Covid-19

Penelitian Terbaru: COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

June 1, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Meski pandemi COVID-19 telah berjalan lebih dari setahun, namun kaitannya terhadap kemampuan ereksi pria masih perlu penelitian lebih lanjut.

Penemuan terbaru menemukan bahwa virus corona dapat memberikan dampak buruk pada tubuh secara keseluruhan, termasuk bagi kesehatan reproduksi dan seksual pria.

Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya bagaimana hubungan COVID-19 dan disfungsi ereksi. Berikut adalah penjelasan selengkapnya!

Baca juga: Mengenali Beda Ruam Kulit Biasa dengan Gejala COVID-19

Pengaruh virus COVID-19 pada disfungsi ereksi

Sebuah studi pada WJMH, berupaya menggambarkan jaringan penis pada pasien infeksi COVID-19 yang kemudian berakibat pada disfungsi ereksi parah (DE).

Dengan mengambil bahan berupa jaringan penis dari pasien yang menjalani operasi prostesis penis untuk DE parah. Spesimen diambil dari dua pria dengan riwayat infeksi COVID-19 dan dua pria tanpa riwayat infeksi.

Spesimen lalu dicitrakan dengan pewarnaan lalu dibiopsi. Secara khusus, jaringan yang terkumpul juga dianalisis untuk endotelial Nitric Oxide Synthase (eNOS, penanda fungsi endotel) dan ekspresi lonjakan protein COVID-19.

Hasil penelitian

Hasilnya terlihat ada partikel virus corona berdiameter sekitar 100 nano mikro dengan peplomer (paku) di dekat sel endotel vaskular penis dari pasien COVID-19. Hal tersebut tidak ditemukan pada pasien disfungsi ereksi tanpa riwayat COVID-19.

Sel endotel sendiri adalah sel pelapis bagian dalam dinding pembuluh darah. COVID-19 memang telah lama dikaitkan dengan disfungsi endotel. Tepatnya saat lapisan dalam atau dinding pembuluh darah tetap kaku, bukannya membesar dan berkontraksi untuk memungkinkan aliran darah.

Ini dapat memengaruhi cara darah dipompa dan dibawa ke seluruh tubuh, termasuk jaringan di penis. Pasokan darah yang terganggu ke penis bisa membuat seorang pria menjadi sulit untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi.

Dari penelitian tersebut, para peneliti juga menyimpulkan bahwa virus COVID-19 ditemukan telah berada lama di penis setelah infeksi awal terjadi. Terakhir, studi ini menunjukkan bahwa disfungsi sel endotel yang meluas akibat infeksi COVID-19 dapat menyebabkan DE.

Baca juga: Benarkah Penderita HIV/AIDS Lebih Berisiko Terinfeksi COVID-19?

Penyebab lain disfungsi ereksi terkait COVID-19

Para peneliti menyimpulkan bahwa seseorang yang berhasil sembuh dan bertahan hidup setelah terkena COVID-19, lebih mungkin akan mengalami disfungsi ereksi.

Terhitung ada setidaknya tiga faktor yang dapat menyebabkan DE pada pria yang pernah terkena virus, meliputi:

1. Efek vaskular

Fungsi ereksi merupakan salah satu indikator ada tidaknya penyakit jantung. Ini dapat memberi informasi terkait kondisi sistem vaskular dan sistem reproduksi yang saling berhubungan.

COVID-19 sendiri telah lama diketahui dapat menyebabkan hiperinflamasi di seluruh tubuh, terutama di jantung dan otot di sekitarnya.

Pada gilirannya, ini dapat membuat pasokan darah ke penis tersumbat atau menyempit akibat kondisi vaskular yang memburuk yang disebabkan oleh virus.

2. Dampak psikologis

Aktivitas seksual sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental. Stres, kecemasan, dan depresi yang disebabkan oleh virus dan pandemi, sangat dapat dikaitkan dengan disfungsi seksual dan suasana hati yang buruk.

3. Gangguan kesehatan secara keseluruhan

Disfungsi ereksi umumnya merupakan gejala dari masalah kesehatan lainnya yang lebih basic. Pria dengan riwayat kondisi kesehatan buruk, memiliki risiko lebih besar untuk mengembangkan DE dan juga memiliki reaksi parah terhadap COVID-19.

Ini dikarenakan virus corona dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan, yang pada akhirnya akan berdampak pada terjadinya disfungsi ereksi maupun komplikasi lainnya.

Apa yang bisa kamu lakukan?

Disfungsi ereksi sebagai efek samping COVID-19 dapat bersifat jangka pendek ataupun panjang. Tetapi para ahli tidak yakin apakah komplikasi ini dapat menyebabkan masalah kesuburan atau tidak.

Oleh karena itu, jika kamu merasa mengalami gangguan ini terutama setelah terinfeksi COVID-19, segera berkonsultasilah dengan dokter.

Mereka akan menanyakan riwayat kesehatanmu, melakukan serangkaian pemeriksaan fisik, atau mungkin juga memesan tes laboratorium dan merujuk kamu ke dokter ahli.

Dari situ, biasanya dokter akan mencari tahu apa yang menyebabkan DE dan membuat rencana perawatan untuk menanganinya. Para ahli juga merekomendasikan untuk mendapatkan vaksin COVID-19 untuk menurunkan risiko DE sebagai efek samping.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

WJMH diakses pada 31 Mei 2021

Web MD diakses pada 31 Mei 2021

Health Cleveland Clinic diakses pada 31 Mei 2021

    register-docotr