Covid-19

Mengenal Tes Serologi Berbasis Laboratorium untuk COVID-19

May 24, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Sejak wabah COVID-19 pertama kali masuk Indonesia, pemerintah mulai gencar melalukan tes di banyak daerah untuk deteksi penyebaran virus. Selain rapid test dan PCR, belakangan ini muncul satu tes baru bernama serologi.

Apa itu tes serologi? Efektifkah untuk mendeteksi adanya virus penyebab COVID-19? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Baca juga: Kasus Corona Tanpa Gejala Banyak Ditemukan, Seperti Apa Ciri-cirinya?

Apa itu tes serologi?

Dilansir dari Healthline, tes serologi adalah salah satu jenis tes darah yang fokus pada deteksi antibodi. Secara umum, tes ini biasanya dilakukan di laboratorium untuk menetapkan diagnosis pada suatu penyakit.

Tes serologi dilakukan untuk mendeteksi protein yang diciptakan oleh sistem imun tubuh. Adanya protein atau antibodi mengindikasikan bahwa sistem kekebalan sedang melakukan perlawanan terhadap zat asing dari luar, baik itu virus, bakteri, maupun jamur.

Apa itu antibodi dan antigen

Untuk lebih memahami soal tes serologi ini, kamu harus paham dahulu mengenai konsep antibodi dan antigen. Pasalnya, kedua substansi ini saling berhubungan dan yang mengindikasikan ada atau pernah adanya infeksi di dalam tubuh.

Antigen sendiri merupakan substansi yang menuntut respon dari sistem imun. Zat ini akan masuk ke dalam tubuh melalui mulut, kulit yang terbuka, atau melalui saluran pernapasan. Antigen biasanya memengaruhi manusia meliputi:

  • Bakteri
  • Jamur
  • Virus
  • Parasit

Selanjutnya sistem imun akan melawan antigen dengan cara menghasilkan antibodi. Antibodi ini merupakan partikel yang menempel ke antigen untuk membuatnya tidak aktif. 

Pada waktu tertentu, tubuh bisa salah mengartikan jaringan yang sehat sebagai ancaman dari luar sehingga membentuk antibodi yang tidak diperlukan. Ini lah yang disebut sebagai kelainan autoimun. Dalam hal ini tes serologi juga bisa dipakai untuk mendiagnosis kondisi ini.

Jenis tes serologi

Ada berbagai macam antibodi. Oleh karena itu, ada berbagai tes yang dipakai untuk mendeteksi keberadaan jenis antibodi yang berbeda. Di antaranya adalah:

  • Uji aglutinasi untuk menunjukkan apakah paparan antibodi ke antigen menyebabkan penggumpalan partikel
  • Tes presipitasi untuk menunjukkan apakah antigen serupa dengan mengukur kehadiran antibodi di cairan tubuh
  • Western blot test untuk mengidentifikasi antibodi antimikroba di dalam darah dengan melihat reaksinya terhadap antigen target

Tes serologi untuk COVID-19

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan, pada kasus COVID-19, tes serologi digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi SARS-CoV-2 yang terdapat pada serum atau komponen plasma darah.

Tes serologi untuk COVID-19 menggunakan protein virus Corona yang telah dinonaktifkan (virus mati) sebagai antigen.

Yang perlu diingat, tes serologi bukan untuk mendeteksi keberadaan virus Corona, melainkan antibodi yang tercipta untuk melawannya, yaitu imunoglobulin M (IgM) dan imunoglobulin G (IgG).

Tes serologi muncul belakangan setelah tes cepat (rapid test) dan tes usap (swab test). Tes ini diklaim memiliki sensitivitas hingga 96 persen dan dipercaya dapat mengidentifikasi adanya infeksi di masa lalu pada seseorang.

Imunoglobulin G (IgG)

Imunoglobulin G (IgG) adalah antibodi yang menyimpan ‘jejak’ infeksi di masa lalu. Artinya, adanya antibodi ini bisa mengindikasikan bahwa kamu pernah mengalami infeksi tertentu.

Dengan begitu, sistem imun dapat memberikan perlindungan pada tubuh di masa mendatang dari infeksi yang sama.

Imunoglobulin M (IgM)

Imunoglobulin M atau IgM merupakan antibodi yang pertama kali diproduksi oleh sistem kekebalan begitu suatu virus atau bakteri berhasil menginfeksi. Dengan kata lain, antibodi ini akan terbentuk sendiri setelah ada infeksi virus atau bakteri yang berhasil masuk ke dalam tubuh.

Kapan harus tes serologi untuk COVID-19?

Seperti yang telah dijelaskan, tes serologi adalah tes yang berfungsi untuk mendeteksi adanya antibodi di dalam tubuh. Untuk pelaksanaan tes, Badan Kesehatan Dunia WHO menganjurkan setiap orang untuk melakukannya, termasuk jika tidak memiliki gejala COVID-19.

Sedangkan menurut Centers for Disease Control and Prevention, tes COVID-19 sangat disarankan untuk orang-orang dengan kondisi:

  • Bertemu dengan orang yang positif COVID-19.
  • Menghadiri acara dengan jumlah peserta lebih dari 10 orang di wilayah berisiko tinggi.

Perbandingan tes serologi dengan tes untuk COVID-19 lainnya

Pelaksanaan tes serologi dengan rapid test sebenarnya tak terlalu beda. Jika hasil rapid test bisa diketahui di lokasi, tes serologi memiliki pemeriksaan darah yang lebih rumit di laboratorium. Inilah yang membuat tes serologi diklaim memiliki sensitivitas lebih tinggi.

Rapid test dan tes serologi sama-sama mendeteksi adanya antibodi IgG dan IgM di dalam tubuh, yang mana merupakan protein dari sistem imun untuk melakukan perlawanan terhadap infeksi.

Sedangkan untuk mendeteksi keberadaan virus, ada tes yang bernama polymerase chain reaction (PCR). Di Indonesia, tes PCR juga dikenal dengan tes usap atau swab.

Dilansir dari laman World Health Organization (WHO), tes PCR adalah tes molekuler yang bertujuan untuk mendeteksi materi genetik dari suatu virus. Dalam hal ini, tes PCR digunakan untuk mengetahui kemungkinan adanya virus SARS-Cov-2 atau tidak di dalam tubuh.

Baca juga: Penting! Ini Perbedaan PCR Test dan Rapid Test COVID-19 yang Mesti Kamu Tahu

Hasil tes serologi

Hasil tes serologi terbagi menjadi dua, yaitu reaktif dan non-reaktif. Jika hasil tes menunjukkan non-reaktif, itu artinya tubuh tidak memproduksi antibodi IgM dan IgG.

Meski begitu, hasil non-reaktif bukan berarti kamu telah terbebas dari ancaman virus. Sebab, pada umumnya, antibodi sendiri terbentuk dalam rentang waktu satu hingga tiga minggu setelah paparan zat asing seperti virus.

Sedangkan jika hasilnya reaktif, besar kemungkinan tubuhmu telah terinfeksi virus, bakteri, atau jamur. Meski, hal ini juga memerlukan tes lanjutan untuk menetapkan diagnosis.

Apa yang harus dilakukan setelah tes serologi?

Jika tes serologi menunjukkan hasil reaktif, biasanya petugas kesehatan akan mengarahkanmu untuk melakukan tes PCR. Tes ini berfungsi untuk mendeteksi adanya virus. Jika hasil tes PCR positif, kamu akan berada dalam perawatan khusus.

Sedangkan jika tes serologi menunjukkan hasil non-reaktif, kamu tetap disarankan untuk menerapkan protokol kesehatan, misalnya physical distancing. Meski, tak menutup kemungkinan dokter akan menganjurkan untuk melakukan karantina mandiri.

Sebab, bisa jadi kamu adalah orang asimtomatik atau yang dikenal sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG). Orang tanpa gejala tak membutuhkan perawatan di rumah sakit, karena tidak ada keluhan yang harus ditangani.

Perlukah tes serologi setelah vaksin?

Selain karena infeksi, respons imun untuk membuat antibodi pun terjadi setelah vaksinasi. Untuk itu, tes serologi ini dinilai bisa jadi satu cara untuk melihat keampuhan dari vaksinasi yang kamu lakukan.

Akan tetapi, ternyata tes ini tidak disarankan oleh dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Erlina Burhan. Pasalnya, dirinya menyebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum merekomendasikan hal ini.

Selain itu, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi tidak menyarankan pengujian antibodi secara mandiri. Pasalnya, hasil tes dapat menimbulkan kebingungan dan keraguan.

“Setelah vaksinasi COVID-10 kita tidak menyarankan untuk melakukan pengujian antibodi secara mandiri. Karena untuk yang tidak memahami arti pengujian antibodi ini, akan menimbulkan kebingungan,” kata dia.

Jangan hanya bergantung pada tes serologi untuk COVID-19

Karena tes serologi ini bergantung pada keberadaan antibodi, maka tes ini jangan dijadikan satu patokan untuk mengetahui keberadaan virus COVID-19 di dalam tubuh. Pasalnya, jika tes ini dilakukan di tahap awal infeksi, maka respons imun sedang berlangsung.

Pada tahap itu, antibodi mungkin tidak akan terdeteksi oleh tes ini. Itu sebabnya, Food and Drugs Administration (FDA) Amerika Serikat tidak menyarankan tes serologi sebagai satu tes tunggal untuk mendiagnosis infeksi COVID-19.

COVID-19 ini masih menimbulkan banyak pertanyaan yang perlu dikaji lebih jauh. Salah satunya adalah apakah dengan adanya antibodi yang berhasil ditemukan dari tes ini maka kamu dapat terbebas dari infeksi berulang penyakit ini, atau sejauh mana imun ini akan kuat.

Nah, itulah ulasan tentang tes serologi untuk COVID-19 yang perlu kamu tahu. Tetap terapkan protokol kesehatan di mana pun kamu berada untuk membantu memutus rantai penyebaran virus Corona, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. World Health Organization (WHO), diakses 17 September 2020, Advice on the use of point-of-care immunodiagnostic tests for COVID-19.
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 17 September 2020, Serology Testing for COVID-19 at CDC.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 17 September 2020, Overview of Testing for SARS-CoV-2 (COVID-19).
  4. Food and Drug Administration (FDA), diakses 17 September 2020, Antibody (Serology) Testing for COVID-19: Information for Patients and Consumers.
  5. Healthline, diakses 17 September 2020, What Is Serology?
  6. UCLA Health, diakses 17 September 2020, What is Antibody (Serology) Testing.
  7. NationalJewish.org, diakses 17 September 2020, The Difference Between Tests for COVID-19 (Coronavirus).
    register-docotr