Covid-19

Benarkah Mencampur Vaksin COVID-19 Pfizer dan AstraZeneca Menghasilkan Antibodi yang Lebih Kuat?

July 1, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Telah dilakukan penelitian pemberian dua dosis vaksin, dari jenis yang berbeda. Hasilnya ternyata dapat membentuk respons imun yang protektif terhadap virus penyebab COVID-19.

Penelitian tersebut, meggunakan dua jenis vaksin yang berbeda. Yaitu, jenis vaksin mRNA dan vaksin adenovirus. Untuk lebih lanjut mengenal jenis-jenis vaksin tersebut, dan khasiat pencampurannya, berikut penjelasan selengkapnya.

Pencampuran dua jenis vaksin

Seperti yang sudah disebutkan, telah dilakukan penelitian yang mencampurkan vaksin jenis mRNA dan adenovirus. Kedua jenis ini tentunya memiliki perbedaan dalam bahan dan pembuatannya.

Salah satu perbedaannya adalah isi dari vaksin itu sendiri. Mudahnya, pada vaksin jenis mRNA, berisikan agen-agen yang akan mengajari sel manusia untuk membuat protein yang memicu respons imun di dalam tubuh.

Dari situ kemudian tubuh akan menghasilkan antibodi. Antibodi itu yang akan melindungi kita, saat virus yang sebenarnya masuk ke dalam tubuh. Salah satu vaksin COVID-19 yang termasuk jenis ini adalah pfizer.

Sementara itu, jenis vaksin adenovirus berisikan modifikasi virus, yang akan membuat sel kita terlatih untuk mengenalinya dan membuat sel imun meresponsnya dengan membangun antibodi. Vaksin COVID-19 yang termasuk jenis ini adalah astrazeneca.

Menurut New York Times, dalam penelitian yang mencampurkan Pfizer dan AstraZeneca, menunjukkan kekebalan tingkat tinggi pada pesertanya.

Walaupun, peserta yang menerima jenis vaksin berbeda mengalami lebih banyak reaksi. Peserta mengeluhkan kedinginan, sakit kepala dan nyeri otot. Namun, keluhan itu hanya berlangsung dalam jangka pendek atau sementara saja.

Perlindungan yang lebih kuat

Penelitian pencampuran vaksin itu dilakukan pada Februari lalu. Melibatkan 830 peserta sukarelawan. Penelitian dibagi menjadi empat pola kombinasi vaksin.

Pola pertama adalah, peserta diberikan dua dosis pfizer. Kedua, peserta diberi dua dosis astrazeneca. Pola ketiga adalah diberikan satu dosis pfizer di awal dan dosis kedua diberikan astrazeneca.

Terakhir kebalikannya, yaitu dosis pertama diberikan astrazeneca dan dosis kedua diberikan pfizer. Masing-masing relawan diberikan waktu empat minggu dari pemberian dosis pertama ke dosis kedua.

Hasilnya, ditemukan bahwa peserta yang mendapatkan pfizer diikuti astrazeneca menunjukkan tingkat antibodi sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang menerima dua dosis astrazeneca.

Sementara peserta yang mendapat kan dosis pertama astrazeneca dan dosis kedua mendapat vaksin pfizer, memiliki antibodi yang sama tingginya dengan orang-orang yang mendapatkan dua dosis vaksin pfizer.

Sedangkan peserta yang mendapatkan dua dosis pfizer menghasilkan tingkat antibodi sekitar 10 kali lebih tinggi, dibandingkan mereka yang mendapatkan dua dosis astrazeneca.

Namun, hasil ini mungkin berbeda, jika jeda dari dosis pertama ke dosis kedua diubah. Karena menurut Dr. Matthew Snape, ahli vaksin di Universitas Oxford mengatakan, hasil akan berbeda jika orang yang mendapat dosis pertama astrazeneca, medapatkan dosis keduanya setelah 12 minggu.

Karena menurut penelitian, vaksin astrazeneca akan melindungi lebih kuat, jika booster atau dosis kedua diberikan hingga 12 minggu.

Apakah hasil penelitian ini akan menjadi acuan pemberian vaksin campur?

Penelitian tersebut memang menemukan bahwa penggunaan vaksin yang berbeda dapat menghasilkan tingkat kekebalan yang lebih tinggi terhadap COVID-19 daripada pemberian dua dosis dari vaksin yang sejenis.

Tapi, sayangnya, di balik keuntungan dari pencampuran vaksin itu belum diketahui pasti. Sehingga, masih perlu dilakukan penelitian lanjutan lainnya. Apalagi, saat ini, baru dilakukan pencampuran dari jenis tertentu saja.

Dr. Snape dan rekan-rekannya akan melakukan uji coba serupa. Namun uji coba tersebut akan menggunakan jenis vaksin lainnya. Misalkan saja, mungkin menambahkan vaksin moderna dan novavax.

Tetap menggunakan satu jenis vaksin yang sama

Sementara uji coba masih terus dilakukan, pemberian vaksin dua dosis dari jenis yang sama masihlah menjadi jalan terbaik. Karena, dengan metode tersebutlah yang sudah terjamin aman dan sudah lulu dari uji klinis besar.

Tetapi, bukan tidak mungkin nantinya akan dilakukan pemberian vaksin COVID-19 dari jenis yang berbeda. “Penelitian sebelumnya sudah memberikan bukti meyakinkan, yang seharusnya ini berhasil,” kata Dr. Snape, dilansir dari New York Times.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr