News from Good Doctors

Memanfaatkan Instrumen Manajemen Kesehatan Digital untuk Mendukung Keberhasilan Kebangkitan Kembali Ekonomi Indonesia

November 15, 2021 | Dewi Nurfitriyana
feature image

Kondisi kesehatan karyawan sangat penting bagi semua perusahaan karena karyawan yang sehat dapat bekerja secara optimal sesuai dengan perannya dan mendukung tenaga kerja yang lebih produktif. Karena semakin banyak organisasi yang terus menerapkan Bekerja dari Rumah (WFH) untuk menekan penyebaran COVID-19 di tempat kerja, semakin banyak karyawan yang berjuang untuk menjaga kesehatan fisik dan mental mereka karena batas antara pekerjaan dan rumah semakin tidak jelas.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam BMC Public Health mengenai dampak kesehatan mental dan fisik pada karyawan yang bekerja dari rumah karena COVID-19 menunjukkan ada 10 hasil kesehatan yang dilaporkan, yaitu rasa sakit, kesehatan secara umum (self-health reported), keselamatan, kesejahteraan, stres, depresi, kelelahan, kualitas hidup, ketegangan, dan kebahagiaan. Salah satu unsur yang sangat mempengaruhi dampak pada hasil kesehatan adalah tingkat dukungan organisasi yang tersedia bagi karyawan.

Salah satu fasilitas penting yang dapat disediakan perusahaan untuk mendukung karyawan mereka mengelola kesehatan secara lebih efektif adalah dengan memanfaatkan layanan kesehatan digital. Menyadari meningkatnya permintaan di antara organisasi lokal, Good Doctor Technology Indonesia (GDTI) baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka bermaksud untuk terus berkolaborasi dengan berbagai mitra perusahaan untuk merancang program kesehatan digital dalam aplikasi Good Doctor. Program kesehatan itu dirancang secara khusus untuk memenuhi prioritas kesehatan dari setiap perusahaan yang berkolaborasi dengan mereka.

Langkah Good Doctor untuk berkolaborasi dengan berbagai organisasi untuk meningkatkan aksesibilitas teknologi kesehatan digital mutakhir juga sejalan dengan pilar keenam dari 6 Pilar Transformasi Sistem Kesehatan 2021—2024 yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang berfokus pada transformasi teknologi kesehatan. Dengan bekerja sama dengan lebih banyak mitra korporat, Good Doctor bertujuan untuk mempercepat adopsi teknologi dan solusi kesehatan digital di antara karyawan dan memberdayakan lebih banyak orang Indonesia untuk membuat keputusan berdasarkan data yang lebih cerdas tentang kesehatan mereka.

“Super Warrior Wellness Program” merupakan salah satu program perawatan kesehatan holistik terbaru yang dikelola oleh Good Doctor untuk salah satu mitra perusahaan asuransi mereka, AXA Financial Indonesia (AFI). Program ini mencakup berbagai instrumen pemeriksaan kesehatan fisik dan mental secara mandiri, termasuk ketersediaan konsultasi dokter online serta berbagai layanan baik dari aspek kesehatan fisik seperti pengobatan diabetes, gangguan kardiovaskular dan masalah kesehatan terkait polusi wilayah, gangguan muskuloskeletal, obesitas, kecanduan alkohol dan rokok maupun aspek kesehatan mental.

Manfaat “Super Warrior Wellness Program” telah dirasakan secara pribadi oleh Anneke Rombot, karyawan AFI, yang telah mengikuti program kesehatan ini sejak awal diluncurkan pada April 2021. “Program ini sangat membantu dan sangat bermanfaat, terutama di masa pandemi ini, di mana kita khawatir untuk berobat ke dokter/klinik/rumah sakit. Selain itu, adanya webinar yang rutin diadakan oleh AXA Financial Indonesia dan Good Doctor membantu saya untuk mendapatkan informasi yang kredibel seperti cara meningkatkan imunitas, vaksin, dan pola hidup sehat serta bisa langsung bertanya kepada sumbernya, kami juga memperoleh informasi yang bermanfaat dan tepat waktu melalui media sosial, Grup Whatsapp, dan e-mail yang memberikan info menarik dan relevan dengan kondisi saat ini.”

Managing Director Good Doctor Technology Indonesia, Danu Wicaksana, mengatakan, “Kami percaya bahwa dengan memberikan solusi kesehatan digital di tangan banyak orang, kami dapat meningkatkan kualitas kehidupan mereka dan mendorong lebih banyak orang Indonesia untuk menjadi “super warrior” yang berkomitmen untuk mengutamakan kesehatan mereka dengan mengambil langkah proaktif dalam merawat diri mereka sendiri secara holistik. Kami telah melihat tingkat penyerapan lebih dari 60% seluruh grup pelanggan AXA, dengan lebih dari 1000 telekonsultasi yang ditangani oleh dokter kami.”

Dengan menggabungkan instrumen tersebut dengan program kesehatan khusus dan menyesuaikan pendekatan mereka, Good Doctor bermaksud untuk berkolaborasi dengan lebih banyak perusahaan di berbagai sektor untuk membekali mereka dengan teknologi kesehatan terbaik di kelasnya dan memfasilitasi status kesehatan dan kebugaran karyawan mereka dengan manajemen yang cerdas. Untuk mencapai tujuan tersebut, GDTI juga bekerja sama dengan Third Party Administrator (TPA) dan perusahaan asuransi besar lainnya di Indonesia.

Melalui kerjasama GDTI yang sudah ada dengan TPA, pengguna dapat menggunakan Limit Rawat Jalan mereka dengan mudah tanpa harus membayarnya kembali karena pembayaran akan ditanggung oleh Manfaat Rawat Jalan. Data internal tim B2B GDTI menunjukkan bahwa antara Maret 2021 hingga Juli 2021, mereka telah melihat ratusan perusahaan baru mengadopsi layanan kesehatan digital Good Doctor untuk karyawan mereka. Dengan tren yang selalu tinggi ini, Good Doctor berharap dapat terus memainkan peran mereka dalam mendukung keberhasilan pembukaan kembali ekonomi lokal dengan memperkuat aset paling berharga dari semua perusahaan—karyawan mereka.

Progam manajemen kesehatan digital yang dirancang GDTI untuk berbagai perusahaan mitranya tidak lantas mengesampingkan program vaksinasi COVID-19 yang sudah lebih dulu ada. GDTI bekerja sama dengan berbagai pihak tetap mengadakan sentra vaksinasi massal demi menyukseskan program vaksinasi nasional. Kesuksesan program itu akan melindungi masyarakat Indonesia dari COVID-19 sekaligus memutus mata rantai penularan virus ini.

Kali ini, GDTI bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota Depok (Dishub Kota Depok) – Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan dinas kesehatan menggelar sentra vaksinasi massal di Depok untuk usia 12 tahun ke atas. Vaksinasi COVID-19 yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional ini berlangsung pada tanggal 24 September 2021.

Anak berusia 12 tahun dapat mengikuti vaksinasi

“Sentra vaksinasi massal di Depok ini dilakukan sebagai lanjutan dari komitmen kami untuk membantu pemerintah Indonesia, yaitu Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam melakukan akselerasi vaksinasi nasional,” ujar Danu Wicaksana, Managing Director GDTI.

Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono, mengucapkan terima kasih atas partisipasi Good Doctor pada acara hari ini. “Semoga ke depan bisa terus berbuat kebaikan untuk membantu masyarakat Kota Depok dalam masalah kesehatan.” Menurut Imam, “Acara ini sangat penting karena berhubungan dengan perhubungan. Manusia yang hidup pasti akan melakukan pergerakan. Perhubungan merupakan bagian dari pergerakan manusia.”

Ir. H. Imam Budi Hatono, Wakil Walikota Depok

Para peserta vaksinasi harus sudah mendaftar melalui aplikasi Good Doctor atau aplikasi Grab (GrabHealth). Pada saat pendaftaran, mereka diskrining terlebih dulu. Lolos skrining, dilanjutkan dengan pengisian data pribadi secara lengkap sampai memperoleh status “Appointment Confirmed” atau “Janji Medis Terkonfirmasi” di aplikasi. Langkah yang diterapkan GDTI ini tentu saja mengurangi kerumunan massa dan meminimalkan pembatalan di lokasi. Pelaksanaan operasional vaksinasi pun menjadi lebih efisien guna mendukung kesuksesan program vaksinasi.

Wakil Walikota Depok berkeliling tempat vaksinasi dan bercakap-cakap dengan seorang anak laki-laki peserta vaksinasi. Ketika ditanya Bapak Imam mengapa mau divaksin? Anak itu mengatakan, “Untuk mencegah COVID.”

Peserta vaksinasi lainnya, seorang bapak yang sudah selesai divaksin, mengatakan, “Tidak terasa apa-apa. Tidak perlu takut. Ini penting untuk kesehatan.”

Ada lagi kemudahan yang diberikan Grab kepada para peserta vaksinasi, yaitu “Promo Diskon” untuk menuju ke lokasi vaksinasi. Peserta vaksinasi yang menggunakan jasa Grabcar dan Grabbike dapat memasukkan kode: LAWANCOVID di aplikasi mereka. Acara ini juga didukung oleh Redoxon, MDG, dan VivaDiag.

Danu mengatakan, “Saya mewakili Good Doctor ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Walikota Depok, Wakil Walikota Depok dan seluruh jajaran pemerintah Kota Depok beserta dinas kesehatan, dinas perhubungan, dan semua pihak atas dukungan yang diberikan sehingga acara ini berlangsung dengan lancar. Kami berharap kerja sama kita dapat terus berlanjut ke depannya supaya vaksinasi bisa cepat terakselerasi dan kehidupan ekonomi bisa segera pulih.”

Danu Wicaksana, Managing Director Good Doctor Technology Indonesia

Semua yang dilakukan GDTI—baik manajemen kesehatan digital maupun sentra vaksinasi massal—bertujuan untuk terus memberikan kualitas layanan kesehatan terbaik dan tepercaya bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat sehat, produktivitas meningkat, perekonomian pun bangkit.

Tim Good Doctor bersama partner dan sponsor di Sentra Vaksinasi Depok

Dengarkan Jantung Anda dan Bicaralah dengan Dokter, Sebelum Anda Jatuh Sakit

KLIK UNTUK INFORMASI SELENGKAPNYA

Dengan meningkatnya kasus masyarakat Indonesia yang hidup dengan penyakit kronis akibat gaya hidup yang kurang gerak, manajemen stres yang buruk, dan pola makan yang tidak sehat, para dokter dari Good Doctor Technology Indonesia (GDTI), mengimbau masyarakat untuk melakukan pendekatan preventif dengan mengadopsi teknologi kesehatan digital cerdas yang dirancang untuk membantu menjaga kesehatan mental dan fisik Anda. Dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 September, Good Doctor menyadari bahwa penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia, dan mengingatkan generasi muda Indonesia untuk memperhatikan kesehatan jantung mereka sejak dini.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sedikitnya 15 dari 1000 orang atau sekitar 2.784.064 orang di Indonesia menderita penyakit jantung, sehingga penyakit jantung koroner menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Faktanya, satu dari 10 orang Indonesia meninggal karena penyakit ini (@KemenkesRI).

Karena penyakit jantung tergolong penyakit tidak menular (PTM) yang dianggap tidak dapat disembuhkan setelah didiagnosis, penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa perkembangan PTM di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Dahulu penyakit ini banyak menyerang kelompok usia lanjut, namun kini mulai mengancam kelompok usia yang lebih muda. Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi penyakit jantung koroner dan gagal jantung pada kelompok usia produktif (15—64 tahun) adalah 3,33%. Sementara itu, Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi penyakit jantung pada kelompok usia yang sama mencapai 9,1%.

Dari perspektif kesehatan penduduk, tingginya angka penderita penyakit jantung juga meningkatkan biaya kesehatan negara secara keseluruhan. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan biaya kesehatan untuk penyakit jantung dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014, penyakit jantung membebani BPJS Kesehatan sebesar Rp 4,4 triliun, yang kemudian meningkat menjadi 7,4 triliun pada tahun 2016, dan selanjutnya terus meningkat pada tahun 2018, sebesar Rp 9,3 triliun.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, akan berdampak besar terhadap sumber daya manusia (SDM) dan perekonomian Indonesia di masa depan. Tren yang mengkhawatirkan ini diprediksi akan meningkat, terutama di tengah COVID-19.

Dilansir dari gooddoctor.co.id dan berdasarkan penelitian dari University of London dan Radcliffe Department of Medicine University of Oxford, orang dengan struktur dan fungsi jantung yang lebih sehat ternyata memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik. Termasuk peningkatan kapasitas untuk memecahkan masalah logika dan waktu reaksi yang lebih cepat.

Mengapa orang muda bisa terkena penyakit jantung?

Alasan utamanya adalah karena gaya hidup yang tidak sehat. Mulai dari makan makanan yang tidak sehat, minum alkohol, merokok, kurang aktivitas fisik hingga depresi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018, menunjukkan bahwa 95,5% masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah; 33,5% masyarakat kurang aktivitas fisik; 29,3% penduduk usia produktif merokok setiap hari; 31% mengalami obesitas sentral dan 21,8% mengalami obesitas pada orang dewasa.

Apa yang harus kita lakukan?

Jadilah pejuang kesehatan yang super dan jangan menunggu sampai jatuh sakit baru berkonsultasi dengan dokter.

Data internal tim B2B Good Doctor Technology Indonesia menunjukkan, “Sebelumnya, orang menggunakan layanan kami hanya ketika mereka sakit atau mengalami gejala yang mengkhawatirkan. Namun, tren ini tampaknya berubah dengan peningkatan sekitar 10 kali lipat dalam jenis obrolan pendidikan dalam 3 bulan terakhir tahun 2021.”

Melihat perkembangan tersebut, GDTI meningkatkan relevansi layanan kesehatan digital di kalangan masyarakat Indonesia dengan meluncurkan “Super Warrior Program” untuk AXA Financial Indonesia (AFI). Program kesehatan ini dirancang khusus untuk memenuhi prioritas kesehatan para karyawan dan pemegang polis mereka.

“Super Warrior” adalah fitur manajemen kesehatan lengkap yang mencakup aspek kesehatan fisik dan mental. Mulai dari edukasi berbagai topik kesehatan melalui webinar, penerapan pola hidup sehat, pengobatan hingga pengantaran obat ke rumah Anda. Program ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan masing-masing perusahaan. Dengan program ini, karyawan didorong untuk meningkatkan kesehatan dan menghindari perilaku tidak sehat. Melalui lebih banyak lagi kolaborasi kemitraan korporasi tersebut, GDTI melanjutkan komitmennya untuk memainkan perannya dalam memperkuat kesehatan masyarakat Indonesia dan mendorong masyarakat Indonesia untuk mengambil langkah proaktif dalam pengelolaan kesehatan mereka secara keseluruhan.

Jangan Abaikan Kesehatan Mental!

Tidak cukup hanya sehat secara fisik, kesehatan mental seseorang sangat mempengaruhi produktivitasnya dalam bekerja. Masalah mental juga dapat mengganggu kesehatan fisik seseorang.

Berbagai pembatasan dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19. Anak-anak bersekolah di rumah, karyawan bekerja dari rumah. Setiap keluar rumah wajib pakai masker. Sesampainya di rumah harus segera melakukan ritual membersihkan diri. Tidak ada lagi acara kumpul-kumpul dengan teman dan saudara. Kondisi itu sudah kita rasakan sejak pertengahan Maret 2020 dan masih berlangsung hingga sekarang.

Sebagai makhluk sosial, kondisi ini tentu membuat kita tidak nyaman, kita merasa tertekan. Psikolog Inez Kristanti, M.Psi memaparkan status kesehatan mental di Indonesia selama pandemi COVID-19. “Sebuah studi dari Iskandarsyah, A. (2020, 29 April) dengan 3.686 responden dari 33 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa 72% partisipan dilaporkan mengalami kecemasan dan 23% partisipan dilaporkan merasa tidak bahagia.”

Berbicara di acara media baru-baru ini yang diadakan oleh Good Doctor Technology Indonesia (GDTI) dan AXA Financial Indonesia, psikolog Inez menjelaskan bahwa gejala kecemasan antara lain kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir yang berlebihan, mudah marah dan kesal, serta sulit merasa rileks. Sementara itu, gejala depresi yang dilaporkan antara lain masalah tidur, kurangnya kepercayaan diri, kelelahan, dan kehilangan minat.

Bukan hanya pembatasan sosial yang menyebabkan masalah kesehatan mental. Para penyintas COVID-19 pun merasakan gangguan mental ini. Menurut dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD dari GDTI, “COVID adalah penyakit yang memiliki efek jangka panjang. Efek jangka panjangnya masih diteliti sampai sekarang. Ada literatur yang menyebutkan bahwa setahun setelah terpapar COVID-19, hampir 50% masih merasakan setidaknya satu gejala. Gejalanya bervariasi. Gejala yang dialami penyintas COVID-19 setelah 12 bulan atau lebih adalah sesak napas, cemas, depresi, lelah, dan capai. Misalnya, olahraga dengan intensitas rendah yang dilakukan hanya sebentar membuat Anda merasa lelah. Sementara itu, mereka yang 6 bulan telah sembuh dari COVID-19 dan masih merasakan gejala-gejala itu mencapai hampir 70%.”

dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp. PD, Dokter Penyakit Dalam

Kondisi itulah yang dikenal dengan istilah Long COVID. “Long COVID-19 adalah apabila setelah empat pekan sejak mulai merasakan gejala COVID-19 sampai dinyatakan negatif, masih timbul gejala sisa. Gejala ini dapat berupa sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan,” ujar dr. Jeff dalam Good Talk yang berkolaborasi dengan Hippindo, Sentra Vaksinasi Serviam, dan Personal Growth.

Virus Corona bahkan menyebabkan aspek kognitif mengalami penurunan. Menurut dr. Jeff, aspek reasoning (penalaran) dan analisis (pemecahan masalah) merupakan aspek kognitif yang paling terdampak akibat penyakit ini. “Kognitif terganggu akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia suatu bangsa yang ujung-ujungnya pada outcome atau produk domestik bruto (PDB) suatu negara. Performa negara ini terhadap negara-negara lain akan makin tertinggal.”

Sebuah studi yang dipublikasikan di The Lancet pada April 2021 menemukan bahwa sepertiga pasien COVID-19 telah didiagnosis dengan gejala neurologis atau psikologis, termasuk kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan psikosis, dalam 6 bulan setelah mereka tertular COVID-19. “Paling banyak yang datang ke kami adalah yang mengalami gangguan psikosomatis dan kecemasan,” ujar dr. Jeff, spesialis penyakit dalam GDTI.

Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog Klinis, CEO & Founder Personal Growth dan Sahabat Sentra Vaksinasi Serviam yang juga penyintas COVID mengakui bahwa ketakutan, kengerian, paranoid, kecemasan (PTSD) tetap ada sekalipun kita dinyatakan sembuh.

Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog Klinis, CEO & Founder of Personal Growth

“Kesehatan mental perlu diperhatikan apabila seseorang mengalami Long COVID-19, apalagi karena mereka akan merasakan frustrasi karena gejala penyakit masih dirasakan walaupun mereka sudah dinyatakan sembuh. Dalam perjalanan untuk sembuh dari Long COVID-19, para pasien harus mengerti bahwa ini merupakan sebuah proses,” ujar Ratih dalam Good Talk sebagai bagian dari rangkaian Good Talk Series.

Untuk membuat mental kita pulih, Ratih memberikan tips untuk mengadopsi kebiasaan kesehatan mental yang baik berikut ini:
• lakukan latihan pernapasan secara teratur,
• menerapkan pola latihan yang baik,
• makan dengan baik,
• mengadopsi kebiasaan gaya hidup yang baik,
• menerapkan kebiasaan tidur yang baik.
Selain itu, ada berbagai teknik relaksasi untuk membantu mengatasi stres, yaitu Shaking Therapy, Ikigai, Butterfly Hug, dan Guided Imagery. Apabila kecemasan mulai menguasai Anda, cobalah terapkan salah satu teknik relaksasi ini sebagai pertolongan pertama.

Seseorang dengan tingkat stres tinggi dapat mengalami burnout. Menurut World Health Organization (WHO), fenomena burnout merupakan sindrom akibat stres kronis yang belum berhasil dikelola oleh setiap individu. Burnout mengurangi produktivitas dan menguras energi sehingga membuat seseorang merasa tidak berdaya, putus asa, lemah, dan cepat marah. Jika Anda mengalami ini dalam waktu yang lama akan berdampak pada kehidupan sosial terutama pekerjaan, Anda juga rentan terkena penyakit saluran napas atas.

Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu untuk segera berkonsultasi dengan ahlinya. Konsultasi akan membantu kita menemukan akar penyebab stres dan mendapatkan terapi yang tepat.

Di platform Good Doctor, telah disediakan layanan untuk konsultasi online dengan dokter dan psikolog, sehingga pasien tidak perlu ke luar rumah dan kembali berisiko terkena virus.

KLIK UNTUK MELIHAT INSTAGRAM LIVE
register-docotr