Covid-19

Setelah Dinyatakan Sembuh, Apakah Anak Penyintas COVID-19 Bisa Terinfeksi Ulang?

July 27, 2021 | Arianti Khairina | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Hingga saat ini masih banyak orang berpikir ketika sudah pernah terinfeksi COVID-19, maka tubuh akan kebal dari virus Corona dan tak akan tertular lagi. Tetapi nyatanya tidak selalu demikian, kamu bisa saja terinfeksi kembali dan berikut penjelasannya. 

Apakah kamu bisa terkena COVID-19 dua kali atau lebih?

Melansir penjelasan dari laman Cleveland Clinic,  Dr. Frank Esper, MD, spesialis penyakit mengatakan bahwa masih ada banyak kesalahpahaman terkait penularan COVID-19 ini.

Meskipun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan bahwa kasus infeksi ulang telah dilaporkan dan diketahui hal itu sangat jarang terjadi, tetapi tidak berarti kamu akan benar-benar aman dan tidak akan tertular COVID-19 lagi. 

Kemudian Dr Esper menjelaskan bahwa infeksi yang sebelumnya memang dapat mencegah kamu jatuh sakit, tetapi itu tidak berarti bahwa kamu bisa aman 100 persen.

Kamu mungkin berpikir aman karena antibodi akan terbentuk setelah sebelumnya terinfeksi, tetapi jika masih dapat menyebarkannya ke orang lain sebenarnya itu sama bahanya.

Dalam penjelasannya juga ditambahkan bahwa ketika sudah terinfeksi sekali bukan menjadi alasan untuk bisa mengabaikan semua protokol yang diberlakukan seperti menggunakan masker dan jaga jarak fisik. Beberapa protokol kesehatan itu ternyata masih harus wajib untuk dilakukan. 

Apakah anak-anak juga bisa terkena COVID-19 dua kali? 

Melansir penjelasan dari laman Cureus, diketahui bahwa infeksi ulang dengan SARS-CoV-2 juga bisa terjadi pada populasi anak-anak seperti pada orang dewasa.

Pada populasi orang dewasa, pelepasan virus persisten dalam sekresi pernapasan dilaporkan hingga tiga bulan sejak tes pertama positif atau munculnya gejala. 

Waktu minimal yang dilaporkan untuk infeksi ulang dengan SARS-CoV-2 pada orang dewasa dilaporkan antara 45 hari hingga 90 hari sejak hasil negatif terakhir. Pada anak-anak, infeksi ulang terjadi dalam satu hingga tiga minggu setelah tes negatif terakhir yang dilaporkan.

Keempat kasus reinfeksi memiliki sedikit kesamaan, mereka semua tidak pernah menjadi kasus indeks, mereka diuji ulang setelah menjadi negatif karena memiliki paparan ulang yang signifikan.

Mayoritas kasus yang terinfeksi ulang adalah perempuan, dan dua pernah tanpa gejala dan dua bergejala tetapi karena jumlah yang kecil, tidak ada saran konklusif yang dapat dibuat saat ini.

Tidak ada data khusus yang tersedia tentang kepositifan berkelanjutan dan infeksi ulang pada anak-anak. Studi kelompok besar yang lebih luas dan prospektif diperlukan untuk menentukan secara meyakinkan apakah pedoman orang dewasa dapat diekstrapolasi untuk anak-anak. 

Apa sebenarnya yang terjadi pada sistem kekebalan tubuh saat terinfeksi ulang COVID-19?

Seperti dilansir dari laman Cleveland Clinic, bahwa komunitas medis itu masih meneliti kasus langka tersebut. Misalnya, sebuah penelitian baru-baru ini dari Oxford menunjukkan bahwa antibodi menawarkan jendela perlindungan selama enam bulan untuk subjek penelitian. 

Namun, perlu dicatat bahwa penelitian ini masih harus dievaluasi dan ditinjau oleh rekan sejawat. Meskipun ini mungkin tampak seperti berita yang menggembirakan, itu tidak berarti bahwa kita harus mulai mengabaikan semua yang telah kita lakukan untuk tetap aman.

“Sebagian besar individu yang memiliki antibodi efektif terhadap virus ini mungkin terlindungi selama beberapa bulan. Tetapi seperti banyak virus Corona, antibodi ini sepertinya tidak bertahan lama. Jadi kami berharap kekebalan itu berkurang seiring waktu,” kata Dr. Esper.

Vaksin dan sistem kekebalan tubuh

Tentu saja kondisi tersebut sama halnya dengan vaksin, yang hingga kini belum diketahui pasti berapa lama sistem kekebalannya akan bertahan. 

“Kami tidak melihat jumlah kasus infeksi ulang yang luar biasa, jadi jika telah mendapatkan vaksin yang efektif, kemungkinan Anda aman dari infeksi Covid-19 atau infeksi ulang. Ini bisa berarti virus tidak bermutasi atau respons vaksin bertahan sedikit lebih lama,”jelas Dr. Esper.

Dr Esper mengatakan bahwa dia tidak akan terkejut jika penurunan antibodi dalam vaksin terjadi dari waktu ke waktu dan mengharuskan kita untuk mendapatkan vaksinasi virus corona tahunan seperti yang kita lakukan dengan vaksinasi flu. 

Tetapi saat ini, dikatakan juga bahwa tujuan utama vaksin COVID-19 adalah mulai mengendalikan virus Corona dan terus menyempurnakan prosesnya. Namun tak hanya vaksin, tindakan pencegahan penularan COVID-19 yang efektif adalah tetap menerapkan protokol kesehatan, untuk menjaga diri dan keluarga. 

Pastikan kamu tetap memakai masker, mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.

Baca juga: Mengapa Tidak Dianjurkan Merangkap Masker Medis? Ini Jawabannya!

Masker dan COVID-19 

Perlu kamu ingat, ketika berada di sekitar orang tanpa masker, namun tidak jatuh sakit hal tersebut bukan berarti tubuhmu kebal terhadap COVID-19. 

Kamu mungkin akan merasa tak terkalahkan atau bahkan merasa kebal ketika tidak jatuh sakit saat melakukan semua hal dan bergaul dengan banyak orang tanpa melakukan protokol kesehatan seperti menggunakan masker. 

Tetapi perlu disadari bahwa hal itu bukan berarti kamu kebal terhadap virus, bisa jadi tubuh belum menunjukkan gejala virus apapun. Padahal bisa saja kamu terinfeksi dan menyebarkan virus Corona ke orang lain tanpa adanya gejala spesifik. 

Jadi sebaiknya tetap patuhi aturan protokol kesehatan baik bagi kamu yang sudah pernah terinfeksi dan belum pernah sama sekali. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, kliklink ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
    1. Health.clevelandclinic.org (2020) diakses pada 26 Juli 2021. Can You Get COVID-19 More Than Once?
    2. Cdc.gov (2020) diakses pada 26 Juli 2021. Reinfection with COVID-19
    3. Webmd.com (2021) diakses pada 26 Juli 2021. Study Shows Young COVID Survivors Can Get Reinfected
    4. cureus.com (2020) diakses pada 26 Juli 2021. Sustained Positivity and Reinfection With SARS-CoV-2 in Children: Does Quarantine/Isolation Period Need Reconsideration in a Pediatric Population?

 

    register-docotr