Kehamilan

Viral Kasus Aktor Korea ‘K’, Ini Efek Berbahaya Aborsi pada Kesehatan Fisik dan Mental

October 22, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Akhir-akhir ini kata ‘aborsi’ ramai diperbincangkan setelah seorang aktor Korea berinisial ‘K’ tersangkut kasus dugaan permintaan aborsi terhadap mantan kekasihnya.

Aborsi sendiri merupakan salah satu prosedur medis terkait kehamilan yang bisa dibilang cukup kontroversial. Sama halnya dengan tindakan kesehatan lainnya, aborsi juga memiliki risiko terhadap kesehatan fisik maupun mental.

Baca juga: 5 Manfaat Kuaci untuk Ibu Hamil, Salah Satunya Tingkatkan Imunitas!

Apa itu aborsi?

Aborsi adalah prosedur kesehatan yang dilakukan untuk mengakhiri sebuah kehamilan. Tindakan ini juga dikenal dengan istilah penghentian kehamilan.

Aborsi dapat dilakukan dengan beberapa cara baik itu dengan mengonsumsi obat tertentu maupun melalui prosedur pembedahan.

Pada beberapa kasus, aborsi merupakan pilihan yang harus dihadapi ketika ada indikasi medis yang menunjukkan bahwa kondisi kandungan ternyata berisiko besar jika harus dilanjutkan. Ini termasuk jika kehamilan tersebut mengancam kehidupan sang ibu, maupun bayi itu sendiri.

Komplikasi yang dapat terjadi

Setiap tindakan aborsi memiliki risiko komplikasinya masing-masing, berikut adalah beberapa di antaranya:

Aborsi medis

Merupakan prosedur aborsi yang menggunakan obat-obatan untuk mengakhiri kehamilan. Tindakan ini tidak memerlukan pembedahan maupun anestesi.

Dilansir dari NHS.uk, apabila aborsi medis dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 14 minggu, maka risiko komplikasi yang bisa terjadi adalah:

  1. Membutuhkan prosedur medis lain untuk menghilangkan bagian kehamilan yang tertinggal di dalam rahim: ini terjadi pada sekitar 70 dari 1.000 wanita.
  2. Komplikasi serius seperti perdarahan hebat, kerusakan rahim, atau sepsis: ini terjadi pada sekitar 1 dari 1.000 wanita.

Sementara itu jika aborsi medis dilakukan sejak 14 minggu kehamilan, risiko utama yang dapat muncul adalah:

  1. Membutuhkan prosedur medis lain untuk menghilangkan bagian kehamilan yang tertinggal di dalam rahim: sekitar 13 dari 100 wanita.
  2. Infeksi atau cedera pada rahim: ini terjadi pada sejumlah kecil wanita.

Aborsi bedah

Aborsi bedah melibatkan pengangkatan janin melalui vagina dengan cara pembedahan. Untuk melakukannya, serviks harus dibuka cukup lebar untuk memungkinkan instrumen bedah masuk ke dalam rahim.

Dilansir dari Better Health, kemungkinan komplikasi aborsi bedah dapat meliputi:

  1. Perdarahan, apabila tindakan aborsi tidak lengkap
  2. Demam dapat mengindikasikan bahwa kamu mengalami infeksi
  3. Cedera pada rahim, karena terkadang instrumen bedah yang digunakan untuk aborsi dapat melukai dinding rahim.
  4. Luka pada serviks karena serviks teregang selama aborsi.

Dampak aborsi pada kesehatan

Aborsi adalah keputusan besar dengan konsekuensi emosional dan psikologis yang cukup berat. Berikut adalah beberapa dampak tindakan ini pada kesehatan mental maupun fisik.

Efek emosional dari aborsi

Mengakhiri kehamilan dapat menyebabkan perasaan sedih dan depresi. Ini karena bagi banyak orang, tindakan tersebut bisa menjadi peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Dilansir dari Medical News Today, beberapa perasaan negatif yang umum muncul setelah tindakan aborsi di antaranya adalah:

  1. Merasa bersalah
  2. Marah
  3. Malu
  4. Menyesal
  5. Kehilangan harga diri atau kepercayaan diri
  6. Perasaan terisolasi dan kesepian
  7. Masalah tidur dan mimpi buruk
  8. Masalah hubungan
  9. Muncul pikiran untuk bunuh diri.

Selain itu, beberapa orang mungkin mengalami stres, atau rasa kehilangan yang sulit untuk diatasi. Terkadang bahkan muncul pikiran untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri, sehingga ia harus mencari bantuan dengan segera untuk mengatasi hal ini.

Dampak fisik setelah melakukan aborsi

Setelah melakukan aborsi, kamu mungkin akan mengalami beberapa jenis nyeri haid, kram perut, dan perdarahan vagina. Ini akan mulai membaik secara bertahap setelah beberapa hari, tetapi dapat berlangsung selama 1 hingga 2 minggu.

Perdarahan yang terjadi biasanya mirip dengan perdarahan menstruasi pada umumnya. Tetapi kamu mungkin juga mengeluarkan beberapa gumpalan darah kecil.

Dalam kasus aborsi bedah, kamu bisa saja tidak mengalami perdarahan sampai menstruasi berikutnya tiba. Efek fisik lain dari aborsi medis biasanya muncul dari efek jangka pendek obat-obatan, seperti mual dan diare. Kondisi ini wajar dan biasanya akan berhenti dalam 3 hari.

Baca juga: Garis Test Pack Samar, Apakah Benar Positif Hamil?

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

NHS.uk diakses pada 21 Oktober 2021

NHS.uk diakses pada 21 Oktober 2021

Mayo Clinic diakses pada 21 Oktober 2021

Better Health diakses pada 21 Oktober 2021

Very Well Family diakses pada 21 Oktober 2021

American Psychological Associaton diakses pada 21 Oktober 2021

Medical News Today diakses pada 21 Oktober 2021

HSE.ie diakses pada 21 Oktober 2021

Tempo.co diakses pada 22 Oktober 2021

    register-docotr