Puasa

Sakit di Bulan Ramadan, Bagaimana Aturan Minum Obat Saat Puasa?

May 6, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Ramadan adalah momen di mana umat muslim menahan diri dari makan, dan minum sejak subuh sampai magrib.

Tak hanya itu, di bulan tersebut kaum muslim juga tidak diperbolehkan memasukkan apapun ke dalam tubuh. Termasuk mengonsumsi obat-obatan oral meski untuk alasan medis.

Lalu bagaimana jika kamu harus meminum obat secara berkelanjutan untuk mengatasi penyakit yang kamu derita? Cek ulasan berikut untuk menemukan jawabannya.

Baca juga: 5 Panduan Menu Diet saat Puasa agar Badan Tetap Sehat

Tentang puasa Ramadan dan orang sakit

Secara umum, puasa Ramadan hukumnya wajib bagi semua Muslim dewasa yang berakal sehat dan memiliki fisik yang bugar.

Terdapat pengecualian untuk orang-orang yang tidak dapat menjalankan puasa dengan aman. Misalnya orang tua dan penderita penyakit kronis seperti diabetes.

Puasa Ramadan adalah salah satu ibadah yang bernilai pahala tinggi, tak jarang umat muslim yang sakit pun tetap ingin melaksanakannya.

Jika kamu termasuk yang berada dalam kondisi tersebut, kamu perlu memerhatikan beberapa hal. Ini supaya ibadah puasa tidak berisiko bagi kondisi kesehatanmu sendiri.

Hal yang perlu diperhatikan jika sakit di bulan Ramadan

Selama Ramadan, minum obat secara oral (melalui mulut) dianggap sebagai pembatal puasa. Jika kamu perlu mengonsumsi obat secara teratur dan ingin tetap berpuasa, bicarakan dengan dokter tentang pilihan tersebut terlebih dahulu.

Ini penting karena dokter biasanya akan membuat perubahan pada jadwal pengobatan yang harus kamu lakukan. Misalnya dengan mengubah jenis, dosis, atau waktu meminum obat.

Kamu juga disarankan untuk berkonsultasi pada dokter sebelum memutuskan berpuasa. Tujuannya agar dokter bisa mempertimbangkan keamanan dan efek puasa terhadap kondisi kesehatanmu.

Aturan minum obat-obatan selama puasa

Dilansir NCBI, orang yang minum obat penyakit kronis perlu menyesuaikan jadwal pengobatan mereka. Terutama supaya tetap bisa meminum obat di antara waktu sahur atau berbuka.

Untuk pengobatan yang diminum beberapa kali sepanjang hari, strategi yang direkomendasikan adalah mengubah komposisi atau jumlah dosis.

Untuk kondisi medis jangka pendek yang memerlukan pengobatan, seperti antibiotik untuk infeksi, atau obat antiinflamasi nonsteroid untuk nyeri, obat dengan dosis sekali sehari harus dipilih.

Adapun untuk kondisi tertentu seperti migrain, kamu juga disarankan untuk menghindari pemicu gejala. Misalnya seperti selalu melakukan makan sahur, dan tetap terhidrasi dengan baik setelah berbuka.

Pengobatan pasien hipertensi selama bulan puasa

Untuk individu dengan hipertensi, penyedia layanan kesehatan juga perlu mendidik pasien untuk memerhatikan kondisi fisik. Termasuk menghindari dehidrasi, memantau tekanan darah secara teratur, dan memerhatikan tanda-tanda hipotensi seperti pusing.

Secara umum, setiap kondisi yang memerlukan obat untuk diminum beberapa kali sehari atau yang dipengaruhi oleh asupan makanan dan minuman seperti hipertensi juga mungkin memerlukan penyesuaian terapi.

Pengobatan pasien dengan diabetes selama bulan puasa

Diabetes adalah salah satu kondisi yang paling menantang untuk ditangani selama Ramadan, dan pasiennya sendiri memerlukan pemantauan ketat. Sebuah tinjauan sistematis menemukan fakta bahwa puasa dimungkinkan pada pasien diabetes, bahkan jika mereka bergantung pada insulin.

Namun puasa juga dapat meningkatkan risiko hipoglikemia dan ketoasidosis diabetik. Dilansir Healthline, hipoglikemia adalah kondisi di mana kadar gula dalam darah terlalu rendah sehingga berbahaya bagi penderita diabetes.

Jadi para penderita diabetes yang hendak melakukan ibadah puasa, tetap dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang telah berlangsung dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan

Larangan meminum obat-obatan selama berpuasa memang bisa menjadi dilema bagi kaum muslim yang sedang sakit. Namun kamu bisa menghilangkan kekhawatiran ini dengan mengikuti anjuran-anjuran di atas.

Kamu juga disarankan untuk selalu mengonsumsi cukup air sebelum dan sesudah puasa untuk mencegah dehidrasi. Ini penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit selama berpuasa.

Jika kamu mengalami dehidrasi, mereka harus segera berbuka puasa dan penuhi kebutuhan cairan tubuhmu.

Terakhir, bentuk sediaan non-oral seperti suntikan, inhalasi, supositoria dan tetes mata/telinga biasanya diperbolehkan selama puasa, meskipun ada beberapa pertimbangan medis lain yang harus perhatikan.

Ingat, setiap perubahan jadwal atau dosis obat hanya boleh diberikan oleh dokter sesuai kondisi kesehatanmu, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

NCBI diakses pada 5 Mei 2021

Drug Topics diakses pada 5 Mei 2021

Healthline diakses pada 5 Mei 2021

Marie Curie diakses pada 5 Mei 2021

 

 

    register-docotr