Gizi Anak

Inilah Dampak Kekurangan Zat Besi pada Anak, Orangtua Wajib Tahu!

July 28, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Zat besi adalah nutrisi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Dampak kekurangan zat besi pada anak bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Masalah kekurangan zat besi pada anak ini cukup umum terjadi. Maka dari itu, sebagai orang tua harus memerhatikan kecukupan asupan anak untuk mencegah kekurangan nutrisi.

Untuk mengetahui apa saja dampak kekurangan zat besi pada anak dan bagaimana mencegahnya, mari kita simak ulasan berikut.

Kenapa zat besi penting untuk anak

Zat besi membantu memindahkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan membantu otot menyimpan dan menggunakan oksigen. Kurangnya asupan zat besi yang cukup bisa menyebabkan kondisi defisiensi zat besi.

Defisiensi zat besi umum terjadi dan bisa muncul dari banyak tingkatan, dari defisiensi ringan sampai anemia. Kekurangan zat besi atau anemia terjadi karena darah tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat.

Bayi dilahirkan dengan zat besi yang disimpan dalam tubuh mereka, tetapi jumlah zat besi tambahan yang stabil diperlukan untuk memicu pertumbuhan dan perkembangan anak yang cepat. 

Panduan asupan zat besi untuk anak

Melansir Mayo Clinic, berikut panduan kebutuhan zat besi anak berdasarkan kelompok usia yang berbeda:

  • 7-12 bulan : 11 mg
  • 1-3 tahun : 7 mg
  • 4-8 tahun : 10 mg
  • 9-13 tahun : 8 mg
  • 14-18 tahun (perempuan) : 15 mg
  • 14-18 tahun (laki-laki) : 11 mg

Baca Juga : Wajib Tahu! Ini Daftar 10 Makanan Sumber Zat Besi Tinggi bagi Tubuh

Gejala kekurangan zat besi pada anak

Sebagian besar tanda dan gejala defisiensi zat besi pada anak-anak tidak muncul sampai anemia defisiensi zat besi terjadi. 

Berikut gejala atau tanda yang mungkin muncul saat anak mulai mengalami anemia karena kekurangan zat besi:

  • Kulit pucat
  • Kelelahan
  • Tangan dan kaki dingin
  • Pertumbuhan dan perkembangan melambat
  • Nafsu makan menurun
  • Pernapasan cepat yang tidak normal
  • Masalah perilaku
  • Mudah terkena infeksi
  • Merengek untuk makanan yang tidak bergizi seperti es, jajanan, dan lain-lain

Anak-anak dengan kekurangan zat besi juga dapat berisiko lebih tinggi untuk keracunan timbal dan infeksi.

Dampak kekurangan zat besi pada anak

Karena zat besi penting untuk tumbuh kembang anak, maka jika asupannya kurang akan ada dampak atau konsekuensi yang didapat.

Berikut beberapa dampak kekurangan zat besi pada anak yang harus orang tua waspadai.

1. Iron deficiency anemia (IDA)

Iron deficiency anaemia adalah kondisi anemia yang terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh anak. Zat besi membantu sel darah merah membawa oksigen ke tubuh dan memainkan peran kunci dalam fungsi otak dan otot. 

Setiap sel darah merah dalam tubuh mengandung zat besi dalam hemoglobinnya, protein yang membawa oksigen ke jaringan tubuh dari paru-paru. 

Zat besi memberi hemoglobin kekuatan untuk membawa atau mengikat oksigen dalam darah, sehingga oksigen mencapai tempat yang dibutuhkan. Kekurangan zat besi dalam darah dapat menyebabkan anemia, suatu kondisi yang umum pada anak-anak.

2. Dampak kekurangan zat besi pada fungsi otak

Berdasarkan penelitian dari University of the West Indies, Jamaika, ada bukti dampak perubahan fungsi otak pada bayi yang mengalami anemia karena kekurangan zat besi.

Penelitian ini dilakukan secara acak pada anak berusia di bawah 3 tahun yang menderita anemia karena defisiensi zat besi. Hasil ini mengindikasikan adanya hubungan suplemen zat besi dengan perkembangan motorik anak yang lebih baik. 

Namun, efeknya untuk mental belum bisa dipastikan. Anak-anak dengan IDA kemungkinan besar mendapat manfaat dari konsumsi suplemen zat besi.

Kemungkinan efek berbahaya dari suplementasi zat besi pada anak-anak yang kekurangan zat besi pada pertumbuhan dan morbiditas harus dipertimbangkan ketika mengembangkan program dan kebijakan.

Mencegah dampak kekurangan zat besi pada anak

Kekurangan zat besi tidak bisa diobati, tetapi bisa dicegah. Ada beberapa cara yang bisa orangtua lakukan untuk memastikan anak tidak mengalami defisiensi zat besi.

1. Pada bayi lahir normal

Mulailah memberikan suplemen zat besi pada usia 4 bulan. Lanjutkan memberi suplemen sampai dia makan dua atau lebih porsi makanan kaya zat besi sehari, seperti sereal yang diperkaya zat besi atau daging murni. 

Jika Moms menyusui dan memberikan susu formula yang diperkaya zat besi pada bayi, dan sebagian besar makanan bayi berasal dari susu formula, berhentilah memberi bayi suplemen.

2. Pada bayi lahir prematur

Mulailah memberi bayi suplemen zat besi pada usia 2 minggu. Lanjutkan memberi bayi suplemen sampai usia 1 tahun.

Jika Moms menyusui dan memberi bayi susu formula yang diperkaya dan sebagian besar makanan bayi berasal dari susu formula, berhentilah memberi bayi suplemen.

Baca Juga : Pentingnya Mencukupi Zat Besi untuk Ibu Hamil Demi Kesehatan Janin

3. Berikan makanan tinggi zat besi

Mulai usia 4-6 bulan biasanya bayi mulai diperkenalkan dengan makanan. Jangan lupa untuk mulai memberikan makanan dengan zat besi tambahan. Seperti sereal bayi yang diperkaya zat besi, daging yang dihaluskan, dan kacang yang dihaluskan. 

Untuk anak yang lebih besar, sumber zat besi yang baik di antaranya daging merah, ayam, ikan, kacang, dan bayam.

4. Jangan terlalu banyak minum susu

Antara usia 1 sampai 5 tahun, jangan biarkan anak kamu minum lebih dari 24 ons atau sekitar 710 mililiter susu dalam sehari.

5. Tingkatkan daya serap

Vitamin C membantu mempromosikan penyerapan zat besi. Orangtua harus mulai memberikan makanan yang kaya vitamin C seperti buah jeruk, blewah, stroberi, paprika, tomat, dan sayuran berwarna hijau tua.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Karger. Diakses pada 24 Juli 2020. Iron Deficiency in Childhood: Causes and Consequences for Child Development

Mayo Clinic. Diakses pada 24 Juli 2020. Iron deficiency in children: Prevention tips for parents

Cleveland Clinic. Diakses pada 24 Juli 2020. What Causes Iron Deficiency in Your Child – and How to Spot It

John Hopkins Medicine. Diakses pada 24 Juli 2020. Iron-Deficiency Anemia

    register-docotr