinfeksi mempertahankan antibodi terhadap SARS-CoV-2 selama enam bulan penuh.

Tidak ada perbedaan dalam hal jenis kelamin. Namun, peserta dengan usia lebih muda (di bawah 30 tahun) terdeteksi memiliki antibodi lebih tinggi (13,5 persen). Gejala paling umum yang terkait dengan antibodi  COVID-19 adalah hilangnya indra perasa dan penciuman (43 persen).

Seperempatnya (24 persen) benar-benar tidak menunjukkan gejala apapun, dan sisanya mengalami tanda-tanda umum seperti demam serta batuk kering terus-menerus.

Baca juga: Penyintas COVID-19 Masih Bisa Tularkan Virus Corona, Benarkah?

Apa dampaknya pada pandemi COVID-19?

Profesor Naomi Allen, kepala ilmuwan Biobank Inggris, menyatakan, belum jelas mengapa efek itu hanya bertahan selama enam bulan. Penelitian lebih lanjut bisa membantu mengungkap seberapa efektif antibodi memberi perlindungan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Walau hanya dapat bertahan enam bulan, adanya temuan tentang antibodi pada penyintas COVID-19 adalah hal yang menjanjikan. Sebab, penularan COVID-19 berlangsung setiap hari dan jumlahnya cenderung meningkat. Di Inggris sendiri, saat ini kasus aktifnya hampir mencapai 2 juta jiwa.

Meski begitu, menurut Lord Bethell, pejabat di Kementerian Kesehatan Inggris, adanya antibodi selama enam bulan bukanlah sebuah jaminan atau perlindungan terhadap COVID-19.

Orang yang telah mengidap COVID-19 dan terbentuk antibodi di dalam tubuhnya masih berpotensi menularkan virus. Untuk saat ini, diam di rumah masih menjadi cara terbaik untuk menekan penyebaran SARS-CoV-2.

Nah, itulah ulasan tentang antibodi yang bisa bertahan hingga enam bulan pada penyintas COVID-19. Untuk membantu memutus rantai penularan, tetap terapkan protokol kesehatan, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. World Health Organization (WHO), diakses 8 Februari 2021, Coronavirus disease 2019 (COVID-19).
  2. Worldometer, diakses 8 Februari 2021, Covid-19 coronavirus pandemic.
  3. Live Science, diakses 8 Februari 2021, What are antibodies?
  4. GOV.uk, diakses 8 Februari 2021, UK Biobank COVID-19 antibody study: final results.
  5. UK Biobank, diakses 8 Februari 2021, UK Biobank study shows that COVID-19 antibodies remain for at least 6 months post-infection for the vast majority of people who have had the virus.

    Berita Terkait
    register-docotr