Kamus Penyakit

Toksoplasmosis (Virus Toxoplasma)

October 13, 2020 | Muhammad Hanif S.
no-image

Toksoplasmosis atau infeksi virus Toxoplasma adalah kondisi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius hingga dampak fatal seperti kematian.

Toksoplasmosis tidak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga bayi bahkan janin yang masih berada di dalam kandungan. Seberapa bahayakah penyakit ini? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca Juga: COVID-19 (Virus Corona)

Apa itu penyakit toksoplasmosis? 

Toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh sebuah parasit, bisa menyebabkan kista atau penumpukan cairan di beberapa bagian tubuh, seperti otak, otot, dan jantung.

Toksoplasmosis adalah salah satu penyakit yang menyerang sistem imun, sehingga rentan dialami oleh orang-orang yang kekebalannya sedang menurun, termasuk ibu hamil. Pada orang dengan imunitas baik, gejalanya mungkin tidak akan nampak di awal waktu.

Baca juga: Wajib Tahu! Ini 5 Jenis Penyakit yang Ditularkan oleh Tikus

Apa penyebab toksoplasmosis?

Pola transmisi virus Toxoplasma. Sumber foto: www.icatcare.or

Penyebab toksoplasmosis adalah parasit protozoa (bersel satu) bernama Toxoplasma gondii. Parasit ini bersifat zoonosis, artinya hidup di hewan sebelum ditularkan ke manusia. Penularan virus tokso bisa melalui:

1. Makanan

Makanan adalah salah satu medium penularan paling umum dari virus Toxoplasma. Seseorang bisa mengalami toksoplasmosis dari:

  • Makan daging yang kurang matang dan terkontaminasi parasit, terutama pada babi, domba, tiram, dan kerang
  • Minum susu (terutama dari kambing) yang tidak dipasteurisasi
  • Mengonsumsi makanan yang diolah menggunakan perkakas bekas yang terkontaminasi, seperti talenan dan pisau.

2. Transmisi hewan ke manusia

Seseorang bisa terpapar virus Toxoplasma dari hewan yang telah terinfeksi. Menurut penjelasan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus tokso dapat hidup dan berkembang biak di tubuh hewan seperti kucing, burung, tikus, kambing, domba, sapi, babi, dan rusa.

Parasit itu kemudian ditularkan ke manusia lewat kotoran atau fesesnya. Kucing adalah hewan yang sering menularkan virus Toxoplasma ke manusia. Hewan ini lebih dulu terinfeksi akibat memakan tikus dan burung. Jika kucing dibiarkan keluar, tanah dan air di sekitarnya bisa ikut terpapar.

3. Ibu ke anak

Seorang wanita yang baru terinfeksi virus Toxoplasma selama kehamilan dapat menularkannya ke janin. Wanita tersebut mungkin tidak merasakan gejala toksoplasmosis, tapi ini bisa berdampak buruk pada kondisi janinnya, seperti gangguan pada sistem saraf dan mata.

4. Penularan yang jarang terjadi

Meski jarang, penularan virus tokso bisa terjadi melalui donor darah atau transplantasi organ dari orang yang positif. Begitu juga dengan pekerja laboratorium yang menangani darah terinfeksi, dapat tertular meski tidak disengaja.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena toksoplasmosis?

Dilansir dari Mayo Clinic, setiap orang berpotensi untuk terinfeksi virus Toxoplasma. Sebab, virus ini ditemukan di seluruh dunia, meski lebih banyak yang hidup di negara-negara beriklim tropis dan panas.

Ada beberapa kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi virus tokso, yaitu pengidap penyakit tertentu yang berhubungan dengan penurunan sistem kekebalan, seperti HIV/AIDS dan kanker.

Orang yang sedang menjalani pengobatan menggunakan steroid dan imunosupresan juga memiliki peluang tinggi untuk terpapar.

Apa gejala dan ciri-ciri toksoplasmosis?

Gejala pada orang yang telah terinfeksi virus Toxoplasma bervariasi, dibedakan berdasarkan kondisi masing-masing, seperti:

1. Orang sehat

Orang sehat yang terinfeksi virus tokso seringkali tidak menunjukkan gejala di awal waktu. Sistem imun bisa melawan keberadaan parasit, meski tubuh tetap dapat merasakan tanda-tanda ringan menyerupai flu, seperti:

  • Pegal-pegal
  • Sakit kepala
  • Demam
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Gejala menyerupai flu tersebut bisa bertahan hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tapi kemudian hilang dengan sendirinya.

Virus tokso masih berada di dalam tubuh orang tersebut tapi dalam keadaan tidak aktif. Virus bisa kembali aktif jika terjadi imunosupresi (reaksi kekebalan dalam kondisi tertekan).

2. Ibu hamil

Pada umumnya, jika seorang wanita telah terinfeksi virus Toxoplasma sebelum hamil, janin yang dikandung akan terlindungi. Sebab, tubuh ibu telah mengembangkan kekebalannya.

Tapi jika seorang wanita tertular ketika sudah hamil, gejala biasanya tidak dirasakan sang ibu, tapi pada janinnya, seperti:

  • Toksoplasmosis kongenital, ditandai dengan pembesaran atau pengecilan ukuran kepala pada janin
  • Kejang
  • Penyakit kuning pada mata
  • Infeksi mata yang parah
  • Cacat mental.

Baca juga: Kenali Bahaya Corona bagi Ibu Hamil dan Cara Mencegahnya

3. Orang dengan kekebalan rendah

Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah kemungkinan besar mengalami gejala yang parah setelah terinfeksi virus Toxoplasma. Penyintas HIV/AIDS misalnya, dapat mengalami infeksi primer yang lebih serius.

Gejala yang mungkin sering dirasakan pada orang dengan imunitas rendah adalah sakit kepala akut, mual, kebingungan, hingga kejang.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat virus Toxoplasma?

Jika memiliki sistem kekebalan tubuh normal, kamu akan terhindar dari berbagai komplikasi serius. Sebaliknya, jika imunitas rendah, virus Toxoplasma dapat menyebar ke berbagai organ penting dan menyebabkan kondisi fatal, seperti:

  • Kebutaan: Pergerakan virus tokso di dalam tubuh sangat aktif, bisa menjangkau bagian kepala jika tidak segera diobati. Virus ini dapat menyebabkan infeksi mata yang parah, mengaburkan penglihatan, hingga memicu kebutaan permanen.
  • Radang otak: Toksoplasmosis yang parah bisa menyebabkan ensefalitis atau peradangan di otak. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko demensia, skizofrenia, hingga koma.

Pada penyintas HIV, komplikasinya bisa lebih parah dari yang dibayangkan. Kejang berkepanjangan dapat terjadi hingga membahayakan nyawa.

Sedangkan pada anak-anak, komplikasi bisa muncul lebih dari satu, misalnya kehilangan penglihatan, masalah pendengaran, hingga gangguan mental.

Baca juga: Waspadai Penyakit Japanese Encephalitis, Radang Otak Akibat Gigitan Nyamuk

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati virus Toxoplasma?

Virus Toxoplasma adalah parasit yang cukup berbahaya, terutama pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah. Penanganan yang tepat perlu dilakukan untuk meminimalkan terjadinya komplikasi.

Perawatan toksoplasmosis di dokter

Sebelum meresepkan obat, dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk membuat diagnosis, seperti:

1. Tes serologi

Tes serologi dilakukan dengan pengambilan sampel darah untuk mendeteksi adanya antibodi di dalam tubuh. Antibodi adalah protein yang dihasilkan oleh sistem imun ketika ada zat asing yang masuk ke dalam tubuh, seperti virus dan bakteri.

2. Tes untuk janin

Toksoplasmosis adalah penyakit yang bukan hanya bisa menyerang orang dewasa, tapi juga janin. Tes ini perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko komplikasi ketika lahir, seperti gangguan mental, infeksi mata, hingga gangguan pendengaran.

Tes pada janin dilakukan dengan cara:

  • Amniosentesis: Prosedur ini dilakukan setelah 15 minggu usia kehamilan, menggunakan jarum halus untuk mengeluarkan sedikit cairan dari kantong ketuban yang mengelilingi janin.
  • Ultrasound: Tes menggunakan teknologi gelombang suara ini bukan untuk mendeteksi virus Toxoplasma, melainkan bentuk tubuh janin yang terindikasi mengalami toksoplasmosis. Salah satu indikasi itu adalah pembesaran kepala akibat penumpukan cairan (hidrosefalus).

3. Magnetic resonance imaging (MRI)

Tes yang menggunakan gelombang elektromagnetik ini bertujuan membuat gambar atau citra visual dari penampang kepala dan otak. Selama prosedur, kamu akan berbaring di dalam mesin berbentuk bulat dengan lubang di tengah yang dikelilingi pemancar gelombang.

4. Biopsi otak

virus toxoplasma
Ilustrasi biopsi otak. Sumber foto: www.ksanews365.org

Pada kasus yang jarang, dokter atau ahli bedah saraf akan mengambil sampel kecil dari jaringan otak. Sampel tersebut kemudian dianalisis di laboratorium untuk diperiksa apakah terdapat kista toksoplasmosis.

Cara mengatasi toksoplasmosis secara alami di rumah

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit, sehingga penyembuhannya hanya bisa dilakukan dengan prosedur medis. Tapi, untuk mencegah agar kondisinya tak memburuk, kamu bisa mengonsumsi makanan bergizi yang dapat meningkatkan kekebalan, seperti:

  • Buah-buahan sitrus seperti jeruk, mengandung vitamin C tinggi yang bisa mengoptimalkan produksi sel darah putih (leukosit). Keberadaan sel darah putih sangat penting dalam perlawanan terhadap infeksi.
  • Brokoli, mengandung vitamin A, C, dan E. Sayuran ini bisa berperan sebagai antioksidan alami bagi tubuh.
  • Bayam, mengandung beta-karoten yang bisa meningkatkan sistem imun dan melawan infeksi.
  • Teh hijau, kaya akan flavonoid yang bisa berpengaruh positif pada sistem kekebalan tubuh. Green tea juga merupakan sumber asam amino L-theanine yang dapat membantu produksi senyawa pelawan parasit di sel T.

Apa saja obat virus Toxoplasma yang biasa digunakan?

Pengobatan untuk toksoplasmosis bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan obat medis dan bahan-bahan alami seperti herbal.

Obat virus Toxoplasma di apotik

Mengutip Mayo Clinic, obat yang sering digunakan untuk mengatasi virus Toxoplasma adalah pirimetamin. Obat ini bekerja dengan menghentikan proses kembang biak parasit yang telah berada di aliran darah.

Pirimetamin memblokir dihidrofolat reduktase, enzim yang telibat dalam proses reproduksi parasit seperti virus tokso.

Pirimetamin biasanya diresepkan bersama dengan leucovorin, yaitu obat injeksi asam folat. Ini karena pirimetamin sendiri adalah obat yang bersifat antagonis folat, sehingga leucovorin dibutuhkan untuk menjaga pemenuhan kadar vitamin B9 di dalam tubuh.

Obat virus Toxoplasma alami

herbal untuk virus toxoplasma
Artemisia annua diklaim bisa atasi toksoplasmosis. Sumber foto: www.bbc.com

Sebuah penelitian yang terbit di Candian Journal of Physiology and Pharmacology menjelaskan, ada beberapa herbal yang bisa digunakan untuk membasmi dan menghambat proses kembang biak virus Toxoplasma, di antaranya adalah:

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita toksoplasmosis?

Pantangan pasien yang mengalami infeksi virus Toxoplasma bukan pada makanannya, melainkan cara mengolah dan pemakaian perkakas yang digunakan. Dilansir dari Food and Drug Administration (FDA), seseorang yang tertular virus Toxoplasma harus memerhatikan kebersihan makanan.

Sebelum memakannya, pastikan untuk memasak makanan benar-benar matang. Sebab, virus Toxoplasma bisa hidup dan berkembang biak pada makanan mentah, terutama daging sapi, ayam, domba, dan babi.

Selain itu, ada baiknya kamu menghindari beberapa makanan yang bisa menurunkan sistem imun. Selain memperlambat proses penyembuhan, hal ini berpotensi untuk memperburuk keadaan. Sebab, tubuh yang telah terinfeksi membutuhkan imunitas tinggi untuk melakukan perlawanan.

Beberapa makanan atau zat yang bisa menurunkan kinerja sistem imun adalah:

  • Kafein
  • Alkohol
  • Minuman bersoda
  • Makanan yang mengandung banyak garam
  • Minuman yang mengandung banyak gula

Baca juga: Kenali Jenis-jenis Penyakit Autoimun Umum dan Gejala Khasnya

Bagaimana cara mencegah virus Toxoplasma?

Bicara soal pencegahan, hal yang bisa dilakukan adalah meminimalkan penularan dari virus Toxoplasma itu sendiri, yaitu dengan:

  • Hindari minum air yang tidak higienis
  • Hindari makan makanan mentah atau setengah matang, terutama daging
  • Cuci semua buah sebelum dikonsumsi, dan buang kulitnya jika memungkinkan
  • Hindari minum susu yang tidak dipasteurisasi, karena bisa mengandung virus Toxoplasma
  • Selalu cuci tangan dengan sabun, terutama setelah menyentuh hewan peliharaan seperti kucing
  • Gunakan sarung tangan saat berkebun, karena tanah atau pasir bisa terkontaminasi kotoran kucing yang mengandung virus Toxoplasma
  • Beri makan kucing hanya dengan produk kering kalengan, bukan daging mentah atau setengah matang
  • Bersihkan kotoran kucing setiap hari. Virus Toxoplasma tidak menjadi infeksius hingga lima hari setelah dikeluarkan dari kotoran kucing.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang penyakit toksoplasmosis yang disebabkan oleh virus Toxoplasma. Yuk, lakukan langkah pencegahan untuk meminimalkan penularan virus tokso tersebut!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 8 Oktober 2020, Parasites – Toxoplasmosis (Toxoplasma infection).
  2. Food and Drug Administration (FDA), diakses 8 Oktober 2020, Toxoplasma from Food Safety for Moms to Be.
  3. Mayo Clinic, diakses 8 Oktober 2020, Toxoplasmosis.
  4. Healthline, diakses 8 Oktober 2020, Toxoplasmosis.
  5. Healthline, diakses 8 Oktober 2020, 15 Foods That Boost the Immune System.
  6. Health, diakses 8 Oktober 2020, 6 Eating Habits and Foods that Weaken Your Immune System.
  7. WebMD, diakses 8 Oktober 2020, Toxoplasmosis.
  8. Verywell Health, diakses 8 Oktober 2020, Symptoms of Toxoplasmosis.
  9. Research gate, diakses 8 Oktober 2020, The efficacy of herbal medicines against Toxoplasma gondii during the last three decades: a systematic review.

    Berita Terkait
    register-docotr