Kesehatan Seksual

Jauh Berbeda dengan Wanita, Ini Detail dan Fungsi Organ Reproduksi Pria

February 25, 2021 | Richaldo Hariandja
feature image

Secara umum, fungsi dari organ reproduksi pria adalah untuk menghasilkan, mempertahankan dan menyalurkan sperma dan semen ke saluran reproduksi wanita pada saat melakukan hubungan seksual.

Tidak seperti pada wanita, sebagian besar organ reproduksi pria berada di luar tubuh. Pada struktur eksternal ini, terdapat penis, skrotum dan testikel.

Baca Juga: 7 Penyakit pada Sistem Reproduksi Pria yang Perlu Kamu Ketahui

Apa itu organ reproduksi pria?

Alat reproduksi pria merupakan sistem yang tersusun dari kelompok organ reproduksi dan sistem kemih. Organ-organ ini memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Untuk menghasilkan, mempertahankan dan menyalurkan sperma (sel reproduksi pria) dan semen (cairan pelindung di sekitar sperma)
  • Mengeluarkan sperma ke sistem reproduksi wanita
  • Menghasilkan dan mensekresi hormon kelamin pria

Organ reproduksi pria ini dibagi menjadi alat reproduksi pria bagian dalam tubuh (internal) dan luar tubuh (eksternal). Gabungan dari organ-organ ini membuat kamu mampu buang air kecil (untuk membuang produk sampah dalam tubuh), melakukan hubungan seksual dan membuahi.

Untuk lebih jauh mengenal organ reproduksi pria, berikut ini adalah bagian dan fungsi-fungsinya:

Alat reproduksi pria bagian luar

Kebanyakan organ reproduksi pria terletak di luar rongga abdomen atau panggul. Bagian luar sistem reproduksi ini termasuk penis, skrotum dan testikel.

Organ reproduksi pria yakni penis

Anatomi penis. Foto: https://www.shutterstock.com

Organ reproduksi pria yang satu ini adalah yang dipakai dalam hubungan seksual. Ada tiga bagian dari penis, yaitu:

Tubuh atau batang

Batang penis berbentuk silinder dan terdiri dari 3 kamar yang bentuk bundar. Kamar-kamar ini dibentuk dari jaringan khusus yang mirip dengan spons.

Jaringan-jaringan ini mengandung ribuan ruang yang akan terisi oleh darah saat birahi pria naik. Ketika penis terisi oleh darah maka batang akan mengeras, kondisi inilah yang dikenal sebagai ereksi.

Dengan mengerasnya batang, maka pria dapat melakukan penetrasi pada saat berhubungan seksual. Perubahan ukuran penis ini pada saat ereksi dimungkinkan oleh kulit penis yang longgar dan elastis.

Kelenjar 

Bagian ini merupakan ujung penis yang berbentuk seperti jagung. Kelenjar juga biasa disebut dengan kepala penis, yang tertutup oleh lapisan kulit kendur yang disebut kulup atau kulit khatan.

Kepala penis ini mengandung banyak ujung saraf yang sensitif. Selain itu, pada ujung penis terdapat mulut uretra yang merupakan saluran yang mengalirkan semen dan urine. 

Saat penis sedang ereksi, aliran urine akan dihambat dari uretra, sehingga pada saat itu hanya semen saja yang bisa keluar dari ujung kepala penis saat pria ejakulasi.

Detail organ reproduksi pria. Foto: https://www.true.org.au
Bagian skrotum

Skrotum atau kantung buah pelir adalah kulit yang menggantung di belakang dan di bawah penis. Kantung ini mengandung testikel, serta banyak saraf dan pembuluh darah.

Kantung ini merupakan sistem pengontrol suhu untuk testikel. Karena dibutuhkan suhu yang tepat untuk perkembangan sperma yang normal, yaitu sedikit lebih dingin ketimbang suhu tubuh secara keseluruhan.

Otot-otot khusus yang berada di dinding skrotum membuatnya dapat mengerut dan mengendur. Sehingga dia dapat menggerakan testikel mendekat ke tubuh kalau membutuhkan suhu yang lebih hangat, atau menjauh ketika membutuhkan suhu yang lebih dingin.

Organ reproduksi pria yakni testikel

Testikel berbentuk oval dan sebesar zaitun yang berada di dalam skrotum. Pada kondisi normal, pria memiliki dua testikel. 

Testikel juga disebut dengan testis, keduanya bertanggung jawab dalam membuat testosteron yang merupakan hormon seksual primer pria. Selain itu, testis juga bertanggung jawab dalam menghasilkan sperma.

Di dalam testis terdapat saluran melingkar-lingkar yang disebut tubulus seminiferus. Pada saluran ini sel sperma dihasilkan.

Epididimis

Bagian ini merupakan saluran panjang melingkar yang berada di bagian belakang tiap testis.

Epididimis akan menyalurkan dan menyimpan sel sperma yang dihasilkan di testis. Bagian dari organ reproduksi pria ini juga memiliki tanggung jawab dalam mematangkan sel sperma, karena yang dihasilkan dari testis masih belum cukup matang dan layak dalam pembuahan.

Alat reproduksi pria bagian dalam

Setiap pria memiliki organ reproduksi bagian dalam (juga disebut dengan organ tambahan) yang memiliki fungsi penting dalam sistem reproduksi. Di antaranya ialah:

Vas deferens

Saluran yang panjang ini menghubungkan epididimis dengan rongga panggul. Vas deferens mengangkut sperma yang sudah matang menuju uretra sesaat sebelum ejakulasi terjadi.

Organ reproduksi pria termasuk vasikula seminalis

Merupakan bagian dari organ reproduksi pria yang menempel di vas deferens yang berada di dekat pangkal buli-buli. Vesikula seminalis menghasilkan cairan kaya gula atau fruktosa yang menjadi sumber tenaga bagi sperma ketika mereka bergerak mencari sel telur.

Uretra

Sama seperti wanita, uretra juga juga merupakan saluran yang membawa urine dari buli-buli ke luar tubuh. Akan tetapi, uretra pria juga memiliki fungsi tambahan, yaitu sebagai saluran ejakulasi semen saat pria orgasme.

Kelenjar prostat

Kelenjar prostat merupakan struktur berbentuk biji kenari yang terletak di bawah buli-buli di depan dubur. Kelenjar ini juga berperan dalam menambahkan cairan ejakulasi dan cairan prostat juga berperan penting untuk pertumbuhan sperma.

Kelenjar bulbouretra termasuk organ reproduksi pria

Dikenal juga sebagai kelenjar cowper, bagian dari organ reproduksi pria ini merupakan struktur yang terletak di sisi uretra di bawah kelenjar prostat. Kelenjar ini menghasilkan cairan licin dan bening.

Cairan yang dihasilkan kelenjar ini berfungsi untuk melicinkan uretra dan menetralisasi zat asam yang mungkin hadir karena urine di uretra.

Seperti apa cara kerja alat reproduksi pria?

Seluruh organ reproduksi pria bergantung pada hormon. Senyawa kimia ini menstimulasi atau mengatur aktivitas setiap sel dan organ tersebut. 

Hormon utama yang berperan penting dalam sistem reproduksi pria ini adalah follicle-stimulating hormon (FSH), luteinizing hormon (LH) dan testosteron.

FSH dan LH diproduksi oleh kelenjar di bawah otak yang juga bertanggung jawab terhadap segala macam fungsi tubuh. FSH sangat dibutuhkan untuk produksi sperma. Sementara LH menstimulasi produksi testosteron yang juga penting untuk melanjutkan proses yang sama.

Testosteron juga penting untuk pertumbuhan karakteristik pria, seperti massa dan kekuatan otot, distribusi lemak, massa tulang dan dorongan seksual.

Bisakah pria mengalami menopause?

Menopause merupakan istilah yang dipakai untuk menandai akhir dari fungsi menstruasi seorang wanita. Pada wanita, kondisi ini ditandai dengan perubahan produksi hormon. Salah satu efek setelah menopause adalah wanita tidak akan bisa memiliki anak.

Sementara testis pria tidak sama dengan ovarium. Organ reproduksi ini tidak akan kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan hormon. Jika pria masih tergolong sehat, maka dia bisa menghasilkan sperma dengan baik hingga di usia 80 tahun ke atas.

Di sisi lain, perubahan halus bisa terjadi pada fungsi testis di usia 45-50 tahun. Dan menjadi lebih dramatis di usia ke-70 tahun. Bagi kebanyakan pria, produksi hormon masih tergolong normal di usia tua, sementara ada juga yang mengalami penurunan.

Kondisi penurunan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit, salah satunya adalah diabetes. Meskipun demikian, masih tidak jelas apakah penurunan fungsi testis dapat berkontribusi terhadap gejala seperti letih, lemah, depresi atau bahkan impoten.

Bisakah ‘menopause pria’ diatasi?

Jika level hormon testosteron kamu rendah, maka terapi penggantian hormon dapat membantu untuk menurunkan gejala yang timbul seperti hilangnya dorongan seksual, depresi hingga letih.

Meskipun demikian, mengganti hormon pria dapat membuat kanker prostat menjadi semakin buruk. Cara ini pun bisa membuat aterosklerosis atau pengerasan arteri menjadi buruk.

Sebelum melaksanakan terapi penggantian hormon ini, kamu harus menjalani serangkaian pemeriksaan fisik dan laboratorium. Cleveland Clinic menyebutkan masih banyak pertanyaan yang belum bisa menjawab seberapa efektif cara ini pada pria paruh baya.

Apa saja penyakit dan masalah organ reproduksi pria?

Dilansir Des Moines University, berikut ini beberapa penyakit dan masalah yang bisa mengganggu alat reproduksi pria:

  • Hypospadias: Kondisi saat bukaan saluran kemih bagian luar berada di bawah kepala penis, bukan di ujung penis
  • Hydrocele: Kantung yang berisi cairan dan mengitari testis. Kemunculannya berupa benjolan di sisi skrotum
  • Varicocele: Pembuluh vena yang melebar dan terpelintir di testis. Kemunculannya berupa bengkak di sisi skrotum yang mungkin terlihat dan terasa seperti sekantung cacing
  • Cryptorchidism: Kondisi saat salah satu atau kedua testis kurang turun ke skrotum. Jika tidak diperbaiki sebelum masa pubertas, dapat berisiko kemandulan dan kanker testis

Demikianlah berbagai penjelasan tentang organ reproduksi pria yang perlu kamu ketahui. Mengenali bagian dari organ reproduksi dapat membantu kamu lebih mengenal tubuh kamu, lho.

Kalau masih ada pertanyaan seputar kesehatan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kami yang sedia 24/7 di Good Doctor, ya!

Reference
  1. Webmd.com (2020) diakses 17Agustus 2020. The Male Reproductive System
  2. Kidshealth.org (2019) diakses 17 Agustus 2020. Male Reproductive System 
  3. Cleveland Clinic, diakses 25 Februari 2021. Male Reproductive System: Structure & Function
  4. Des Moines university, diakses 25 Februari 2021. Male reproductive system diseases
    register-docotr