Covid-19

Risiko Alzheimer dan Gangguan Daya Pikir Lainnya Paska Sembuh dari COVID-19

September 25, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Saat terkena COVID-19, hal pertama yang umum ditakutkan adalah munculnya risiko gangguan pernapasan. Ini wajar, mengingat gejala tersebut memang paling sering terjadi pada pasien penyakit ini.

Namun ternyata efeknya tidak selalu berhenti di situ. Studi menunjukkan virus ini dapat ‘menyisakan’ beberapa gangguan kesehatan lain, meski penderitanya telah dinyatakan sembuh.

Salah satunya adalah masalah memori dan konsentrasi, termasuk Alzheimer. Ini dilaporkan di Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer  2021, yang menemukan hubungan antara COVID-19 dengan percepatan penyakit Alzheimer beserta gejalanya.

Baca juga: Mengenali Beda Ruam Kulit Biasa dengan Gejala COVID-19

Apa itu Alzheimer?

Penyakit Alzheimer adalah suatu kondisi yang memengaruhi otak. Dr. Alois Alzheimer, adalah orang yang pertama kali menggambarkan kondisi tersebut pada tahun 1906.

Gejala umumnya termasuk kehilangan ingatan, masalah bahasa, dan perilaku tidak terduga. Salah satu ciri utama dari kondisi ini adalah adanya plak di otak, hingga hilangnya koneksi antara sel-sel saraf, atau neuron, di otak.

Kerusakan tersebut membuat informasi tidak dapat lewat dengan mudah antara area otak yang berbeda atau antara otak dengan otot maupun organ.

Hubungan COVID-19 dengan Alzheimer

Dalam salah studi yang dipresentasikan pada konferensi tersebut. Prof. Thomas M. Wisniewski, dari Universitas New York, beserta rekan, mengeksplorasi kemungkinan hubungan antara COVID-19 dan tanda-tanda klinis penyakit Alzheimer.

Dengan mengambil sampel plasma darah dari 310 orang yang pernah dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Hasilnya 158 orang memiliki gejala neurologis yang terkait dengan COVID-19 sementara 152 sisanya tidak. Gejala yang paling sering terjadi adalah kebingungan.

Fakta lainnya, peneliti menemukan peningkatan tanda biologis terkait Alzheimer pada pasien yang mengalami masalah kognitif selama menderita COVID-19. Ini termasuk cedera otak dan peradangan saraf.

Hal tersebut tidak ditemukan pada pasien COVID-19 yang tidak mengalami gangguan neurologis apapun. Temuan ini menunjukkan bahwa pasien yang memiliki COVID-19 memiliki risiko percepatan gejala dan penyakit Alzheimer.

Masalah kognitif pada penyintas COVID-19

Temuan awal dari konsorsium ini juga menunjukkan bahwa orang dewasa lebih tua yang terkena SARS-CoV-2, sering menderita gangguan kognitif secara terus menerus. Bahkan setelah mereka dinyatakan pulih dari infeksi virus tersebut.

Hal ini dikemukakan dalam sebuah penelitian, di mana Dr. Gabriel De Erausquin dan tim, mencoba meneliti masalah neurologis di populasi Amerindians dari Argentina yang telah pulih dari COVID-19 akut.

Dari sebanyak 300 peserta yang dievaluasi selama 3-6 bulan setelah COVID-19. Ditemukan fakta bahwa lebih dari 50 persen peserta memiliki masalah daya ingat dan sekitar 25 persen juga mengalami disfungsi eksekutif.

Disfungsi eksekutif adalah gangguan kemampuan dalam memusatkan pikiran, membuat perencanaan, mengerjakan tugas keseharian sampai berbahasa.

Erausquin juga menjelaskan bahwa hubungan COVID-19 dan gangguan kognisi mulai terlihat jelas beberapa bulan setelah infeksi. Jadi penting untuk terus mempelajari hal ini, agar bisa lebih memahami dampak neurologis jangka panjang dari COVID-19.

Tingkat oksigen rendah dan gangguan kognitif pada penyintas COVID-19

Dalam studi lainnya, George Vavougios, M.D., Ph.D., peneliti postdoctoral untuk University of Thessaly (UTH), dan rekan, meneliti gangguan daya pikir dan tindakan kesehatan pada 32 pasien COVID-19 bergejala ringan sampai sedang.

Penelitian dilakukan setelah para pasien keluar dari dari rumah sakit selama 2 bulan dengan meminta mereka berjalan kaki selama 6 menit. Hasilnya diketahui bahwa 56,2 persen di antara mereka mengalami penurunan kemampuan berpikir.

Selain itu skor tes kognitif yang lebih buruk juga terbukti berhubungan dengan usia yang lebih tua, serta lingkar pinggang dan rasio pinggang terhadap pinggul yang lebih besar.

Setelah dilakukan penyesuaian terhadap faktor usia dan jenis kelamin, memori buruk dan skor berpikir juga diketahui sangat berkaitan dengan tingkat saturasi oksigen yang lebih rendah.

Otak yang kekurangan oksigen adalah otak yang tidak sehat, dan kekurangan yang terus-menerus mungkin berkontribusi pada kesulitan berpikir, ”kata Vavougios.

Kesimpulan

Hubungan antara infeksi COVID-19 dengan risiko perkembangan penyakit Alzheimer tampaknya ada. Tapi untuk menyimpulkan apakah kedua hal tersebut benar-benar berkaitan memerlukan studi lebih lanjut yang menyeluruh.

Baca juga: Benarkah Penderita HIV/AIDS Lebih Berisiko Terinfeksi COVID-19?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

COVID-19 ASSOCIATED WITH LONG-TERM COGNITIVE DYSFUNCTION, ACCELERATION OF ALZHEIMER’S SYMPTOMS, Alzheimer’s Association Media Line, diakses pada 24 September 2021

COVID-19 and Alzheimer’s Disease, Brain Science, diakses pada 24 September 2021

Cognitive dysfunction linked to COVID-19, Medical News Today, diakses pada 24 September 2021

What to know about Alzheimer’s disease, Medical News Today, diakses pada 24 September 2021

    register-docotr