Covid-19

Benarkah Varian Baru Mutasi COVID-19 Tidak Terdeteksi Lewat PCR Test?

May 5, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Beberapa varian baru mutasi dari virus COVID-19 selama 15 bulan telah terjadi. Perlu diketahui, virus SARS-CoV-2 dapat bermutasi dari waktu ke waktu, yakni menghasilkan variasi genetik dalam populasi strain virus yang beredar.

Namun, belakangan diketahui bahwa jenis baru dari mutasi virus corona ini tidak dapat terdeteksi melalui PCR test. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai masalah ini yuk simak penjelasan berikut.

Baca juga: Mengenal Saliva Test untuk Deteksi COVID-19, Akurat atau Tidak?

Varian baru mutasi COVID-19 tidak terdeteksi PCR test

Dilansir Times Now News, mutasi baru dari virus korona tampaknya lolos dari uji RT-PCR COVID-19. Dokter Konsultan di Helvetia Medical Center di Delhi, India, Dr Souradipta Chandra mengatakan bahwa ada varian mutan ganda dan tiga dari COVID-19 dengan gejala tidak terlihat.

Seorang ilmuwan India saat ini mengatakan bahwa galur mutan ganda dan rangkap tiga yang pertama kali terdeteksi di India adalah satu varian virus korona yang sama.

Dr. Chandra melanjutkan jika mutan baru tidak terdeteksi oleh PCR test di mana varietas baru ini sepertinya menimbulkan gejala baru.

Gejala baru yang diperhatikan pada pasien COVID-19 selama gelombang kedua, termasuk diare, sakit perut, ruam, konjungtivitis, kebingungan, dan kabut otak.

Beberapa kasusnya juga disertai dengan gejala virus corona yang biasa, seperti sakit tenggorokan, nyeri badan, demam, serta kehilangan bau dan rasa. 

Mutasi virus korona di Prancis

Varian virus korona yang sama sekali baru telah ditemukan di wilayah Brittany, Prancis. Kemunculan varian baru ini ditandai dengan sindrom pernapasan akut parah coronavirus 2 atau SARS-CoV-2.

Menurut kementerian setempat, varian baru ini ditemukan dalam sekelompok kasus di sebuah rumah sakit di kota regional Lannion. Dalam kasus ini, diumumkan bahwa delapan kasus mutasi baru yang disebut varian Breton terdeteksi dengan tes polymerase chain reaction atau PCR negatif.

Analisis awal untuk kasus tersebut tidak menunjukkan bahwa varian baru lebih menular atau mematikan daripada mutasi lainnya. Namun, pejabat kesehatan mengatakan jika kegagalan tes PCR untuk mendeteksi virus ini meningkatkan kekhawatiran.

Ahli virologi Belgia dan juru bicara interferensi COVID-19, Steven Van Gucht mengklarifikasi bahwa sekitar delapan orang menunjukkan gejala khas dari virus corona tetapi tesnya tetap negatif.

Bagaimana tindakan terhadap masalah ini?

Food and Drug Administration atau FDA sedang memantau mutasi baru dan dampaknya pada tes molekuler SARS-CoV-2, serta mengambil tindakan untuk memastikan tes tetap akurat. Varian B1.1.7 yang muncul juga terus dipantau dan dievaluasi.

Hal ini bertujuan agar informasi dapat terus diberikan kepada penyedia layanan kesehatan. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengategorikan strain baru sebagai varian dalam penyelidikan atau VUI.

Kategori VUI ini mencakup ribuan varian yang muncul secara alami, di mana hanya sebagian kecil kemungkinan menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat. Gucht menambahkan jika varian baru dapat terus muncul karena virus terus mengembangkan mutasi dalam genomnya. 

Rekomendasi FDA diberikan kepada staf laboratorium klinis dan penyedia layanan kesehatan yang menggunakan tes molekuler untuk mendeteksi SARS-CoV-2.

Beberapa rekomendasi atau saran yang dimaksud, berupa:

  • Ketahuilah bahwa varian genetik SARS-CoV-2 muncul secara teratur dan hasil tes negatif palsu dapat terjadi.
  • Ketahuilah jika tes yang menggunakan beberapa target genetik untuk menentukan hasil akhir cenderung tidak dipengaruhi oleh peningkatan prevalensi varian genetik.
  • Pertimbangkan hasil negatif dalam kombinasi dengan observasi klinis, riwayat pasien, dan informasi epidemiologi.
  • Pertimbangkan untuk mengulangi pengujian dengan tes berbeda atau dengan target genetik berbeda jika masih dicurigai COVID-19 setelah menerima hasil tes negatif.

Selalu konsultasikan juga bersama dokter apabila memiliki gejala mirip COVID-19 meski hasil tes yang didapatkan negatif. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil tes akurat karena varian mutasi COVID-19 sekarang banyak menunjukkan hasil yang tidak tepat.

Baca juga: Apa Perbedaan Tes Antibodi Kualitatif dan Antibodi Kuantitatif COVID-19?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr