Covid-19

Mengenal Tes Anal Swab COVID-19: Prosedur dan Akurasi Hasilnya

February 4, 2021 | Fitri Chaeroni | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Selama ini tes atau uji swab COVID-19 dilakukan dengan metode pengambilan sampel lendir yang ada di saluran pernapasan dan tenggorokan. Namun, kini pemerintah Tiongkok punya metode swab baru yakni dengan uji swab anal.

Sesuai dengan namanya, tes ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel dari anus.

Lalu, seberapa efektif sih swab anal ketimbang swab yang selama ini diterapkan? Berikut pembahasan lebih lanjutnya!

Apa itu swab anal?

Swab anal adalah pengujian sampel lendir dan kotoran yang ada di anus untuk mendeteksi adanya virus corona.

Metode swab anal ini sudah diterapkan oleh pemerintah Tiongkok pada beberapa kasus. Swab anal sejauh ini hanya digunakan pada kelompok tertentu, terutama kasus berisiko tinggi dan orang-orang yang menjalani karantina.

Beberapa orang yang telah menjalani swab anal termasuk penumpang yang tiba di Beijing dan sekelompok lebih dari 1.000 anak sekolah dan guru yang diperkirakan terpapar virus.

Baca Juga : Awas, Bahaya Melakukan Tes Swab Antigen Sendiri Tanpa Bantuan Tenaga Kesehatan!

Apakah swab anal lebih efektif deteksi virus corona?

Melansir Web MD, Li Tongzeng, wakil direktur departemen penyakit pernapasan dan infeksi di RS Beijing Youan, mengatakan swab anal tampaknya lebih akurat dalam mendeteksi virus corona daripada pengujian hidung atau tenggorokan.

Tonzeng menyebutkan, sebuah penelitian menunjukkan virus bertahan lebih lama di anus atau feses daripada di saluran pernapasan. Jadi, sampel swab anal atau feses dapat berguna untuk mengidentifikasi penyakit pada kasus ringan atau asimtomatik. 

Musim panas lalu, Future Medicine menerbitkan penelitian oleh para ilmuwan Tiongkok terhadap sejumlah kecil pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, orang dinyatakan negatif COVID-19 lewat swab tenggorokan dan swab ludah, ternyata dinyatakan positif dengan swab anal.

Baca Juga : Jangan Keliru! Pahami Perbedaan Rapid Test dan Swab Test

Swab anal juga menuai kontra

Meski dinilai lebih efektif dalam mendeteksi virus corona, namun ada juga ahli yang tidak mendukung sepenuhnya penerapan swab anal ini.

Yang Zhanqiu, wakil direktur departemen biologi patogen di Wuhan University, melalui China Global Times bahwa swab hidung dan tenggorokan tetap menjadi tes yang paling efisien. Ini karena virus terbukti menular melalui saluran pernapasan bagian atas, bukan sistem pencernaan.

Ada kasus-kasus terkait tes virus corona positif pada kotoran pasien, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang, katanya.

Baca Juga : Bisa Deteksi COVID-19, Ini Efek Samping Nasal Swab yang Perlu Kamu Perhatikan

Bagaimana prosedur swab anal dilakukan?

Penggunaan swab anal masih terbatas karena invasif dan tidak nyaman. Swab anal dilakukan dengan cara memasukkan cotton bud sekitar 3-5 cm ke dalam rektum. Sampel ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk diuji virusnya.

Sampel tersebut dianalisis dengan cara yang sama seperti tes virus corona Polymerase Chain Reaction (PCR), yang diambil dari swab hidung atau tenggorokan.

Meski terdengar tidak nyaman, namun Joanne Santini, profesor mikrobiologi di University College London, melalui Insider mengatakan swab anal bukanlah cara yang baik untuk pengujian, tetapi masuk akal. 

Santini mengatakan bahwa sampel kotoran, bagaimanapun, lebih disukai daripada swab anal karena tidak terlalu invasif dan bisa sangat berguna untuk mengumpulkan sampel pada anak-anak.

Kelemahan swab anal

Pakar penyakit menular Amesh A. Adalja, MD, peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security di Maryland, melalui Health menyebut bahwa memang benar SARS-CoV2 dapat ditemukan di saluran gastrointestinal (GI).

Menurutnya, pengawasan tinja dapat berguna untuk memahami prevalensi komunitas, namun tidak jelas apakah swab anal pada orang merupakan cara yang sangat berguna untuk mendeteksi orang yang menularkan. Ini terutama ketika mereka tidak menunjukkan gejala.

Ia juga khawatir dengan adanya informasi semacam ini dapat membuat orang enggan untuk menjalani tes. Untuk sebagian besar tujuan, termasuk skrining individu tanpa gejala, sampel hidung atau air liur sudah cukup.

Menanggapi adanya tes baru tersebut, sampai saat ini belum ada tanggapan dari pemerintah Indonesia, apakah tes swab anal akan dilakukan atau tidak.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor! 

register-docotr