Info Parenting

5 Tanda Bayi Mengalami Separation Anxiety dan Cara Mengatasinya

January 20, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Rasa cemas akibat berpisah dengan orang tua merupakan hal yang sangat sering terjadi pada bayi. Tak hanya panik, beberapa bahkan ada yang sampai menangis histeris ketika ayah atau ibunya tidak terlihat untuk waktu yang singkat.

Meski terbilang normal, tentu akan menjadi lebih baik jika sebagai orang tua, Moms bisa membantu si Kecil mengendalikan situasi seperti ini.

Baca juga: Tak Hanya Menggemaskan, Yuk Intip Perkembangan Bayi 1 Bulan!

Apa itu separation anxiety pada bayi?       

Seiring bertambahnya usia, bayi akan mengembangkan keterikatan dengan orang dewasa di sekitarnya. Meski bagus untuk kemampuan emosi mereka, namun di sisi lain, ini juga bisa menimbulkan rasa cemas saat terpisah dari orang-orang yang mereka ‘pilih’.

Inillah yang dinamakan dengan separation anxiety atau kecemasan akan perpisahan. Dilansir Healthline, kondisi ini merupakan hal yang umum terjadi pada perkembangan bayi selama beberapa tahun pertama kehidupan mereka.

Tanda-tanda bayi mengalami separation anxiety

Kecemasan akan perpisahan pada bayi cukup mudah dikenali. Berikut adalah perilaku yang biasanya ditunjukkan oleh bayi saat mengalami kondisi ini:

Ketergantungan dengan orang terdekat

Disebut juga dengan istilah clinginess, ini mengacu pada kondisi seorang anak yang memiliki reaksi emosional atau perilaku yang kuat karena dipisahkan dari orang tuanya.

Pada bayi, reaksi ketergantungan yang paling sering ditunjukkan adalah menangis agar orang tuanya tahu bahwa mereka tidak suka dipisahkan.

Sedangkan pada anak yang berusia lebih besar seperti balita atau anak-anak, mereka juga bisa menunjukkan reaksi ketergantungan dengan meminta berpelukan, atau bahkan terlihat murung saat orang tua meninggalkan mereka.

Menangis saat orang tua tidak terlihat

Bayi dan balita sering menangis jika Moms meninggalkan mereka, bahkan untuk waktu yang sangat singkat.

Kecemasan akan perpisahan seperti ini biasanya muncul pada saat anak-anak berusia antara 6 bulan sampai dengan 3 tahun.

Tapi tenang saja, ini tetap merupakan bagian normal dari perkembangan si Kecil, kok. Ini karena mereka akan mengalami perkembangan emosi yang pesat dari kejadian semacam ini.

Membuat keributan saat hendak dipisahkan

Tak hanya menangis, bayi juga bisa menunjukkan rasa tidak suka saat hendak dipisahkan dengan membuat keributan-keributan kecil.

Ini bisa terjadi karena ia merasa panik saat harus ditinggalkan bersama seseorang yang terasa asing baginya.

Demi menolak melakukan hal-hal yang membutuhkan pemisahan, bayi bisa membuat keributan dalam bentuk rengekan, tangisan, atau bahkan amukan yang sangat ekstrem dan susah dikendalikan.

Terlihat takut pada orang asing

Seiring dengan perkembangannya, bayi akan mampu memilih siapa saja yang ia anggap ‘aman’ berinteraksi dengan dirinya.

Umumnya orang-orang yang termasuk dalam kategori ini adalah ayah, ibu, kakek, nenek, saudara, atau pengasuh.

Ketika ia berada di luar lingkungan yang berisi orang-orang tersebut, rasa kewaspadaannya meningkat dan akhirnya membuat dirinya merasa cemas.

Hasilnya ia mungkin terlihat tegang di sekitar orang asing, atau bahkan bersikap malu-malu di sekitar orang yang sering dia temui. Termasuk seperti teman atau kerabat orang tua.

Mencari orang tua saat tidur terpisah

Ada banyak hal yang bisa membuat Moms tidur terpisah dari si Kecil. Mulai dari sakit, sampai ada keperluan ke luar kota.

Dalam situasi seperti ini, bayi akan menunjukkan separation anxiety dalam beberapa cara. Misalnya saat Moms berusaha meninggalkannya di tempat tidur, dia akan menangis sampai Moms kembali.

Tak jarang di tengah malam, dia mungkin akan terbangun untuk mencari-cari Moms agar tidur di ranjang yang sama dengannya.

Baca juga: Moms, Yuk Ketahui Apa Saja Perkembangan yang Dialami si Kecil saat Berumur 11 Bulan

Bagaimana mengatasi separation anxiety pada bayi?

Cobalah beberapa tips berikut untuk membantu si Kecil tidak merasa panik saat terpisah dengan orang yang ia sayangi:

1. Ajari bayi tentang keabadian objek

Bayi perlu tahu bahwa segala sesuatu bisa terus ada bahkan ketika mereka tidak dapat melihatnya. Ajari permainan seperti cilukba atau petak umpet untuk membantunya memahami kondisi ini.

2. Jangan menyelinap saat harus pergi

Ini hanya akan membuat bayi terus-menerus cemas karena berpikir Moms menghilang. Jadi upayakan untuk membangun kepercayaan pada dirinya bahwa Moms akan kembali.

3. Jangan terburu-buru berpisah, tapi jangan pula memperpanjangnya

Beri bayi cukup waktu untuk memproses kepergian Moms, tetapi jangan berlarut-larut dan membuatnya lebih merasa sedih.

4. Mengekspresikan sikap positif saat pergi

Jika Moms pergi bekerja atau harus pergi keluar rumah, lakukan dengan senyuman. Bayi akan menyerap emosi positif tersebut dan membantunya merasa lebih tenang.

Demikian informasi tentang separation anxiety dan bagaimana cara mengatasinya. Ingat ya Moms, pada intinya semua butuh proses dan waktu agar bayi bisa lebih beradaptasi dengan kondisi perpisahan.

Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter kami melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

How to Ease Your Child’s Separation Anxiety, https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/Pages/Soothing-Your-Childs-Separation-Anxiety.aspx diakses pada 19 Januari 2021

Separation Anxiety in Babies, https://www.healthline.com/health/baby/separation-anxiety-in-babies#signs-and-symptoms diakses pada 19 Januari 2021

Separation Anxiety in Babies, https://www.pampers.com/en-us/baby/development/article/baby-separation-anxiety diakses pada 19 Januari 2021

Is my child being too clingy and how can I help?, https://theconversation.com/is-my-child-being-too-clingy-and-how-can-i-help-115372#:~:text=%E2%80%9CClinginess%E2%80%9D%20refers%20to%20a%20child,don’t%20like%20being%20separated. diakses pada 19 Januari 2021

Does your child have separation anxiety? How to know, https://www.mother.ly/child/does-your-baby-have-separation-anxiety-how-to-know diakses pada 19 Januari 2021

 

    register-docotr