Info Parenting

Masa Pubertas pada Anak: Tahapan Pertumbuhan dan Komunikasi yang Tepat

January 14, 2021 | Richaldo Hariandja | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Masa pubertas pada anak adalah transisi di mana tubuh mereka bertumbuh dan berubah seiring menjadi orang dewasa. Sebagai orang tua, masa ini adalah tantangan bagaimana peran Moms dapat membantu mereka dalam masa-masa tersebut.

Nah, agar Moms bisa lebih memahami mengenai masa pubertas pada anak, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu pubertas?

Pubertas adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Biasanya, masa pubertas ditandai dengan perubahan fisik. Selama masa pubertas tubuh akan lebih cepat mengalami pertumbuhan dibandingkan waktu lainnya di dalam kehidupan.

Ketika tubuh mulai memasuki masa pubertas, kelenjar pituitari melepaskan hormon khusus, baik pada anak laki-laki maupun perempuan dan bekerja pada berbagai bagian tubuh.

Usia pubertas pada anak

Tentu kamu tahu apa saja tanda dari pubertas pada anak, mulai dari pertumbuhan rambut di lokasi-lokasi baru, menstruasi, bau tubuh, suara yang bass pada anak laki-laki, pertumbuhan payudara pada perempuan dan seterusnya. 

Bicara soal usia pubertas, biasanya terjadi saat anak perempuan memasuki 8 tahun, atau 9-10 tahun pada anak laki-laki. Pubertas ini dimulai saat hipotalamus yang terletak di otak melepaskan hormon pelepas gonadotropin (GnRH).

Saat hormon tersebut menuju kelenjar pituitari yang terletak di bawah otak, dia akan melepaskan dua hormon pubertas lain, yaitu luteinizing dan follicle-stimulating.

Nah, yang terjadi selanjutnya tergantung dari jenis kelamin anak:

  • Pada anak laki-laki: Hormon-hormon ini akan bergerak melalui aliran darah ke testis dan memberikan sinyal untuk dimulainya pembentukan sperma dan hormon testosteron
  • Pada anak perempuan: Hormon menuju ovarium dan menyebabkan pematangan dan pelepasan sel telur serta produksi hormon estrogen, sehingga mereka akan dewasa dan siap untuk hamil

Pada saat yang sama, kelenjar adrenalin dari anak akan mulai memproduksi sekelompok hormon yang disebut adrenal androgen. Hormon-hormon ini akan menstimulasi pertumbuhan rambut kelamin dan ketiak.

Ciri-ciri pubertas

Ciri-ciri pubertas pada fisik. Sumber foto: www.216teens.org

Ciri-ciri pubertas bisa dilihat dari kondisi fisik anak. Perubahan fisik pada masa pubertas anak laki-laki dan perempuan berbeda, yaitu:

Ciri-ciri pubertas anak laki-laki

Perubahan fisik pada masa pubertas laki-laki biasanya dimulai dengan pembesaran testis dan pertumbuhan rambut kemaluan yang dimulai pada usia 10-16 tahun. Tangan dan kaki akan bertumbuh lebih cepat dibandingkan anggota tubuh lain. 

Pubertas laki-laki selanjutnya yakni bentuk tubuh akan berubah dengan bahu yang melebar dan berat badan serta otot akan bertambah. Di sisi lain, suara anak akan pecah, perubahan suara akan menyebabkan mereka memiliki suara yang lebih dalam.

Rambut hitam dan keriting akan tumbuh di atas penis dan di kantung kemaluan mereka, diikuti dengan rambut ketiak dan di wilayah janggut. Di masa pubertas laki-laki ini, anak akan merasakan pertumbuhan pada penis dan testis.

Ciri-ciri pubertas anak perempuan

Pubertas perempuan bisanya terjadi lebih cepat, yaitu pada usia 8 dan 13 tahun. Pada kebanyakan anak perempuan, tanda pertama pubertas adalah tumbuhnya payudara. Namun bisa juga dimulai dari pertumbuhan rambut kemaluan.

Setelahnya, butuh waktu 1-2 tahun untuk tahap pubertas perempuan selanjutnya, di mana akan terjadi percepatan pertumbuhan. Tubuh anak akan mulai menumpuk lemak, terutama di wilayah dada dan sekitar panggul dan paha.

Kondisi tersebut menandakan mereka mulai mengikuti kontur tubuh wanita dewasa. Tangan dan kaki anak juga akan membesar.

Puncak dari pubertas anak perempuan adalah menstruasi pertama mereka. Waktunya tergantung dari kapan mereka mulai mengalami pubertas, tapi biasanya anak akan mulai menstruasi pertama di antara usia 9-16 tahun.

Panduan komunikasi saat anak mulai pubertas

Pada saat pubertas, anak akan dibanjiri informasi mengenai hubungan seksual dan emosional dengan lawan jenis. Dengan majunya teknologi, informasi tersebut bisa mereka dapatkan dari internet dan sumber-sumber tidak tepercaya.

Sebagai orang tua, menjadi kewajiban bagi Moms untuk memulai pembicaraan, jangan tunggu mereka bertanya terlebih dahulu tentang perubahan-perubahan di tubuh mereka.

Saat itu mungkin tidak akan pernah datang, apalagi kalau anak memandang ini sebagai topik yang sensitif.

Sangat penting untuk Moms berbicara masalah pubertas pada anak perempuan sebelum mereka mendapatkan menstruasi pertama mereka. Karena jika mereka tidak tahu apa yang mereka alami, maka keluarnya darah haid akan membuat mereka takut.

Saat berbicara mengenai pubertas pada anak, sangat penting untuk meyakinkan mereka. Karena pubertas ini menghadirkan banyak perubahan pada anak, maka wajar kalau mereka merasa tidak nyaman.

Baca juga: Kenali Pubertas pada Anak dan Remaja, Ini Tahapannya

Masa pubertas pada anak sebelum waktunya

Masa pubertas pada anak yang terjadi sebelum waktunya disebut dengan pubertas dini. Ini berarti tanda-tanda kematangan seksual pada anak berkembang terlalu cepat.

Bicara soal usia pubertas dini, biasanya terjadi sebelum umur 8 tahun pada anak perempuan dan di bawah 9 tahun pada laki-laki. Masa pubertas dini dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Masa pubertas dini sentral, terjadi ketika hormon seks dilepaskan terlalu dini. Kondisi ini dapat disebabkan oleh trauma otak, tumor hipotalamus, atau infeksi otak tertentu. Pubertas dini jenis ini lebih sering terjadi pada anak perempuan.

2. Masa pubertas dini perifer, terjadi akibat adanya masalah pada organ reproduksi (ovarium atau testis) atau kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal adalah bagian dari sistem endokrin yang berada di atas ginjal, bertugas melepaskan hormon tertentu untuk menjalankan fungsi sehari-hari.

3. Masa pubertas dini tidak lengkap, yaitu kondisi di mana anak hanya memiliki tanda awal seperti pertumbuhan payudara dan bulu-bulu di sekitar kemaluan tanpa disertai tanda lainnya.

Ciri-ciri pubertas dini

Sebenarnya, tak ada hal khusus yang membedakan pubertas dini dengan masa pubertas yang biasa terjadi. Ciri-cirinya masih sama, seperti membesarnya payudara dan perdarahan vagina berupa menstruasi pada perempuan.

Sedangkan untuk anak laki-laki yaitu pembesaran testis dan penis, muncul bulu di ketiak, kemampuan ejakulasi, serta suara yang pecah.

Cara menyikapi masa pubertas dini

Cara menyikapi masa pubertas penting untuk diketahui bagi para orang tua. Masa pubertas adalah sesuatu yang pasti dialami setiap manusia. Hanya saja, jika hal ini terjadi lebih cepat, ada beberapa efek yang bisa dirasakan anak, misalnya pada aspek psikologis.

Anak rentan mengalami perubahan suasana hati, karena malu atau minder dengan temannya.

Tapi secara medis, menurut Cleveland Clinic, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, kondisi ini hanyalah tentang kematangan seksual yang lebih cepat. Meski, angka kasusnya di seluruh dunia relatif rendah. Pubertas dini memengaruhi sekitar 1 dari 5.000-10.000 anak perempuan.

Namun jika dampak pada psikologis anak terlalu kuat, cara menyikapi masa pubertas dini yang bisa dilakukan adalah dengan mengajaknya menjalani perawatan di dokter. Perawatan ini berfokus pada menghambat pelepasan hormon yang dapat memicu kematangan seksual terlalu cepat.

Dokter biasanya akan menghentikan kelenjar pituitari di otak yang bertugas melepaskan hormon gonadotropin.

Fakta-fakta tentang masa pubertas dini

Ada beberapa fakta tentang pubertas dini yang perlu orang tua tahu, agar bisa mengambil langkah yang tepat dalam menyikapinya, yaitu:

  • Tanda-tanda dari pubertas dini tak ada bedanya dengan masa pubertas pada umumnya, yaitu pertumbuhan payudara pada perempuan dan perubahan suara pada laki-laki.
  • Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pubertas dini, karena tidak berdampak buruk pada kesehatan.
  • Peran psikolog dibutuhkan ketika sisi psikologis anak mulai terganggu karena pubertas dini.
  • Dalam banyak kasus, tidak ada penyebab khusus yang bisa memicu pubertas dini. Meski, hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti yang telah disebutkan di atas.

Cara menjaga kesehatan reproduksi di masa pubertas

Berikut ini adalah cara menjaga kesehatan reproduksi di masa pubertas yang perlu diketahui.

  • Mengadopsi pola makan sehat. Sebagai cara menjaga kesehatan reproduksi di masa pubertas, sebaiknya konsumsilah makanan kandungan antioksidan, serat, serta sumber protein sehat
  • Menjadi lebih aktif. Berolahraga teratur baik untuk kesehatan tubuh
  • Menjaga berat badan sehat
  • Hindari merokok serta konsumsi alkohol
  • Menjaga kebersihan alat kelamin juga penting dilakukan sebagai cara menjaga kesehatan reproduksi di masa pubertas
  • Memenuhi asupan cairan dalam tubuh
  • Mengelola stres dengan cara sehat

Demikianlah beberapa informasi mengenai masa pubertas pada anak laki-laki serta perempuan.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Kidshealth.org (2015) diakses 06 Juli 2020. https://kidshealth.org/en/parents/understanding-puberty.html?ref=search
  2. Kidshealth.org (2015) diakses 06 Juli 2020. https://kidshealth.org/en/parents/talk-about-puberty.html?ref=search
  3. Stanford Children’s Health, diakses 14 Oktober 2020, Precocious Puberty.
  4. Cleveland Clinic, diakses 14 Oktober 2020, Precocious (Early) Puberty.
  5. Boston Children’s Hospital, diakses 14 Oktober 2020, Precocious (Early) Puberty Symptoms & Causes.
  6. CK-12.org diakses 14 Januari 2021. Reproductive System Health 
  7. Kidshealth.org (2015) diakses 14 Januari 2021. All About Puberty 
    register-docotr