Covid-19

Studi Terbaru: 7 dari 10 Pasien COVID-19 di Inggris Tak Bisa Sepenuhnya Sembuh

March 25, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Penelitian terbaru mengungkapkan kondisi pasien sebenarnya setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19. Walau sudah dinyatakan terbebas dari virus, tapi ada beberapa orang yang tidak sepenuhnya sembuh.

Penelitian ini melibatkan 1.077 pasien COVID-19 di Inggris yang sebelumnya dirawat di rumah sakit, namun sudah diperbolehkan pulang. Seperti apa hasil penelitian tersebut? 

Studi ungkap pasien COVID-19 tidak semuanya sembuh total

Penelitian ini dipublikasikan di Medrxiv.org dan melibatkan pasien dari berbagai daerah di Inggris. Mereka memilih 1.077 pasien yang telah selesai perawatan COVID-19 dan diperbolehkan pulang di sekitar waktu Maret hingga November 2020 lalu.

Setelah dilakukan penelitian, hasilnya bahwa rata-rata ada 9 gejala yang menetap. Dan 10 gejala yang paling umum dilaporkan, antara lain:

  • Nyeri otot
  • Kelelahan
  • Kualitas tidur terganggu
  • Bengkak atau nyeri sendi
  • Anggota tubuh melemah
  • Sesak napas
  • Sakit badan
  • Kehilangan memori jangka pendek
  • Serta berpikir lebih lambat

Selain gejala fisik, pasien juga mengalami perubahan dari segi kesehatan mentalnya. Dari penelitian tersebut, ada lebih dari 25 persen peserta yang memiliki gejala gangguan kecemasan dan depresi yang signifikan.

Sekitar 12 persen lainnya juga terdeteksi mengalami gangguan stres pasca-trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) selama 5 bulan setelah sembuh dari COVID-19.

Dari penelitian itu, dapat disimpulkan 7 dari 10 pasien tidak benar-benar sembuh, meski sudah dinyatakan bebas COVID-19. 

Perubahan setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19

Karena beberapa gejala menetap, peserta penelitian itu mengungkapkan adanya perubahan dalam keseharian mereka. Ini memengaruhi kemampuan mereka dalam bekerja dan berkegiatan sehari-hari. 

Dari 67,5 persen peserta tadinya bekerja sebelum terserang virus SARS-CoV-2. Kemudian, setelah terkena COVID-19, 17,8 persen tidak lagi bekerja. 

Hampir 20 persen peserta mengalami perubahan terkait kesehatan dalam status pekerjaan mereka. Dari semua peserta, ternyata kondisi ini lebih banyak memengaruhi wanita. 

Peserta penelitian lebih banyak adalah pria dari etnis minoritas, tetapi hasilnya justru memengaruhi wanita. Demikian diungkapkan oleh Profesor Chris Brightling, seorang ahli kedokteran pernapasan di University of Leicester. 

“Penelitian kami menemukan bahwa mereka yang memiliki gejala berkepanjangan paling parah cenderung terjadi pada wanita kulit putih berusia sekitar 40 hingga 60 tahun. Mereka memiliki setidaknya dua kondisi kesehatan jangka panjang, seperti asma atau diabetes,” kata Profesor Brightling, dilansir dari situs University of Leicester.

Kondisi yang melatarbelakangi menetapnya gejala

Gejala yang menetap ini ditemukan pada mereka yang dirawat di rumah sakit dan sebelumnya mengalami gejala parah akibat COVID-19. Termasuk mereka yang tadinya menerima bantuan ventilator. Setelah sembuh, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih total. 

Namun gejala atau masalah yang dialami pascasembuh tidak dapat dijelaskan pasti, walau sebagian mungkin dipicu oleh paru-paru yang sebelumnya cedera. Ada kemungkinan juga disebabkan oleh kondisi sistemik lain yang mendasari. 

Penelitian juga mengungkap faktor biologis juga dapat berperan dalam munculnya gejala pasca-COVID-19.

Apa kata ahli mengenai hal ini?

Setelah 5 bulan pasca-COVID-19, pada peserta kecuali yang tadinya hanya bergejala ringan, ditemukan adanya peningkatan level zat kimia yang disebut C-reactive protein (CRP). Zat ini seringkali dikaitkan dengan adanya peningkatan peradangan. 

Menurut Profesor Louise Wain dari Lung Foundation, University of Leicester, dari penelitian terdahulu peradangan sistemik dikaitkan dengan pemulihan yang buruk. 

Di lain sisi wanita paruh baya, seringkali mengalami autoimunitas, di mana tubuh menyerang sel atau organnya sendiri karena salah menganggap sebagai hal yang membahayakan. 

“Ini mungkin menjelaskan mengapa sindrom pasca-COVID tampaknya lebih umum pada kelompok ini (wanita kulit putih paruh baya), tetapi penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memahami prosesnya sepenuhnya,” ungkap Profesor Wain.

Dengan adanya hasil temuan ini, diharapkan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari tahu mekanisme biologis yang mendasari terjadinya ‘long-COVID’ alias, pasien COVID-19 yang tidak sembuh sepenuhnya. 

Karena penelitian ini hanya mewakili sebagian kecil pasien COVID-19, diharapkan akan ada penelitian lanjutan. Ini karena ada lebih dari 300 ibu pasien pasca-rawat inap di Inggris yang telah dipulangkan. 

Dukungan terhadap hasil studi

Inggris menanggapi cepat kasus ‘long-COVID’ ini. Salah satu caranya adalah mendukung tenaga medis untuk meneliti lebih lanjut terkait gejala yang menetap pada pasien COVID-19 setelah dinyatakan sembuh dari virus. 

Penelitian lebih jauh akan membantu menjelaskan kondisi yang terjadi, sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang tepat. Alasannya, agar pasien mencapai kesembuhan total seperti semula. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr