Kehamilan

Benarkah Akibat Jarak Kehamilan Terlalu Dekat, Dinding Rahim Bisa Robek?

November 17, 2020 | Arianti Khairina
no-image

Proses melahirkan tentunya menjadi tantangan bagi para ibu hamil karena mempertaruhkan nyawa mereka. Ada juga beberapa kasus yang mengancam nyawa ibu karena mengalami robek pada bagian rahim saat persalinan. 

Benarkah jika jarak kehamilan terlalu dekat, dinding rahim bisa robek?

Dilansir dari penjelasan Healthline, robeknya rahim atau dalam istilah medis disebut sebagai ruptur uteri. Hal ini merupakan komplikasi kelahiran anak yang serius karena dapat terjadi selama persalinan. Lalu apa penyebab ruptur uteri?

Selama persalinan, tekanan meningkat saat bayi bergerak melalui jalan lahir ibu. Tekanan ini bisa menyebabkan rahim ibu robek. Seringkali, rahim robek di sepanjang lokasi bekas luka persalinan sesar sebelumnya. Ketika robeknya rahim, isi rahim, termasuk bayi, bisa tumpah ke perut ibu.

Ruptur uteri ini menyebabkan rahim ibu robek sehingga bayinya tergelincir ke perutnya. Dan bisa menyebabkan pendarahan hebat pada ibu, serta parahnya bisa membuat bayi tercekik. 

Namun pada umumnya wanita mengalami hal seperti ini, jika menjalani sebuah kehamilan yang jaraknya terlalu dekat. Oleh sebab itu, perlu kamu ketahui bahwa ada waktu yang tepat bagi kamu untuk kembali hamil setelah melakukan operasi caesar, berikut ini penjelasannya: 

Jarak yang tepat untuk hamil setelah operasi caesar

Banyak dokter yang menyarankan agar kamu yang ingin kembali hamil sebaiknya menunggu lebih dulu sekitar 18-24 bulan sebelum hamil lagi. Apalagi bagi kamu yang pernah menjalani operasi caesar sebelumnya.

Alasannya karena, bila hamil lagi kurang dari 6 bulan setelah operasi caesar bisa meningkatkan risiko ibu mengalami ruptur uteri ini dan selain juga berat badan bayi yang rendah.

Kondisi ini mempengaruhi kurang dari 1 persen wanita hamil. Rahim robek pada saat proses melahirkan ini hampir selalu terjadi pada wanita dengan bekas luka rahim setelah persalinan sesar sebelumnya atau operasi rahim lainnya.

Risiko wanita mengalami ruptur uteri meningkat dengan setiap operasi caesar.

Inilah sebabnya mengapa dokter mungkin menyarankan wanita yang pernah menjalani persalinan sesar menghindari persalinan pervaginam pada kehamilan selanjutnya.

Kelahiran per vaginam setelah persalinan sesar sebelumnya dimungkinkan, tetapi wanita dalam persalinan akan dianggap berisiko lebih tinggi dan dipantau secara ketat.

Apa saja gejala ruptur uteri?

Melansir penjelasan dari Healthline, berbagai gejala berhubungan dengan ruptur uteri. Beberapa gejala lain yang mungkin termasuk yaitu: 

  • Perdarahan vagina yang berlebihan.
  • Nyeri tiba-tiba di antara kontraksi.
  • Kontraksi yang menjadi lebih lambat atau kurang intens.
  • Nyeri atau nyeri perut yang abnormal.
  • Resesi kepala bayi ke jalan lahir.
  • Menonjol di bawah tulang kemaluan.
  • Nyeri mendadak di lokasi bekas luka uterus sebelumnya.
  • Hilangnya tonus otot rahim.
  • Denyut jantung cepat, tekanan darah rendah, dan syok pada ibu.
  • Detak jantung abnormal pada bayi.
  • Kegagalan persalinan untuk berkembang secara alami. 

Apa risiko ruptur uteri?

Penjelasan dari Healthline, pecahnya rahim bisa menjadi komplikasi persalinan yang mengancam jiwa bagi ibu dan bayinya.

Pada ibu, ruptur uteri dapat menyebabkan kehilangan banyak darah atau pendarahan. Namun pendarahan fatal akibat ruptur uteri jarang terjadi bila terjadi di rumah sakit.

Ruptur uteri biasanya merupakan masalah kesehatan yang jauh lebih besar bagi bayi. Begitu dokter mendiagnosis pecahnya rahim, mereka harus bertindak cepat untuk menarik bayi dari ibunya. Jika bayi tidak dilahirkan dalam 10 sampai 40 menit, ia akan meninggal karena kekurangan oksigen.

Baca juga: Kenali Ciri-ciri Kehamilan Ektopik: Janin Tumbuh di Luar Rahim

Apakah ruptur uteri dapat dicegah?

Satu-satunya cara untuk mencegah ruptur uteri adalah dengan melakukan sesar. Ini tidak dapat sepenuhnya dicegah selama persalinan normal.

Rahim yang pecah seharusnya tidak menghentikan kamu untuk memilih persalinan. Namun, penting untuk mendiskusikan semua pilihan dengan dokter, sehingga dapat membuat keputusan terbaik untuk ibu dan bayimu. 

Tak lupa sangat disarankan untuk memastikan dokter mengetahui riwayat kesehatan dan mengetahui adanya kelahiran sebelumnya melalui persalinan sesar atau operasi di rahim ya. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Healthline.com (2017) diakses pada 16 November 2020. Pregnancy Complications: Uterine Rupture
  2. Reference.medscape.com (2018) diakses pada 16 November 2020. Uterine Rupture in Pregnancy
  3. Babycenter.com (2020) diakses pada 16 November 2020. Uterine rupture 
    Berita Terkait
    register-docotr