Info Parenting

Kenali Selective Mutism: Salah Satu Penyebab Anak Malu Bicara dengan Orang Baru

August 26, 2020 | Putri Prima Soraya | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Apakah Moms merasa si Kecil terlalu pemalu dan pendiam di antara teman bermainnya? Memang kadang anak-anak terlalu malu untuk dapat berbaur, tapi bisa jadi itu adalah selective mutism.

Anak yang mengalami selective mutism memang akan banyak diam dan cenderung pemalu di lingkungan sosial.

Apa sebenarnya selective mutism? Simak penjabarannya berikut ini!

Apa itu selective mutism pada anak-anak?

Selective mutism atau mutisme selektif adalah gangguan kecemasan masa kanak-kanak yang ditandai dengan ketidakmampuan anak untuk berbicara dan berkomunikasi secara efektif di lingkup sosial.

Anak yang mengalami masalah ini cenderung sulit memulai percakapan atau menanggapi, terutama saat diajak bicara oleh orang lain di lingkungan sosial. 

Mereka tampaknya hanya dapat berkomunikasi dengan jelas dan efektif dalam suasana yang membuat nyaman, aman, dan tenang. Misalnya pada lingkup keluarga atau teman dekat saja.

Kebanyakan selective mutism dialami oleh anak-anak berusia antara 3-6 tahun, tetapi mungkin tidak menjadi perhatian khusus sampai anak tersebut masuk sekolah, di mana terdapat peningkatan dalam interaksi sosial. Tidak semua anak menunjukkan kecemasan mereka dengan cara yang sama. 

Ciri-ciri anak dengan selective mutism

Baik anak perempuan maupun laki-laki dapat mengalami kondisi ini, meskipun kondisinya cenderung lebih banyak dialami oleh anak perempuan.

Ciri-ciri dari selective mutism bisa dilihat dengan:

  • Postur tubuh yang kaku
  • Tidak responsif
  • Wajah tanpa ekspresi dan datar
  • Lambat memberi respons dalam situasi sosial
  • Tidak ingin berpisah dengan orang tua saat di lingkungan sosial, terutama dengan orang baru

Mengapa anak bisa mengalami selective mutism?

Anak-anak dengan selective mutism seringkali memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kecemasan. Mereka akan menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang parah, seperti takut perpisahan, sering mengamuk dan menangis atau murung.

Dasar neurologis selective mutism adalah sebagai rangkaian peristiwa di area otak yang dikenal sebagai amigdala, yang menerima sinyal bahaya dari lingkungan. Kecemasan dari situasi yang dianggap berbahaya bagi keamanan anak menyebabkan komunikasi terputus. 

Anak dengan selective mutism seringkali memiliki temperamen yang sangat terhambat, sehingga mereka lebih rentan terhadap kecemasan. Beberapa anak juga mengalami gangguan pemrosesan sensorik. Artinya, mereka mengalami masalah dalam memproses informasi sensorik tertentu. 

Mereka mungkin sensitif terhadap suara, cahaya, sentuhan, rasa, dan bau. Ini juga memengaruhi respons emosional mereka. Gangguan pemrosesan sensorik ini dapat menyebabkan anak salah menafsirkan isyarat lingkungan dan sosial.

Cara menghadapi anak dengan selective mutism

Jika Moms merasa si Kecil berperilaku sangat berbeda dalam lingkungan sosial tertentu di luar rumah, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi penting untuk melakukan diagnosis awal.

Menurut psikolog anak, Kristen Eastman, PsyD, orang tua yang mungkin memiliki anak dengan selective mutism sebaiknya lebih peka terhadap perubahan sikapnya.

Cobalah beberapa strategi berikut ini:

1. Tidak menuntut anak berbicara di lingkungan sosial 

Cobalah untuk tidak memaksakan anak langsung berbicara di lingkungan sosialnya. Hindari juga terus bertanya kenapa ia tidak mau berbicara. Hal ini justru membuat anak semakin cemas dan tertekan.

2. Fokus membangun kenyamanan anak

Pahami bahwa anak tidak akan memasuki situasi sosial sesederhana teman sebayanya.

Berikan anak jeda untuk menyesuaikan diri dengan suatu situasi, misalnya dengan datang lebih awal atau memberikan waktu latihan sebelum masuk ke dalam kelompok yang lebih besar.

3. Fokus pada komunikasi non-verbal

Daripada mengajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban verbal, ajukan pertanyaan kepada anak yang memungkinkan anggukan, jempol ke atas atau jempol ke bawah.

Bicaralah dengan guru, pelatih, dan lainnya untuk mendorong mereka mengajukan pertanyaan yang dapat ditanggapi oleh anak dengan komunikasi non-verbal.

4. Lakukan pendekatan secara bertahap

Buatlah situasi sosial yang nyaman dengan si Kecil, berbicara dengan bebas, dan kemudian secara bertahap perkenalkan orang baru. Jangan memaksa anak untuk melakukan semuanya sekaligus.

Penting untuk disadari bahwa anak dengan selective mutism biasanya tidak dapat berubah seketika dan butuh proses untuk adaptasi.

Selective mutism biasanya tidak hilang dengan sendirinya. Pada kenyataannya, kondisi ini juga dapat menyebabkan kecemasan dan kesulitan sosial yang semakin parah jika tidak ditangani. Jadi, jangan tunda untuk cek ke dokter ya, Moms.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar selective mutism? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Cleveland Clinic (2017). Diakses pada 25 Agustus 2020. Is Your Child Just Shy — Or Is It Selective Mutism?

Psychology Today (2019). Diakses pada 25 Agustus 2020. Selective Mutism

Smart Center (n.d). Diakses pada 25 Agustus 2020. WHAT IS SELECTIVE MUTISM?

 

    register-docotr