Covid-19

IDAI: Komorbid Tak Terdeteksi, Sebabkan Angka Kematian Anak Akibat COVID-19 Tinggi

July 1, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Virus COVID-19 telah menyebar dalam berbagai tingkat keparahan. Pada orang dewasa, penyakit penyerta atau komorbid, dikaitkan dengan risiko kematian tertinggi akibat virus ini.

Sementara dalam kasus anak-anak, informasi tentang penyakit penyerta dan tingkat kematian akibat corona masih berjumlah sangat terbatas.

Akan tetapi baru-baru ini Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menyampaikan bahwa komorbid tak terdeteksi merupakan penyebab tingginya angka kematian anak akibat COVID-19.

COVID-19 pada bayi dan anak-anak

Dilansir dari Mayo Clinic, anak-anak dari segala usia dapat terkena penyakit COVID-19. Tetapi kebanyakan anak yang terinfeksi biasanya tidak sakit seperti orang dewasa, dan beberapa mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Namun ada juga beberapa anak yang sakit parah dan bahkan perlu dirawat di rumah sakit saat terinfeksi virus corona. Kondisi tersebut umum terjadi pada anak-anak dengan penyakit penyerta, seperti obesitas, diabetes, atau asma.

Anak-anak yang memiliki penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, atau kondisi yang memengaruhi sistem saraf, juga diketahui berisiko lebih tinggi terkena komplikasi serius saat terkena COVID-19.

Baca juga: Studi Terbaru: Tingkat Kematian Pasien COVID-19 Anak Lebih Tinggi dari Pasien Komorbid

Studi tingkat kematian pasien anak akibat COVID-19

Dilansir dari NCBI, sebuah studi berupaya meneliti karakteristik anak penderita COVID-19 dengan outcome fatal di rumah sakit rujukan di Indonesia.

Studi dilakukan dengan menganalisis data rekam medis pasien anak COVID-19, yang dirawat di Rumah Sakit Cipta Mangunkusumo, sejak Maret hingga Oktober 2020.

Selama masa studi, sebanyak 490 pasien dirawat dan didiagnosis dengan dugaan dan kemungkinan COVID-19. Dari semua pasien, sebanyak 50 anak (10,2 persen) dikonfirmasi menderita COVID-19, dan 20 anak (40 persen) memiliki hasil yang fatal.

Hasil penelitian

Hasilnya diketahui bahwa tingkat kematian pada pasien anak penderita COVID-19 diketahui lebih tinggi terjadi pada pasien berusia 10 tahun. Ini dikategorikan sebagai pasien dengan penyakit parah ataupun kronis yang mendasarinya saat masuk.

Peneliti Utama studi tersebut, Rismala Dewi, juga mengatakan sebagian besar pasien anak-anak yang meninggal tersebut umumnya memiliki lebih dari satu komorbid. Kebanyakan adalah pasien dengan gagal ginjal dan pasien dengan keganasan.

Komorbid tak terdeteksi penyebab tingginya kematian pasien anak COVID-19

Baru-baru ini, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan juga mengatakan, kegagalan dalam mendeteksi penyakit penyerta pada anak menjadi faktor penyebab angka kematian anak akibat COVID-19 menjadi sangat tinggi.

Sebagaimana data IDAI, di mana 1 dari 8 kasus COVID-19 adalah anak-anak. Dilansir dari Liputan 6, dari jumlah kasus tersebut, 3 sampai 5 persen anak di antaranya meninggal dunia akibat COVID-19 dan separuhnya adalah balita.

Artinya, kematian paling tinggi akibat COVID-19 pada anak adalah balita (50 persen). Kemudian kematian pada kelompok usia 10-18 tahun, yaitu 30 persen.

“Salah satu komorbid pada anak, yakni malnutrisi, obesitas, kelainan bawaan cerebral palsy, dan tuberkulosis (TBC), yang kadang tidak terdeteksi. Jadi, akhirnya inilah (komorbid) yang memperberat tingginya angka kematian COVID-19 pada anak.”

Gencarkan tes PCR pada anak

Menurut Aman, angka kematian COVID-19 pada anak di Indonesia termasuk tertinggi. Hal tersebut terjadi salah satunya karena fasilitas pelayanan kesehatan kesulitan menangani kasus corona pada anak.

Ditambah dengan jumlah pasien yang terus bertambah dalam waktu bersamaan, membuat para tenaga kesehatan semakin tidak bisa optimal dalam memberikan pelayanannya.

Tak hanya itu, kesenjangan tes PCR antara satu wilayah dengan wilayah lainnya juga membuat angka kematian kasus anak penderita corona semakin bertambah.

Oleh karena itu, tes PCR sangat perlu digencarkan pada anak-anak karena mereka juga sangat rentan terkena COVID-19. Diharapkan dengan begitu penyakit penyerta yang dimiliki anak bisa lebih dini terdeteksi dan ditangani.

Jangan hemat-hemat atau menunda-nunda pelaksanaan tes ini termasuk pada anak. Karena Jika tidak dilakukan tes PCR pada anak, sementara mereka menunjukkan gejala, maka bahaya long COVID-19 akan mengancam.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

NCBI, diakses pada 1 Juli 2021

Mayo Clinic, diakses pada 1 Juli 2021

The Lancet, diakses pada 1 Juli 2021

Liputan 6, diakses pada 1 Juli 2021

    register-docotr