Kesehatan Seksual

Kenali Kelebihan dan Kekurangan Spermisida untuk Mencegah Kehamilan

May 15, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Spermisida merupakan salah satu alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Spermisida memang belum banyak digunakan seperti layaknya pil KB. Akan tetapi, alat kontrasepsi ini memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Lantas, apa kelebihan dan kekurangan spermisida?

Baca juga: Benarkah Spermisida Pembunuh Sperma Efektif Tunda Kehamilan?

Apa itu spermisida?

Spermisida adalah metode kontrasepsi yang mengandung bahan kimia yang menghentikan sperma mencapai sel telur. Bahan kimia yang terkandung dalam spermisida, seperti halnya nonoxynol-9 dapat mencegah sperma memasuki rahim atau uterus.

Spermisida tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari krim, gel, supositoria, serta busa (foam). Spermisida biasanya digunakan dengan cara memasukkannya ke dalam vagina sebelum berhubungan intim.

Dikutip dari laman Planned Parenthood, spermisida bekerja dengan dua cara. Pertama, menghalangi jalan masuk ke serviks (leher rahim) sehingga sperma tidak bisa mencapai sel telur. Kedua, menghentikan sperma agar tidak bergerak dengan baik untuk menuju sel telur.

Apa kelebihan dan kekurangan spermisida?

Sebelum memutuskan untuk menggunakan spermisida, penting bagi kamu mengetahui kelebihan dan kekurangan dari spermisida. Berikut ini adalah penjelasannya mengenai kelebihan dan kekurangan spermisida.

Kelebihan spermisida

1. Spermisida lebih murah

Kelebihan pertama dari spermisida yakni memiliki harga yang relatif murah dan terjangkau. Spermisida juga dapat dibeli di apotek terdekat tanpa resep dokter. Tak hanya itu, karena spermisida berukuran kecil, ini menjadikannya praktis dibawa-bawa.

2. Tidak mengganggu hubungan intim

Seperti yang sudah diketahui bahwa spermisida digunakan dengan cara memasukkannya ke dalam vagina sebelum berhubungan intim, yang mana ini dapat membuat hubungan intim menjadi tidak terganggu.

3. Spermisida tidak memiliki hormon

Sebagian orang mungkin saja memilih untuk menggunakan kontrasepsi non-hormonal atau tidak dapat menggunakan metode kontrasepsi yang mengandung hormon karena kondisi medis tertentu. Pada kasus, ini spermisida bisa menjadi pilihan.

4. Efektif jika digunakan dengan benar

Jika digunakan dengan benar dan bersamaan dengan metode kontrasepsi lainnya, seperti kondom, diafragma, atau cervical cap, tingkat kegagalannya hanya 3-10 persen.

Kekurangan spermisida

1. Harus digunakan setiap kali berhubungan intim

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa kelebihan spermisida bekerja baik jika kamu menggunakannya dengan benar pada saat berhubungan. Namun, bagi sebagian orang, hal ini juga bisa menjadi kekurangan dari spermisida yang mungkin saja bagi mereka sulit untuk dilakukan.

Tak hanya itu, kamu juga harus menggunakannya setiap kali berhubungan intim. Spermisida pun harus digunakan kurang dari 30 menit sebelum berhubungan.

Jika kamu tidak yakin untuk menggunakan spermisida, kamu bisa memilih metode lain yang lebih mudah digunakan.

2. Memiliki efek samping tertentu

Bahan kimia yang terkandung dalam spermisida yakni nonoxynol-9 yang dapat menyebabkan iritasi pada jaringan genital yang sensitif, terutama jika digunakan terlalu sering. Iritasi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi masuk ke dalam tubuh.

Sebagian orang mungkin saja juga alergi terhadap spermisida.

3. Tidak memberikan perlindungan dari penyakit menular seksual (PMS)

Kekurangan lain dari spermisida adalah tidak menawarkan perlindungan apapun dari PMS. Maka dari itu, untuk mengurangi risiko dari PMS, disarankan juga untuk menggunakan kondom.

4. Lebih efektif jika digunakan dengan metode kontrasepsi lain

Jika digunakan sendiri, spermisida tidak efektif. Untuk menghindari tingkat kegagalan yang tinggi terhadap perlindungan dari kehamilan, penggunaannya harus bersamaan dengan metode kontrasepsi lainnya, terutama kondom.

Baca juga: Kenali A-Spot, Titik Kepuasan Seksual Wanita selain G-Spot

Selain memerhatikan kelebihan dan kekurangan spermisida, lalu seberapa efektifkah alat kontrasepsi ini?

Pada dasarnya, spermisida memang dapat digunakan secara sendiri. Namun, efektivitasnya lebih tinggi jika digunakan bersamaan dengan metode kontrasepsi lainnya, misalnya saja kondom atau diafragma. Jika digunakan secara sendiri, efektivitasnya hanya 70-80 persen.

Akan tetapi, jika penggunaannya melibatkan kontrasepsi lain dan digunakan dengan benar, efektifitasnya mencapai 98 persen.

Spermisida sendiri tidak memiliki efek apapun terhadap siklus reproduksi pria serta wanita. Jika tidak digunakan kembali, kemungkinan untuk hamil dapat terjadi.

Kondisi yang tidak memperbolehkan penggunaan spermisida

Perlu diketahui juga bahwa spermisida tidak cocok untuk digunakan semua orang. Spermisida tidak boleh digunakan jika:

  • Mengidap human immunodeficiency virus (HIV) atau acquired immune deficiency syndrome (AIDS)
  • Mengalami infeksi saluran kemih
  • Berisiko tinggi untuk hamil, misalnya saja berusia di bawah 30 tahun atau berhubungan intim tiga kali atau lebih dalam seminggu.

Itulah beberapa informasi mengenai kelebihan dan kekurangan spermisida. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait hal ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya.  

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

American Pregnancy Association (2017). Diakses pada 09 Mei 2021. Spermicide 

Mayo Clinic (2019). Diakses pada 09 Mei 2021. Spermicide

Planned Parenthood. Diakses pada 09 Mei 2021. Spermicide & Contraceptive Gel 

Planned Parenthood. Diakses pada 09 Mei 2021. What are the benefits of spermicide?

Planned Prarenthood. Diakses pada 09 Mei 2021. What are the disadvantages of using spermicide? 

Planned Parenthood. Diakses pada 09 Mei 2021. How effective is spermicide? 

Webmd (2020). Diakses pada 09 Mei 2021. Guide to Spermicide 

    register-docotr