Kesehatan Anak

Imunisasi Campak: Apa Saja Jenis, Dosis hingga Efek Sampingnya

August 16, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Campak merupakan penyakit yang rentan menyerang anak-anak. Sebagai upaya pencegahan penyakit ini, biasanya anak-anak akan diimunisasi. Imunisasi campak merupakan imunisasi yang paling dianjurkan oleh pemerintah. Pemberian vaksin campak sendiri dimulai sejak usia 9 bulan.

Baca juga: Campak pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Apa itu campak?

Sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai imunisasi campak, kamu wajib mengetahui terlebih dahulu apa itu penyakit campak.

Campak merupakan infeksi masa kanak-kanak yang disebabkan oleh virus. Ini termasuk penyakit menular dan dapat menyebar melalui udara ketika orang yang terinfeksi batuk ataupun bersin.

Campak hanya diketahui terjadi pada manusia dan tidak pada hewan lain. Ada 24 jenis genetik campak yang diketahui, meskipun hanya 6 yang beredar saat ini.

Campak merupakan penyakit yang harus diwaspadai karena dapat berakibat fatal. Kondisi ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin.

Penyebab campak

Campak disebabkan oleh infeksi virus dari keluarga paramyxovirus. Setelah terinfeksi, virus menyerang sel inang dan menggunakan komponen seluler untuk menyelesaikan siklus hidupnya.

Virus campak lebih dulu menginfeksi saluran pernafasan. Namun, akhirnya menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah.

Apakah campak menyebar melalui udara?

Campak dapat menyebar melalui udara dari tetesan pernapasan dan partikel aerosol kecil. Orang yang terinfeksi dapat melepaskan virus ke udara saat batuk atau bersin.

Partikel pernapasan ini juga dapat mengendap di objek dan permukaan. Jadi kamu dapat terinfeksi jika bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi tersebut lalu menyentuh wajah, hidung, atau mulut.

Virus campak dapat hidup di luar tubuh lebih lama dari yang kamu kira. Faktanya, virus ini dapat tetap menular di udara atau di permukaan hingga dua jam.

Apakah campak menular?

Campak sangat menular. Artinya, infeksi dapat menyebar dengan sangat mudah dari orang ke orang.

Orang yang rentan dan terpapar virus campak memiliki peluang 90 persen untuk terinfeksi. Selain itu, orang yang terinfeksi dapat terus menyebarkan virus ke antara 9 dan 18 orang yang rentan.

Seseorang yang terkena campak dapat menyebarkan virus ke orang lain bahkan sebelum mereka tahu bahwa mereka mengidapnya. Orang yang terinfeksi dapat menular selama empat hari sebelum ruam yang khas muncul. Setelah ruam muncul, mereka masih menular selama empat hari lagi.

Faktor risiko utama terkena campak adalah tidak divaksinasi. Selain itu, beberapa kelompok berisiko lebih tinggi terkena komplikasi infeksi campak, termasuk anak kecil, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, dan wanita hamil.

Gejala campak

Gejala campak umumnya pertama kali muncul dalam 10 hingga 12 hari setelah terpapar virus, dan ini termasuk:

  1. Batuk
  2. Demam
  3. Pilek
  4. Mata merah
  5. Sakit tenggorokan
  6. Bintik putih di dalam mulut

Ruam kulit yang meluas adalah tanda klasik campak. Ruam ini bisa bertahan hingga 7 hari dan umumnya muncul dalam 14 hari setelah terpapar virus. Biasanya ini berkembang di kepala dan perlahan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Mendiagnosis campak

Jika kamu menduga bahwa kamu terpapar campak, segera hubungi dokter. Mereka dapat mengevaluasimu dan mengarahkan ke mana kamu harus diperiksa untuk menentukan apakah kamu benar-benar terkena infeksi atau tidak.

Dokter dapat memastikan campak dengan memeriksa ruam kulit dan gejala lain yang menjadi ciri khas penyakit ini, seperti bintik putih di mulut, demam, batuk, dan sakit tenggorokan.

Jika mereka mencurigai kamu mungkin menderita campak berdasarkan riwayat dan pengamatannya, dokter akan memerintahkan tes darah untuk memeriksa virus campak.

Masa inkubasi campak

Masa inkubasi penyakit menular adalah waktu yang berlalu antara paparan dan saat gejala berkembang. Untuk campak, periodenya yakni antara 10 dan 14 hari.

Setelah masa inkubasi awal, Anda mungkin mulai mengalami gejala nonspesifik, seperti demam, batuk, dan pilek. Ruam akan mulai berkembang beberapa hari kemudian.

Ingatlah bahwa Anda masih dapat menularkan infeksi kepada orang lain selama empat hari sebelum timbulnya ruam. Jika Anda merasa pernah terkena campak dan belum divaksinasi, Anda harus menghubungi dokter Anda sesegera mungkin.

Imunisasi campak

Campak merupakan kondisi yang dapat membuat anak tidak nyaman. Imunisasi campak merupakan imunisasi yang banyak dilakukan oleh orang tua untuk mencegah anak-anak terkena kondisi tersebut.

Meskipun seringkali diberikan pada anak-anak, vaksin campak juga dapat diberikan pada remaja dan orang dewasa.

Terdapat dua jenis vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah campak, di antaranya adalah:

  • Vaksin MMR: Melindungi anak-anak dan orang dewasa dari campak, gondongan dan rubella
  • Vaksin MR: Digunakan hanya untuk mencegah penyakit campak dan rubella

Untuk lebih jelasnya simak pembahasan berikut ini.

Vaksin MMR

Vaksin MMR merupakan vaksin yang sangat aman dan efektif. Centers for Disease Control and Prevention, merekomendasikan anak-anak untuk mendapatkan dua dosis vaksin MMR.

Dimulai dengan dosis pertama pada usia 12 sampai 15 bulan, dan dosis kedua pada usia 4 sampai 6 tahun. Remaja dan orang dewasa juga bisa mendapatkan vaksin ini. 2 dosis ini disuntikkan ke otot paha atau lengan atas. Dua dosis dipastikan untuk mendapatkan perlindungan penuh.

Pemberian dua dosis vaksin MMR sekitar 97 persen efektif untuk mencegah campak, sedangkan pemberian satu dosis memiliki efektivitas sekitar 93 persen.

Vaksin MR

Di Indonesia sendiri, vaksin MR lebih dikenal luas dibandingkan dengan vaksin MMR. Hal ini dikarenakan, saat ini pemerintah memprioritaskan pengendalian campak dan rubella karena komplikasinya yang dapat sangat berbahaya dan mematikan.

Vaksin MR diberikan pada anak yang berusia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun. Vaksin MR aman diberikan pada anak yang telah mendapat 2 dosis imunisasi campak.

Dengan pemberian imunisasi campak dan rubella, hal ini dimaksudkan untuk mencegah kecacatan dan kematian sebagai akibat dari pneumonia, kerusakan otak, diare, kebutaan, ketulian, serta penyakit jantung bawaan yang merupakan komplikasi dari penyakit campak serta rubella.

Siapa saja yang tidak boleh melakukan imunisasi campak?

Pemberian vaksin campak memang dapat mencegah penyakit campak. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang sebaiknya tidak melakukan imunisasi campak. Berikut adalah beberapa kondisi tersebut seperti yang dilansir dari Vaccines.gov.

  • Pernah mengalami reaksi alergi yang mengancam jiwa terhadap satu dosis vaksin campak atau bahan apa pun yang terkandung dalam vaksin, seperti neomycin, antibiotik yang terkadang digunakan dalam vaksin
  • Sedang hamil

Selalu pastikanlah kamu memberitahu dokter jika:

  • Memiliki riwayat HIV/AIDS
  • Punya riwayat penyakit tuberculosis
  • Menderita kanker
  • Mengonsumsi obat yang memengaruhi sistem imun
  • Pernah memiliki riwayat jumlah trombosit rendah (kelainan darah)
  • Telah mendapat vaksin sebulan terakhir
  • Baru saja menjalani transfusi darah atau diberi produk darah lain, seperti plasma

Jika sedang sakit, seseorang perlu menunggu hingga kondisinya lebih baik untuk mendapatkan vaksin campak.

Adakah efek samping vaksin campak?

Efek samping vaksin campak dapat dikatakan jarang terjadi. Meskipun demikian ada beberapa efek samping dari pemberian vaksin campak yang perlu kamu ketahui. Efek samping ini bersifat ringan dan biasanya akan hilang dalam beberapa hari, seperti:

  • Demam
  • Ruam
  • Pembengkakan kelenjar di pipi atau leher

Efek samping lainnya yakni:

  • Nyeri atau kaku pada persendian, biasanya terjadi pada wanita (1 dari 4 orang)
  • Kejang yang diakibatkan oleh demam tinggi
  • Jumlah trombosit rendah yang bersifat sementara

Itulah beberapa informasi mengenai imunisasi campak yang perlu kamu ketahui. Sebelum melakukan imunisasi campak, sebaiknya konsultasikan lah terlebih dahulu mengenai kondisi kesehatanmu atau si kecil pada dokter ya.

Campak pada orang dewasa

Meskipun sering dikaitkan dengan penyakit masa kanak-kanak, orang dewasa juga bisa terkena campak. Orang yang tidak divaksinasi berisiko lebih tinggi tertular penyakit ini.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), komplikasi serius tidak hanya lebih sering terjadi pada anak kecil, tetapi juga pada orang dewasa di atas usia 20 tahun. Komplikasi ini dapat mencakup hal-hal seperti pneumonia, ensefalitis, dan kebutaan.

Jika kamu adalah orang dewasa yang belum divaksinasi atau tidak yakin dengan status vaksinasimu, temui dokter untuk menerima vaksinasi. Setidaknya satu dosis vaksin direkomendasikan untuk orang dewasa yang tidak divaksinasi.

Campak selama kehamilan

Wanita hamil yang tidak memiliki kekebalan terhadap campak harus berhati-hati untuk menghindari paparan virus ini selama kehamilannya. Menderita campak selama kehamilan dapat memiliki efek kesehatan negatif yang signifikan bagi ibu dan janin.

Wanita hamil berisiko tinggi mengalami komplikasi campak seperti pneumonia. Selain itu, campak saat hamil dapat menyebabkan komplikasi kehamilan berikut ini:

  1. Keguguran
  2. Persalinan prematur
  3. Berat badan lahir rendah
  4. Kelahiran mati

Campak juga dapat ditularkan dari ibu ke anak jika ibu terkena campak mendekati tanggal persalinannya. Ini disebut campak bawaan. Bayi dengan campak bawaan mengalami ruam setelah lahir atau berkembang segera setelahnya. Mereka berisiko tinggi mengalami komplikasi, yang dapat mengancam nyawa.

Campak pada bayi

Vaksin campak tidak diberikan kepada anak-anak sampai mereka berusia minimal 12 bulan. Sebelum menerima dosis pertama vaksin adalah saat mereka paling rentan terinfeksi virus campak.

Bayi menerima perlindungan dari campak melalui imunitas pasif, yang diberikan dari ibu ke anak melalui plasenta dan selama menyusui.

Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa kekebalan ini dapat hilang hanya dalam waktu 2,5 bulan setelah lahir atau saat menyusui dihentikan.

Anak di bawah usia 5 tahun lebih mungkin mengalami komplikasi akibat campak. Ini dapat mencakup hal-hal seperti pneumonia, ensefalitis, dan infeksi telinga yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

Campak dan rubella

Kamu mungkin pernah mendengar rubella disebut sebagai “campak Jerman”. Tapi campak dan rubella sebenarnya disebabkan oleh dua virus yang berbeda. Rubella tidak menular seperti campak.

Namun, hal itu dapat menyebabkan komplikasi serius jika seorang wanita mengalami infeksi saat hamil. Meskipun virus yang berbeda menyebabkan campak dan rubella, mereka juga serupa dalam beberapa hal. Kedua virus tersebut sama-sama:

  1. Dapat menyebar melalui udara dari batuk dan bersin
  2. Menyebabkan demam dan ruam yang khas
  3. Hanya terjadi pada manusia

Baik campak maupun rubella termasuk dalam vaksin campak-gondok-rubella (MMR) dan campak-gondok-rubella-varicella (MMRV).

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Centers for Disease Control and Prevention (2019). Diakses pada 11 Agustus 2020. Measles Vaccination 

Indonesian Pediatric Society (2017). Diakses pada 11 Agustus 2020. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) 

Kemenkes RI (2017). Diakses pada 11 Agustus 2020. Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 11 Agustus 2020. Measles 

NHS (2020). Diakses pada 11 Agustus 2020. MMR (Measles, Mumps, and Rubella Vaccine) 

Vaccines.gov (2020). Diakses pada 11 Agustus 2020. Measles 

WHO. Diakses pada 11 Agustus 2020. Measles 

Healthline, https://www.healthline.com/health/measles diakses pada 25 Maret 2021

    register-docotr