Covid-19

Apakah Benar Tubuh Menjadi Kebal Corona Setelah Kena COVID-19?

October 25, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Terdapat anggapan bahwa seseorang menjadi kebal setelah kena corona, hal ini pun menjadi pertanyaan besar dibenak masyarakat. Lantas, benarkah demikian?

Pengembangan vaksin COVID-19 hingga kini masih terus dilakukan. Memahami bagaimana sistem kekebalan tubuh kita merespons virus adalah langkah penting dalam upaya pengembangan vaksin.

Baca juga: Apakah Latihan Pernapasan Bisa Bantu Ringankan Gejala COVID-19?

Apakah tubuh kita jadi kebal setelah kena corona?

Pada beberapa waktu lalu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengeluarkan panduan tentang pengujian ulang dan karantina bagi orang-orang yang telah terinfeksi corona.

Informasi mengatakan bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 tidak perlu dikarantina atau dites lagi hingga 3 bulan. “Orang yang dites positif COVID-19 tidak perlu dikarantina atau dites lagi hingga tiga bulan selama mereka tidak menunjukkan gejala,” tulis CDC.

Meskipun demikan, CDC mengklarifikasi bahwa ini tidak berarti orang yang pernah terinfeksi COVID-19 kebal setelah kena corona selama 3 bulan.

Lauren Rodda, PhD yang merupakan rekan senior postdoktoral di bidang imunologi Universitas Washington mengatakan bahwa masih belum diketahui secara pasti apakah orang dapat kebal terhadap infeksi ulang, karena masih belum cukup banyak penelitian yang dilakukan.

Apakah seseorang bisa terinfeksi untuk kedua kalinya?

Melansir dari BBC News, terdapat laporan awal mengenai orang-orang yang tampaknya memiliki beberapa infeksi dalam waktu yang singkat.

Para ilmuwan dari Hongkong melaporkan kasus seorang pria muda yang telah pulih dari COVID-19 terinfeksi kembali lebih dari 4 bulan kemudian. Mereka membuktikan bahwa ia tertular dua kali karena jenis virusnya berbeda.

Baru-baru ini kasus serupa juga dialami oleh seorang pria berusia 25 tahun di Nevada, Amerika Serikat. Bahkan pada serangan infeksi yang kedua, gejala yang dialaminya lebih serius, sehingga dokter harus memberinya oksigen untuk bantuan pernapasan.

Dalam kebanyakan kasus, serangan kedua dengan virus menghasilkan gejala yang lebih ringan atau bahkan tidak sama sekali. Namun, gejala yang serius telah dialami oleh 3 orang, termasuk satu pasien di Ekuador, dan seorang wanita berusia 89 tahun di Belanda.

Infeksi ulang virus corona jarang terjadi

Para ahli mengatakan bahwa infeksi ulang bukanlah sesuatu yang mengherankan, tetapi kemungkinan jarang terjadi. Meskipun demikian penelitian yang lebih besar masih diperlukan untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi.  

Dilansir dari The New York Times, sejak konfirmasi kasus infeksi ulang pertama yang dilaporkan di Hongkong pada 24 Agustus lalu, hanya ada tiga kasus yang dipublikasikan, sedangkan laporan dari 20 lainnya masih menunggu tinjauan ilmiah.

Yang perlu diketahui adalah, untuk mengonfimasi kasus infeksi ulang, para ilmuwan harus mencari perbedaan signifikan pada gen dari dua virus corona.

Infeksi ulang bisa terjadi karena beberapa alasan, misalnya saja karena infeksi awal terlalu ringan untuk menghasilkan tanggapan kekebalan, atau sistem kekebalan terganggu oleh kondisi kesehatan lain.

Terkadang, pasien mungkin terpapar sejumlah besar virus yang menyebabkan infeksi sebelum respons imun dapat merespons.

Baca juga: Benarkah Pasien COVID-19 yang Sembuh Bisa Mengalami Efek Samping Jangka Panjang?

Harapan untuk sel T

Ilmu pengetahuan berharap bahwa COVID-19  akan memicu tanggapan kekebalan dari sistem kekebalan adaptif, yakni sel T. Satu jenis, yang disebut sebagai sel T memori dapat membantu tubuh untuk mengingat ‘penyerang’ tertentu jika ia datang kembali.

Melansir dari CNN Health, sebuah studi baru-baru ini menemukan sel T memori pada orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 (virus corona yang menyebabkan infeksi pernapasan).

Penemuan ini mengarah pada spekulasi bahwa beberapa orang mungkin mendapatkan kasus COVID-19 yang lebih ringan karena sel T bereaksi terhadap paparan virus corona serupa yang ditemui di masa lalu.

Christine Bishara yang merupakan seorang dokter penyakit dalam mengatakan bahwa ketika tubuh menghasilkan respons imun terhadap virus, sel T akan mengingat jika terdapat kemungkinan infeksi ulang di masa mendatang.

Maka dari itu, jika dihadapkan dengan virus lagi, tubuh akan mengenalinya dan tahu bagaimana menanggapinya. Jika respons imun adaptif cukup kuat, ini bisa meninggalkan ‘ingatan’ abadi mengenai infeksi yang mungkin saja akan memberikan perlindungan di masa depan.

Meskipun demikian, pemahaman mengenai peran sel T masih terus dikembangkan.

Itulah beberapa informasi mengenai apakah tubuh menjadi kebal setelah kena corona. Mengingat virus corona adalah infeksi yang tergolong baru pada manusia, maka dari itu masih banyak penelitian yang perlu dilakukan.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

BBC News (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. Coronavirus Immunity: Can You Catch It Twice? 

Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. When to Quarantine 

Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. Update Isolation Guidance Does Not Imply Immunity to COVID-19 

CNN Health (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. Are You Immune to COVID-19 for Three Months After Recovering? It’s Not Clear

Healthline (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. How Long Does Immunity Last After COVID-19? What We Know 

Huffpost (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. Here’s How Long You’re Protected from COVID-19 After Recovery 

The Lancet Infectious Disease (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. Genomic evidence for reinfection with SARS-CoV-2: a case study 

The New York Times (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. Coronavirus Reinfections Are Real but Very, Very Rare 

Time (2020). Diakses pada 16 Oktober 2020. A 25-Year-Old Nevada Man Got COVID-19 Twice. Here’s What We Know—and Don’t Know—About Reinfection

    Berita Terkait
    register-docotr