Info Parenting

Sering Di Prank Rafathar Luapkan Amarah Ke Baim Wong, Wajarkah Anak Mendendam?

June 9, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Belum lama ini viral video yang memperlihatkan Rafathar Malik Ahmad, putra Raffi Ahmad marah besar ke Baim Wong. Karena video tersebut, banyak netizen yang mencap jika putra Raffi Ahmad itu tidak diajari sopan santun. 

Di video itu Rafathar marah hingga menunjuk-nunjuk Baim Wong. Membela Rafathar, Lala sang pengasuh mengatakan, itu terjadi karena Baim Wong berbuat salah dan curang. Dari kejadian itu, apakah wajar anak-anak meluapkan kemarahannya pada orang dewasa?

Baca Juga: Jangan Sembarangan, Begini Cara Tes Kesehatan Mental yang Benar!

Amarah pada anak-anak

Tantrum atau ekspresi frustrasi anak kecil bisa terjadi karena anak kesulitan mencari tahu sesuatu atau menyelesaikan tugas. Anak juga mungkin kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya dan akhirnya memicu ledakan atau menghasilkan amarah. 

Kondisi amarah ini tentu saja tidak direncanakan. Untuk anak balita, tantrum adalah cara mengekspresikan frustrasi, sementara anak yang lebih besar, tantrum adalah perilaku yang ia pelajari saat menghadapi situasi tertentu. 

Apakah kondisi amarah ini dapat dicegah atau diatasi? 

Tidak mudah untuk mencegah ini terjadi pada anak-anak. Tapi orang tua bisa melatih anak, agar mereka lebih baik dalam merespons hal yang tak sesuai dengan keinginan mereka.

Misalnya:

  • Mengajarkan konsisten: Tetapkan rutinitas harian, termasuk waktu istirahat. Waktu istirahat yang cukup juga memberi efek pada munculnya rasa marah seorang anak.
  • Membuat rencana: Hal-hal tak terduga bisa terjadi, karena itu siapkan rencana. Misalkan di saat harus mengantri panjang, orang tua sudah harus menyiapkan mainan untuk mengisi waktu dan mengalihkan perhatian anak. 
  • Biarkan anak memilih: Jangan buat anak merasa terpojok. Jangan larang anak dengan keputusannya, tapi bantu anak memilih. Dengan memilih anak jadi lebih bisa mengontrol keinginannya sendiri. 
  • Puji perilaku baik: Beri anak pelukan dan katakan orang tua bangga padanya, saat anak menuruti permintaan orang tua dan berperilaku baik. 
  • Hindari situasi yang memicu amarah anak: Cari situasi yang aman, misalkan ketika anak menunjukkan kondisi sedang tidak mood atau rewel dan orang tua sedang ingin makan, pilih lah makanan cepat saji agar tidak perlu menunggu lama. 

Bagaimana dengan anak yang menyimpan amarah dan menjadi dendam? 

Setiap anak mungkin saja menyimpan amarahnya. Pada anak yang lebih besar mungkin merasa menyimpan rasa marah adalah pilihan yang terbaik. Karena bagi beberapa anak, menyimpan dendam adalah salah satu cara merespons kejadian negatif.

Ini adalah reaksi yang umum, saat seseorang tahu bahwa orang lain melakukan hal negatif itu dengan sengaja, tanpa perasaan, atau tidak berpikir bahwa yang dilakukannya dapat menyakiti orang lain. 

Apakah menyimpan dendam hal yang berbahaya? 

Dendam bukanlah hal yang baik. Karena dendam akan menjerat perasaan dalam kemarahan terus menerus. Pada dasarnya, dendam dapat menghambat kemampuan seseorang untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah. 

Bagaimana mengatasi anak yang terlanjur menyimpan dendam?

Untuk orang tua, cobalah untuk memahami dan mengetahui penyebab anak hingga menyimpan dendam. Jika sudah memahami, ajak anak untuk bicara dan menyelesaikan masalah yang disimpannya.

Anak-anak usia sekolah dasar sudah bisa mengeluarkan perasaan itu dengan bercerita. Menggunakan buku harian untuk meluapkan kemarahan anak juga bisa menjadi pilihan.

Kemudian orang tua membaca dan membantu memberikan pemahaman tentang kondisi yang dihadapi anak. Selain itu, mengajarkan untuk memaafkan, juga perlu dibiasakan agar anak tidak terus menerus menyimpan dendam.

Tetapi jika anak terus menyimpan dendam, sebaiknya cari bantuan profesional untuk mengatasinya. 

Bagaimana jika amarah terjadi berawal dari bercanda, seperti yang terjadi pada Rafathar dan Baim Wong?

Bercanda atau tertawa bersama anak kecil tentu saja bisa menjadi hal yang menyenangkan. Beberapa orang mungkin berpikiran bahwa selera humor ada pada anak secara genetik. Sehingga mereka dapat memahami humor dengan sendirinya. 

Tapi ternyata selera humor adalah kualitas yang dipelajari dan dikembangkan oleh anak. Bukan sesuatu yang anak bawa sejak lahir. Karena itu, jika kamu ingin bercanda dengan anak kecil, pahami bahwa setiap anak mengembangkan pemahaman humor yang berbeda. 

Anak-anak masih belum sepenuhnya memahami konsep dari humor itu sendiri. Karena itu, jika ingin bercanda dengan anak-anak, perhatikan usia dan jika memungkinkan, justru bantu anak untuk mengembangkan pemahaman humor mereka. 

Apa yang bisa dilakukan untuk bisa bercanda dengan anak-anak?

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan saat ingin bercanda dengan anak-anak:

  • Jadilah contoh: Bantu anak mengembangkan selera humor dengan menceritakan cerita lucu yang mungkin dipahami anak.
  • Mencoba menghargai usaha anak yang mulai memahami humor: Jika anak berusaha melucu atau ketika anak dapat membuat orang tua tertawa, pujilah mereka.
  • Membuat anak memahami bahwa orang dewasa lucu: Dengan cara yang tepat, humor atau bercanda bisa dijadikan bagian dari interaksi sehari-hari. Bantu anak untuk memahami dan membedakan mana yang lelucon dan mana yang bukan. 
  • Menciptakan lingkungan kaya humor: Selera humor belum terbentuk sepenuhnya pada anak-anak, jika tidak membiasakan mereka dengan lingkungan, mereka bisa saja gagal menangkap lelucon tersebut. 

Demikian beberapa penjelasan tentang rasa marah, dendam dan pandangan bercanda dari sisi anak-anak. 

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

Mayoclinic, diakses 9 Juni 2021
Temper tantrums in toddlers: How to keep the peace
Kidshealth.org, diakses 9 Juni 2021
Taming Tempers
Kidshealth.org, diakses 9 Juni 2021
Encouraging Your Child’s Sense of Humor
Verywellmind, diakses 9 Juni 2021
The Mental Health Effects of Holding a Grudge
Greater Good Magazine, diakses 9 Juni 2021
How to Help Kids Consider Forgiveness

    register-docotr