Kamus Penyakit

Penasaran Bagaimana Cara Tes HIV pada Bayi dan Anak? Berikut Penjelasannya

May 3, 2020 | Ahmad Ridwan | dr. Ghifara Huda
feature image

Tes HIV pada bayi dan anak penting dilakukan agar dapat diketahui penyebabnya sedini mungkin. HIV merupakan penyakit yang mengerikan bagi masyarakat global karena efek yang mematikan dan tidak dapat disembuhkan.

Menurut data yang dirilis WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2018 diperkirakan terdapat 37.9 juta orang hidup dengan HIV / AIDS di seluruh dunia dengan 770.000 di antaranya meninggal.

Sementara pada 2013 organisasi kesehatan dunia (WHO) juga merilis data sebanyak 3,2 juta anak hidup dengan AIDS, tentunya hal ini sangat mengkhawatirkan kita semua. Lantas, bagaimana cara penularan HIV pada bayi dan anak?

Mekanisme penularan HIV pada anak

HIV dapat menular pada orang dewasa tentu bukanlah hal baru, namun penuluran pada anak pasti membuat kita was-was. Nah, berikut cara penularan HIV pada anak.

  • Donor atau transfusi darah. Jika seorang anak menerima donor darah dari seseorang yang terinfeksi HIV maka otomatis akan terkena HIV.

Selain itu, jika seorang anak terkena jarum suntik bekas seseorang yang terinfeksi HIV maka beresiko tinggi terkena HIV bahkan sampai AIDS.

  • Menggunakan obat – obatan terlarang. Maraknya penggunaan obat obatan terlarang yang bahkan bisa terjadi pada anak anak khususnya anak jalanan yang menjadi sasaran beredarnya narkoba.

Adapun penularan melalui obat terlarang biasanya lewar jarum suntik bekas pecandu narkoba yang sudah terkena HIV.

  • Melalui hubungan seksual, kasus ini terjadi dapat dikarenakan adanya pemerkosaan pada anak anak mengingat saat ini terjadi banyak perkosaan dan pencabulan oleh pelaku pedofilia.

Gejala atau kondisi yang dicurugai adanya infeksi HIV pada anak

  • Adanya infeksi berulang: terdapat infeksi berulang dalam satu tahun terakhir seperti : pneumonia, meningitis, sepsis dan sellulitis.
  • Adanya sariawan pada mulut: terdapat eritema atau berkas warna kemerahan serta plak putih besar pseudomembran pada area mulut bagian dalam.
  • Adanya Infeksi atau peradangan kelenjar parotis disertai dengan pembengkakan baik satu atau dua.
  • Panas berulang yang terjadi lebih dari 7 hari atau timbul lebih dari sekali dalam kurun waktu 7 hari.
  • Disfungsi neurology atau tidak berfungsinya syaraf dengan baik, gejala ini terlihat dengan terjadinya gangguan tumbuh kembang anak.
  • Dermatitis HIV, gejala ini timbul ditandai dengan seringnya seorang anak terkena penyakit kulit seperti terkena jamur atau bahkan keradangan kulit yang tampak kemerahan yang tersebar merata pada seluruh area kulit.

Tes HIV pada bayi dan anak (usia 18 bulan atau kurang) memiliki mekanisme yang berbeda dengan tes yang dilakukan pada orang dewasa.

Gejala di atas bukanlah suatu petanda pasti seorang anak terkena infeksi HIV, untuk mengetahui kepastiannya maka diperlukan suatu pemeriksaan laboratorium yaitu tes uji viral kualitatif.

Dimana tes ini berbeda dengan tes uji kuantitatif ( viral load ) pada orang dewasa yang berfungsi untuk mengukur seberapa banyak jumlah virus HIV pada seseorang.

Tes antibodi yang biasanya digunakan untuk mendiagnosa adanya HIV tidak disarankan dilakukan pada anak atau bayi.

Adanya percampuran antibodi pada bayi baru baru lahir merupakan alasan mengapa tes antibodi tidak disarankan karena akan memberikan hasil positif jika ibu dari bayi terinfeksi HIV sehingga terjadilah hasil positif palsu.  

Pemeriksaan khusus HIV untuk bayi dan anak

Pemeriksaan yang sering dilakukan dokter untuk mendeteksi adanya HIV pada bayi sejak lahir yaitu tes virologis paling awal pada usia 6 minggu. Sedangkan untuk akurasi mendekati 100 persen saat bayi mencapai usia 3 bulan.

Tes PCR adalah nama khusus dari tes ini, berfungsi untuk mendeteksi HIV pada bayi sebelum antibodi yang terinfeksi pada bayi berkembang. Jika hasil tes pertama dinyatakan positif mengidap HIV maka dokter akan menyarankan pengobatan antiretroviral (ARV) dimulai sesegera mungkin

Terapi ARV ini bertujuan untuk menurunkan jumlah virus dalam darah yakni dengan menghambat perkembangan virus.

Cara kerja PCR 

Pemeriksaan HIV dengan PCR  ini dilakukan dengan enzim tertentu. Cara kerja enzim ini adalah memperbanyak virus HIV yang diduga ada dalam sampel darah.

Kemudian terdapat suatu reaksi kimia yang akan menandai ada atau tidaknya virus HIV. Penanda adanya virus ini bentuknya seperti pita (band) yang diukur dan digunakan untuk menghitung jumlah virus.

Hasil pengujian RNA biasanya memakan waktu beberapa minggu. Hasil viral load ini dikatakan terdeteksi jika jumlahnya berada di bawah 40 sampai 75 kopi dalam satu kali sampel darah.

Jika hasil viral load tinggi maka tandanya ada banyak virus dalam tubuh seorang anak yang menandakan sistem kekebalan tubuh anak tidak berhasil dalam membasmi virus HIV yang ada.


Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
Global Health Observatory data. https://www.who.int/gho/hiv/en/. Accessed on 29 oktober 2019
Diagnosis of HIV infection in infants and children. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK304129/. Accessed on 1 November 2019
Diagnosing HIV in Infants and Toddlers A Layman’s Guide to Understanding HIV Testing in Newborns. https://www.verywellhealth.com/diagnosing-hiv-in-infants-and-toddlers-49156. Accessed on 1 November 2019.
PCR HIV testing https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/sexual-and-reproductive-health/hiv-aids/diagnosis/pcr.html Diakses pada 1 November 2019
 
    register-docotr