Cara Mengatasi Depresi pada Remaja, Orangtua Harus Tahu!

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Remaja adalah masa peralihan seseorang yang rentan terkena stres serta depresi. Perlu cara khusus dan melibatkan orangtua dalam mengatasi depresi pada remaja.

Dampak depresi pada remaja bisa membuat mereka merasa stres, gangguan kecemasan, dan dalam skenario terburuk adalah niatan bunuh diri.

Kondisi ini bisa berpengaruh pada kehidupan mereka di rumah, lingkungan, keluarga, dan sekolah. Untuk mengetahui cara mengatasi depresi pada remaja, simak ulasan di bawah ini.

Baca Juga : Gangguan Depresi: Jenis, Gejala dan Pengobatan

Apa penyebab depresi pada remaja?

Tidak diketahui persis apa yang menyebabkan depresi, tetapi berbagai masalah mungkin terlibat. Melansir Mayo Clinic, berikut beberapa faktor yang mungkin menyebabkan depresi pada remaja:

  • Kimia otak. Neurotransmitter adalah bahan kimia otak yang membawa sinyal ke bagian lain dari otak dan tubuh. Ketika bahan kimia ini abnormal atau terganggu, fungsi reseptor saraf dan sistem saraf berubah, yang mengarah ke depresi.
  • Hormon. Perubahan keseimbangan hormon tubuh mungkin terlibat dalam menyebabkan atau memicu depresi.
  • Sifat bawaan. Depresi lebih sering terjadi pada orang-orang yang kerabat darahnya, seperti orang tua atau kakek nenek, juga memiliki kondisi tersebut.
  • Trauma anak usia dini. Peristiwa traumatis selama masa kanak-kanak, seperti pelecehan fisik atau emosional, atau kehilangan orang tua, dapat menyebabkan perubahan pada otak yang membuat seseorang lebih rentan terhadap depresi.
  • Pola-pola berpikir negatif yang dipelajari. Depresi remaja mungkin terkait dengan terbiasa merasa tidak berdaya, ketimbang belajar untuk merasa mampu menemukan solusi untuk tantangan hidup.

Cara mendeteksi depresi pada remaja

Orangtua biasanya akan sulit mendiagnosis gejala depresi pada anak-anaknya. 

Terkadang, gejala depresi sering disalahartikan dengan perasaan khas pubertas dan masa penyesuaian remaja. Namun, depresi lebih dari sekadar kebosanan akut atau ketidaktertarikan dengan sekolah.

Melansir American Academy of Child dan Adolescent Psychiatry (AACAP), berikut beberapa tanda depresi pada remaja:

  • Tampak sedih, mudah tersinggung, atau menangis
  • Perubahan pada nafsu makan atau berat badan
  • Minat yang menurun pada kegiatan-kegiatan yang sebelumnya mereka sukai
  • Penurunan energi
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Perasaan bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya
  • Perubahan besar dalam kebiasaan tidur
  • Selalu mengeluh bosan
  • Berbicara tentang bunuh diri
  • Menarik diri dari teman atau kegiatan setelah sekolah
  • Kinerja sekolah yang memburuk

Baca Juga : Stres Atau Depresi, Apa Bedanya?

Gejala mana yang normal dan mana yang tidak?

Sangat sulit untuk menentukan gejala depresi pada remaja yang terjadi itu normal atau tidak. Cara terbaik adalah ajak mereka berbicara.

Dengan berbicara, orangtua bisa menilai apakah remaja mampu mengelola perasaan mereka atau tidak dengan sendirinya. Jika tidak, diskusikan untuk mencari solusi terbaik.

Tahukah kamu, depresi yang biasanya dimulai antara usia 15 hingga 30, kadang-kadang dapat menurun dari anggota keluarga.

Bahkan, depresi remaja mungkin lebih umum di kalangan anak yang memiliki riwayat keluarga depresi. Jadi peran keluarga penting untuk mengatasi depresi pada remaja.

Cara mengatasi depresi pada remaja

Bagi kamu yang masih remaja dan merasa mengalami depresi, kamu bisa lakukan beberapa hal di bawah ini untuk mengatasi depresi yang tengah kamu alami.

1. Bicarakan masalahmu dengan orang dewasa

Jangan pendam semua masalahmu sendiri, cobalah untuk membicarakannya dengan orang dewasa yang kamu percaya. Bisa orang tua, guru, atau psikolog.

Mungkin sulit untuk mencoba mengutarakan perasaan ke orang lain, terutama saat kamu merasa tertekan, malu, atau tidak berharga. Penting untuk diingat bahwa bukan kamu saja yang mengalami hal ini.

Membicarakan masalah ini bukan berarti lemah, cacat, atau tidak baik. Menerima perasaan dan membukanya dengan seseorang yang kamu percayai akan membantu kamu merasa tidak sendirian.

2. Jangan mengurung diri

Mengurung diri di kamar justru bisa memperburuk kondisi depresi kamu. Jadi, bahkan jika itu adalah hal terakhir yang ingin kamu lakukan, coba paksa diri kamu untuk tetap bersosialisasi. 

Kurangi menghabiskan waktu di media sosial dan bergabunglah dengan aktivitas menyenangkan di lingkungan. Bisa ikut ekskul, klub olahraga, menjadi sukarelawan, atau menemui para sahabat.

3. Terapkan pola hidup sehat

Membuat pilihan gaya hidup sehat dapat memberikan keajaiban untuk memperbaiki suasana hati lho. Hal-hal seperti makan dengan benar, berolahraga secara teratur, dan tidur yang cukup telah terbukti membuat perbedaan besar dalam kasus depresi.

Pastikan kamu selalu tidur cukup, makan-makanan yang seimbang, dan selalu bergerak! Jangan pernah berpikir untuk merokok, mengonsumsi alkohol, atau narkoba. Benda-benda ini bisa membuat depresi kamu makin kalut.

4. Kelola stres dan kecemasan

Bagi banyak remaja, stres dan kecemasan bisa berjalan seiring dengan depresi. Stres, keraguan, atau ketakutan yang tak henti-hentinya dapat menguras energi emosional, memengaruhi kesehatan fisik, membuat tingkat kecemasan melonjak, dan memicu atau memperburuk depresi.

Stres ini bisa datang dari banyak hal seperti grogi menghadapi ujian, susah bergaul di lingkungan, atau kebanyakan pikiran. Coba renungkan masalahnya dengan kepala dingin dan cari solusi mengelola stres itu.

Kamu juga bisa meminta bantuan pada pihak terkait. Misal kamu sulit bergaul dengan teman sekelas, mungkin kamu bisa minta bantuan pada guru konseling di sekolah.

Baca Juga : Efektif Atasi Masalah Depresi dan Kecanduan Alkohol, Apa itu Hipnoterapi?

Cara mengatasi depresi pada remaja bagi orangtua

Orangtua juga memegang peranan penting dalam menangani stres pada remaja. Jika kamu memiliki remaja yang menunjukkan gejala depresi, coba lakukan beberapa tips di bawah ini.

1. Dorong untuk bersosialisasi

Remaja yang depresi cenderung menarik diri dari teman-teman mereka dan kegiatan yang biasa mereka nikmati.

Tetapi isolasi hanya membuat depresi semakin buruk, jadi lakukan apa yang Anda bisa untuk membantu anak remaja kamu terhubung kembali dengan lingkungannya.

Namun ingat, saat bicara dengan mereka jangan pakai nada memaksa. Katakan dengan lembut, persuasif, bukan memaki atau memaksa mereka.

2. Jadikan kesehatan fisik sebagai prioritas

Kesehatan fisik dan mental saling terkait. Depresi diperburuk oleh ketidakaktifan, kurang tidur, dan gizi buruk.

Sayangnya, remaja saat ini dikenal karena kebiasaan tidak sehat mereka seperti begadang, makan junk food, dan menghabiskan berjam-jam di ponsel atau gawai mereka. 

Ajak anak kamu bergerak dan berolahraga, selain itu batasi juga aktivitas mereka di depan layar gadget. Jangan lupa beri asupan makanan bernutrisi dan pastikan mereka mendapat cukup tidur.

3. Ketahui kapan harus mencari bantuan profesional

Dukungan dan perubahan gaya hidup sehat dapat membuat perubahan berbeda bagi remaja yang mengalami depresi, tetapi itu tidak selalu cukup. Ketika depresi parah, jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental.

Metode perawatannya bisa beragam mulai dari psikoterapi, konsumsi obat, dan lain-lain. Jangan memberikan obat anti depresi tanpa konsultasi dengan dokter dahulu.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar cara mengatasi depresi pada remaja ? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Caranya, buka aplikasi Grab kemudian pilih fitur Kesehatan, atau langsung klik di sini.

Mayo Clinic. Diakses pada 21 Juli 2020. Teen depression

Healthline. Diakses pada 21 Juli 2020. Adolescent Depression

Help Guide. Diakses pada 21 Juli 2020. Dealing with Teen Depression

Help Guide. Diakses pada 21 Juli 2020. Parent’s Guide to Teen Depression

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin