Covid-19

Jadi Salah Satu Gejala COVID-19, Apa itu Phantosmia?

January 8, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Gejala baru dari COVID-19 terus terungkap. Setelah sebelumnya muncul gejala parosmia atau gangguan indra penciuman yang bisa menyebabkan kehilangan intensitas aroma, kini phantosmia disebut-sebut sebagai gejala lain dari COVID-19. Lantas, apa itu phantosmia?

Mengutip dari Webmd, sebuah laporan pada bulan Juni 2020 menemukan bahwa sekitar 7 persen dari 4.000 pasien COVID-19 mengalami distorsi pada indra penciuman. Pada kasus infeksi virus, baik parosmia maupun phantosmia seringkali terjadi setelah infeksi.

Baca juga: Ini Lho Alasan Mengapa Setelah Menerima Vaksin COVID-19, Kamu Tidak Boleh Langsung Pulang ke Rumah

Mengenal phantosmia

Phantosmia adalah suatu kondisi yang menyebabkan seseorang mendeteksi bau yang sebenarnya tidak ada di sekitar. Kondisi ini juga dikenal sebagai halusinasi penciuman atau ‘bau hantu’. Bau yang terdeteksi akibat phantosmia dapat bervariasi pada masing-masing individu.

Bau dapat memiliki aroma sedap atau beraroma tidak sedap. Meskipun demikian, terdapat beberapa bau atau aroma yang lebih sering terdeteksi, seperti:

  • Karet terbakar
  • Asap rokok
  • Bau bahan kimia atau logam
  • Bau busuk.

Pada beberapa kasus, seseorang mungkin saja tidak dapat mengidentifikasi bau tertentu atau bahkan mencium bau yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Apa penyebab phantosmia?

Phantosmia disebabkan oleh beberapa faktor. Sensasi yang dirasakan mungkin saja terkait dengan hidung (phantosmia perifer) atau terkait dengan otak (phantosmia sentral).

Melansir dari laman Medical News Today, gangguan pada hidung atau rongga hidung merupakan penyebab paling umum dari gangguan terkait penciuman, seperti phantosmia. Ini dapat meliputi:

  • Polip hidung
  • Infeksi sinur kronis
  • Rhinitis alergi
  • Rhinitis non-alergi.

Di sisi lain, kondisi ini juga bisa terjadi karena cara otak untuk menafsirkan aroma atau bau menjadi terganggu. Ini bisa disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti:

  • Epilepsi
  • Cedera kepala
  • Penyakit Parkinson
  • Schizophrenia
  • Stroke.

Ketika phantosmia terkait dengan gangguan pada hidung, seseorang dapat mencium bau yang lebih kuat di salah satu lubang hidung. Namun, jika phantosmia terkait dengan otak, baunya lebih cenderung persisten.

Mungkinkah itu merupakan aroma sesuatu yang lain?

Dalam beberapa kasus, bau yang berasal dari sumber yang tidak biasa bisa membuat seseorang tampak mengalami phantosmia. Beberapa aroma dari sumber yang tak terduga tersebut di antaranya adalah:

  • Sirkulasi udara yang kurang baik di dalam ruangan
  • Deterjen baru
  • Kosmetik, sabun, shampo, atau produk perawatan baru lainnya

Maka dari itu, jika kamu mencium bau yang tidak biasa, coba perhatikanlah polanya. Sebagai contoh, jika kamu menyadari bau tersebut hanya terjadi ketika kamu terbangun di malam hari, bisa jadi ini berasal dari kasur.

Bagaimana biasanya phantosmia diobati?

Pengobatan phantosmia sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Sebab, dengan mengobati kondisi yang mendasar, ini dapat membantu untuk menangani phantosmia.

Jika phantosmia terkait dengan otak, pengobatan bergantung pada kondisi yang dialami serta lokasi terjadinya gangguan pada otak. Melansir dari Healthline, terlepas dari apapun penyebab phantosmia, terdapat beberapa cara untuk meredakan gejala pada kondisi ini, di antaranya adalah:

  • Membilas saluran hidung dengan larutan saline, misalnya saja dengan menggunakan neti pot
  • Menggunakan semprotan oxymetazoline untuk mengurangi hidung tersumbat
  • Menggunakan semprotan anestesi untuk menekan sel saraf penciuman.

Parosmia dan phantosmia, apa bedanya?

Parosmia adalah kondisi yang hampir mirip dengan phantosmia dan keduanya terkadang disalahartikan. Akan tetapi, parosmia dan phantosmia memiliki perbedaan mendasar.

Seperti yang sudah diketahui bahwa seseorang dengan parosmia mungkin saja mengalami kehilangan intensitas aroma, yang dapat menyebabkan ia tidak dapat mendeteksi seluruh aroma di sekitar.

Singkatnya, parosmia adalah kondisi ketika seseorang mendeteksi bau yang nyata, namun bau tersebut salah baginya. Misalnya saja, roti yang seharusnya beraroma sedap menjadi beraroma menyengat atau tidak sedap, atau aroma bunga yang harum tercium seperti bahan kimia.

Berdasarkan tinjauan pada 2013, phantosmia dan parosmia sering terjadi pada waktu yang bersamaan. Tetapi, parosmia lebih umum terjadi dibandingkan dengan phantosmia.

Baca juga: Mengenal Parosmia: Gejala Baru COVID-19

Gejala lain COVID-19 yang perlu diwaspadai

Gejala yang disebabkan akibat COVID-19 dapat berlangsung ringan hingga parah. Gejala bisa muncul 2-14 hari setelah paparan virus. Berikut ini adalah gejala COVID-19 yang juga perlu diwaspadai seperti dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

  • Demam
  • Batuk
  • Sesak napas atau kesulitan untuk bernapas
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Kehilangan rasa
  • Sakit tenggorokan
  • Diare.

Itulah beberapa informasi mengenai phantosmia sebagai gejala lain dari COVID-19. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diakses pada 07 Januari 2021. Symptoms of Coronavirus 

Healthline (2019). Diakses pada 07 Januari 2021. Phantosmia 

Healthline (2018). Diakses pada 07 Januari 2021. Parosmia 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 07 Januari 2021. Phantosmia: What causes olfactory hallucinations? 

Medical News Today (2018). Diakses pada 07 Januari 2021. What to know about phantom smells (phantosmia) 

Webmd (2020). Diakses pada 07 Januari 2021. COVID-19 Can Warp the Senses, Even After Recovery 

Keller, Andreas, dan Dolores Malaspina (2013). Hidden consequences of olfactory dysfunction: a patient report series. NCBI (diakses pada 07 Januari 2021)

    register-docotr