Kesehatan Seksual

Seks Bisa Bikin Pria Kesakitan, Ini 10 Penyebabnya!

September 17, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Seks adalah salah satu kunci keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Namun, tak jarang aktivitas seks bisa memicu rasa sakit pada pria. Kondisi itu sebaiknya tak dibiarkan terlalu lama agar tidak memengaruhi keintiman dengan pasangan.

Lalu, apa saja faktor yang bisa membuat pria kesakitan saat berhubungan seks? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Penyebab seks menyakitkan pada pria

Ada banyak faktor yang bisa membuat pria merasa kesakitan saat melakukan hubungan seks, mulai dari adanya infeksi, gangguan pada penis, hingga masalah psikologis. Berikut 10 penyebabnya yang perlu kamu tahu:

1. Infeksi menular seksual

Nyeri yang muncul setiap kali berhubungan seks perlu diwaspadai, karena bisa jadi itu adalah tanda infeksi menular seksual (IMS). IMS seperti herpes dan gonore misalnya, dapat menyebabkan rasa gatal dan sensasi panas pada alat kelamin.

Penis atau anus yang terdapat luka IMS juga biasanya lecet serta ada benjolan. Jika kamu mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera periksakan diri dan hindari aktivitas seks untuk sementara waktu.

Semakin cepat diobati, infeksi bisa lebih mudah disembuhkan. Sayangnya, gejala dari IMS terkadang tak muncul hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Ini yang kemudian menyebabkan penularan ke orang lain tanpa disadari.

Baca juga: 13 Jenis Penyakit Menular Seksual dan Gejala yang Menyertainya

2. Infeksi saluran kemih

Meski lebih umum menyerang wanita, pria juga bisa mengalami infeksi saluran kemih (ISK), lho. Gejala ISK yang paling sering muncul adalah rasa nyeri saat kencing dan berhubungan seks, terutama ketika ejakulasi.

Infeksi jamur dapat memperparah kondisi, berpotensi memicu gatal dan rasa terbakar pada ujung penis.

3. Masalah pada kulup

Kulup adalah kulit yang menutupi ujung kepala penis. Pada orang yang tidak disunat, ada banyak kondisi yang rentan terjadi, salah satunya fimosis (kulup melekat erat pada kepala penis).

Kulup bisa rusak karena robekan, gesekan, dan peradangan. Semua kondisi tersebut dapat memicu rasa sakit, terutama saat berhubungan seks dengan pasangan.

4. Priapismus

Priapismus adalah ereksi menyakitkan tanpa ada pengaruh seksual. Biasanya, keadaan tersebut bisa bertahan lama hingga berjam-jam. Tanpa adanya perawatan, priapismus bisa berdampak pada kemampuan ereksi di masa mendatang.

5. Reaksi alergi

Penis yang terasa sakit saat berhubungan seks bisa disebabkan oleh alergi. Reaksi itu dapat dipicu oleh banyak hal, dua di antaranya adalah cairan vagina dan bahan dari alat kontrasepsi.

Alergi lateks merupakan kasus yang sering ditemukan, terjadi ketika penis bersentuhan dengan kondom yang terbuat dari bahan tersebut.

Baca juga: 3 Jenis Obat untuk Mengatasi Alergi Lateks, Ini Daftarnya!

6. Masalah kulit

Bukan hanya alergi, masalah pada kulit juga bisa memicu rasa sakit saat melakukan aktivitas seksual. Balanitis misalnya, bisa membuat kepala penis meradang hingga menimbulkan rasa nyeri ketika berhubungan intim.

7. Hipersensitivitas

Penis bisa menjadi sangat sensitif tepat setelah orgasme atau ejakulasi. Jika penetrasi terus dilakukan, ini dapat membuat penis kesakitan. Pada beberapa kasus, rasa sakit itu masih bisa bertahan pada hubungan intim berikutnya jika dilakukan dalam waktu berdekatan.

Solusinya, kamu mungkin perlu mengurangi frekuensi aktivitas seksual dalam sehari. Kamu juga bisa mencari cara lain untuk menyenangkan pasangan meski tanpa melakukan seks.

8. Penis bengkok

Penyakit Peyronie, atau yang lebih dikenal dengan istilah penis bengkok, bisa membuat seks terasa menyakitkan. Ini terjadi karena adanya plak atau jaringan parut yang terbentuk di bawah kulit penis. Akibatnya, bentuk penis menjadi menekuk.

Menurut penelitian, penyakit Peyronie sangat memengaruhi kehidupan seksual seorang pria. Bahkan, kondisi itu bisa menyebabkan disfungsi ereksi.

Studi lainnya yang terbit di Journal of Sex Medicine menyebutkan, penyakit itu juga dapat mengganggu kesehatan psikologis, hingga berpengaruh pada keintiman atau keharmonisan dengan pasangan.

Baca juga: Benarkah Penis Bengkok Bisa Diluruskan Kembali? Berikut Prosedur Medisnya!

9. Masalah pada prostat

Prostatitis adalah kondisi ketika kelenjar prostat mengalami peradangan hingga membuatnya membengkak. Gejalanya berupa nyeri atau sensasi terbakar saat kencing dan berhubungan seks.

Tak perlu panik, antibiotik yang diresepkan oleh dokter spesialis Urologi biasanya bisa membantu. Mandi air hangat sebelum berhubungan intim juga dipercaya dapat meminimalkan rasa sakit yang akan muncul.

10. Gangguan psikologis

Seks yang menyakitkan pada pria bukan hanya bisa dipicu oleh gangguan fisik, tapi juga psikis.  Stres dan cemas dapat memengaruhi kinerja otak dalam memberi sinyal terhadap rangsangan seksual. Aliran darah menuju penis terganggu, sehingga ereksi menjadi tidak maksimal.

Tanpa ereksi yang maksimal, penis bisa terasa kesakitan jika dipaksa untuk melakukan penetrasi ke vagina. Bahkan, jika dibiarkan, stres dan cemas dapat menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi.

Nah, itulah 10 penyebab seks yang menyakitkan pada pria. Untuk meminimalkan kondisi tersebut, tetap jaga kesehatan fisik dan mental, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Verywell Health, diakses 16 September 2021, Reasons Men Have Pain During Sexual Intercourse.
  2. The Health Site, diakses 16 September 2021, 6 reasons for pain during sex in men.
  3. Healthline, diakses 16 September 2021, Can Stress and Anxiety Cause Erectile Dysfunction?
  4. Healthline, diakses 16 September 2021, 7 Ways Peyronie’s Disease Can Affect Your Sex Life.
  5. WebMD, diakses 16 September 2021, Sexual Performance Anxiety.
  6. NCBI, diakses 16 September 2021, The Impact of Peyronie’s Disease on the Patient: Gaps in Our Current Understanding.
  7. NCBI, diakses 16 September 2021, Psychosexual Symptoms and Treatment of Peyronie’s Disease Within a Collaborative Care Model.

    register-docotr