Covid-19

Benarkah Vaksin COVID-19 Membuat Siklus Menstruasi Berubah?

June 23, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Belakangan ini viral tentang keluhan menstruasi yang terganggu pascavaksin COVID-19. Ternyata bukan cuma vaksin saja, bahkan virus SARS-CoV-2 sendiri, sempat disebut-sebut memengaruhi siklus menstruasi. 

Lalu apakah benar kabar tersebut? Bagaimana efek yang sebenarnya? Berikut penjelasan selengkapnya!

Benarkah vaksin COVID-19 akan mengganggu siklus menstruasi?

Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat mendukung pernyataan tersebut. Walaupun mungkin berhubungan, sifatnya mungkin hanya sementara. 

Sejauh ini, menurut Healthline, memang terdapat sejumlah laporan tentang perubahan siklus menstruasi setelah menerima vaksin. Beberapa juga mengalami menstruasi yang lebih berat dari biasanya. 

Namun, kalaupun itu terjadi karena vaksin, kemungkinan hanya terjadi sementara waktu. Nantinya siklus akan kembali normal setelah beberapa minggu pascavaksin. 

Dari beberapa data yang sudah ada, berikut sedikit kaitan yang bisa diketahui tentang efek vaksin COVID-19 terhadap siklus menstruasi. 

  • Sejak awal april 2021, sekitar 958 kasus perubahan menstruasi telah dilaporkan ke British Medicine and Healthcare Products Regulatory Agency.
  • Perubahan siklus menstruasi yang dilaporkan meliputi; menstruasi lebih berat, terjadinya perdarahan di antara waktu menstruasi dan perdarahan setelah menopause. 
  • Efek ini lebih umum terjadi pada orang yang menerima vaksin AstraZeneca, dibandingkan dengan vaksin Pfizer-BioNTech. 

Tanggapan tentang keluhan gangguan siklus menstruasi pascavaksin

Dikutip dari Detik.com, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof Hindra Irawan Satari, menyarankan jika mengalami gangguan menstruasi pascavaksin, perlu memeriksakan diri ke dokter. 

“Untuk memastikan itu benar harus ke dokter kebidanan, untuk diperiksa hormonnya, diperiksa USG, diperiksa darahnya, jadi jangan menganggap ini karena vaksin tahu-tahu miom, tahu-tahu kanker, tahu-tahu infeksi,” katanya. 

Saran tersebut diberikan lantaran selama fase clinical trial, baik itu fase I, II dan III, tidak ada laporan yang menyebutkan adanya gangguan siklus menstruasi pascavaksin COVID-19. 

Meski tidak terjadi di masa uji vaksin, keluhan tersebut, jika memang ada, akan tetap dicatat sebagai KIPI

Mungkin juga karena efek sistem imun

Dilansir Healthy Women, Dr. Frank Tu, seorang profesor klinis di University of Chicago, berhipotesis bisa saja gangguan siklus menstruasi itu karena vaksin yang tengah bekerja. 

“Vaksin apa pun yang begitu kuat sehingga memicu respons imun yang begitu kuat memiliki efek yang sangat besar pada tubuh,” katanya.

Setelah vaksin, sebagian orang juga mungkin mengalami kelelahan dan gejala seperti flu. 

Menurutnya, itu mungkin dapat memengaruhi lapisan rahim dan tingkat endokrin juga. Namun kembali lagi karena belum banyak bukti ilmiah yang mendukung, belum bisa dipastikan apakah benar efek tersebut terjadi akibat vaksin COVID-19. 

Adakah kemungkinan lain terkait pandemi yang memengaruhi siklus menstruasi?

Sejak terjadinya pandemi, sudah ada laporan yang menyebutkan COVID-19 memengaruhi siklus menstruasi. Tapi, penelitian menunjukkan, tidak ada kaitannya serangan virus terhadap siklus menstruasi. 

Sebuah studi menemukan bahwa lapisan rahim kemungkinan aman dari infeksi langsung dari virus penyebab COVID-19. Sehingga, kemungkinan besarnya, perubahan siklus menstruasi tidak terkait langsung dengan virus corona. 

Tapi, ada kemungkinan bahwa infeksi itu dapat membuat tubuh stres atau menyebabkan perubahan hormonal. Inilah yang kemudian dapat menyebabkan terganggunya siklus menstruasi. 

Stres pandemi dan pengaruhnya pada siklus menstruasi

Menghadapi perubahan akibat pandemi, karantina hingga kehidupan new normal, dapat memicu stres pandemi. Orang-orang yang menghadapinya bisa merasakan kekhawatiran terkait:

  • Kesehatan pribadi dan kesehatan orang terdekat
  • Kondisi isolasi sosial yang membuat terjadinya jarak fisik dengan orang-orang di sekitar
  • Kesulitan dengan kondisi baru saat anak harus sekolah dari rumah
  • Mempertahankan pekerjaan
  • Menjaga berat badan
  • Peningkatan minum minuman beralkohol arau merokok

Semua itu kemudian bisa menyebabkan peningkatan stres dan berpengaruh pada siklus menstruasi. Menstruasi menjadi tidak teratur, lebih ringan atau bahkan terlewat.

Kondisi tersebut telah dibuktikan melalui sebuah penelitian, bahwa tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan siklus menstruasi yang tidak teratur.

Studi lainnya juga mendukung bahwa stres yang tinggi berkaitan dengan menstruasi yang terlambat, menstruasi yang menyakitkan hingga munculnya sindrom pramenstruasi (PMS). 

Dengan kata lain, COVID-19 atau kondisi pascavaksin, sebenarnya belum tentu berkaitan langsung dengan terganggunya siklus menstruasi. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr