Covid-19

Rambut Rontok Termasuk Salah Satu Gejala Long Covid, Apa Fakta Medisnya?

February 28, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Tak terasa hampir setahun telah berlalu sejak virus COVID-19 mulai menyebar dan berkembang menjadi pandemi di seluruh dunia. Meski kini kita sudah ada dalam tahap menyesuaikan diri, tetap ada kekhawatiran akan dampak lanjutan akibat virus mematikan ini belum hilang sepenuhnya.

Dilansir dari Timesofindia, sebuah penelitian menunjukkan bahwa beberapa penyintas COVID-19 melaporkan kerontokan rambut sebagai salah satu efek jangka panjang dari penyakit corona (long covid).

Lalu bagaimana penjelasan lengkapnya? Terus lanjutkan membaca artikel di bawah ini untuk mengetahui jawabannya.

Baca juga: 3 Alasan Lansia Tidak Diprioritaskan Mendapat Vaksin COVID-19

Apa itu long covid?

Dilansir dari Centers for Disease (CDC), sebagian besar orang dengan COVID-19 memang berhasil pulih dan mampu kembali beraktivitas secara normal.

Namun, beberapa di antaranya diketahui memiliki gejala yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan setelah sembuh dari penyakit tersebut.

Kondisi ini disebut dengan istilah long covid. Menurut National Institute for Health and Care Excellence (NICE), kondisi ini dapat berlangsung selama lebih dari 12 minggu.

Namun, penelitian lain mengklaim bahwa gejala dapat berlangsung bahkan setelah enam bulan pemulihan, di mana rambut rontok menjadi sumber perhatian utama.

Gejala rambut rontok dalam long covid

Meskipun alopecia atau rambut rontok merupakan masalah yang umum dihadapi banyak orang. Namun, temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa hal itu mungkin merupakan salah satu gejala dari long covid.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di The Lancet, menyebutkan bahwa hampir seperempat penyintas COVID-19 mengeluhkan rambut rontok sebagai efek samping utama penyakit ini.

Para peneliti mengevaluasi 1.655 pasien yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, Cina, di mana 359 di antaranya (22 persen) pernah mengalami kerontokan rambut enam bulan setelah dipulangkan.

Studi tersebut kemudian menyebutkan bahwa kasus rambut rontok ini, lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.

Mengapa COVID-19 dapat menyebabkan kerontokan rambut?

Dilansir dari Healthline, kerontokan rambut yang terlihat setelah COVID-19 konsisten dengan kondisi yang disebut telogen effluvium (TE). Kondisi ini ditandai dengan kerontokan rambut tiba-tiba, berjumlah besar, dan sering kali terjadi saat menyisir atau mandi.

Kebanyakan orang dalam kondisi TE mengalami kerontokan rambut yang nyata 2 sampai 3 bulan setelah peristiwa pemicunya. Ini biasanya memengaruhi kurang dari setengah kulit kepala dan berlangsung selama 6 hingga 9 bulan.

Bagaimana ini berhubungan dengan COVID-19? Salah satu pemicu potensial TE adalah penyakit akut disertai demam. Orang yang terjangkit COVID-19 sering kali mengalami demam sebagai salah satu gejalanya.

Selain itu, stres adalah pemicu potensial lainnya untuk TE. Seperti yang kita tahu, menderita penyakit seperti COVID-19 dapat menyebabkan stres fisik dan emosional.

Faktanya, bahkan TE juga telah diamati sebagai gejala pada beberapa orang yang merasa tertekan selama masa karantina.

Baca juga: Fakta di Balik Hoax Vaksin Sinovac Bisa Memperbesar Alat Kelamin

Gejala lain yang menyertai

Selain rambut rontok, temuan penelitian tersebut juga melaporkan adanya gejala lain yang muncul pada penderita long covid.

Disebutkan bahwa 63 persen pasien mengalami kelelahan atau kelemahan otot, 26 persen mengalami gangguan tidur, 23 persen mengalami kecemasan atau depresi, dan 22 persen mengalami kerontokan rambut.

Ditemukan juga bahwa 76 persen pasien melaporkan setidaknya satu gejala enam bulan setelah onset gejala pertama, dengan proporsi lebih tinggi pada wanita. Pasien yang sakit parah akibat virus lebih mungkin menderita kelemahan otot dan depresi.

“Kami menemukan bahwa pada enam bulan setelah timbulnya gejala, kebanyakan pasien mendukung setidaknya satu gejala, terutama kelelahan atau kelemahan otot, kesulitan tidur, dan kecemasan atau depresi.”

Para peneliti dalam The Lancet, 2021

Dalam survei tindak lanjut selama tiga bulan terhadap 538 pasien COVID-19, para peneliti juga menemukan bahwa penurunan fisik atau kelelahan, polipnea pasca-aktivitas (napas cepat atau terengah-engah), dan alopecia lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Coronavirus: Experts declare hair loss as one of the 5 reigning symptoms of long COVID, https://timesofindia.indiatimes.com/life-style/health-fitness/health-news/coronavirus-experts-declare-hair-loss-as-one-of-the-5-reigning-symptoms-of-long-covid/photostory/81188949.cms?picid=81188956 diakses pada 26 Februari 2021

COVID-19: Hair loss identified as long-term symptom of coronavirus – with women most at risk, study says https://news.sky.com/story/covid-19-hair-loss-identified-as-long-term-symptom-of-coronavirus-with-women-most-at-risk-study-says-12226654 diakses pada 26 Februari 2021

What We Know About Hair Loss and COVID-19 https://www.healthline.com/health/coronavirus-and-hair-loss#causes diakses pada 26 Februari 2021

Long-Term Effects https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/long-term-effects.html diakses pada 26 Februari 2021

    register-docotr