Kamus Penyakit

Jangan Dianggap Enteng! Ini Bahaya PTSD yang Bisa Sebabkan Bunuh Diri

February 19, 2021 | Felicia Elfriestha | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Mungkin kamu sering mendengar seseorang mengidap PTSD (post traumatic stress disorder). Ternyata PTSD adalah penyakit berbahaya sampai membuat penderitanya berkeinginan untuk bunuh diri.

Mari kita pahami lebih dalam mengenai PTSD mulai dari defisini­­­­­­­, penyebab­­­­­­­, hingga cara mengatasinya pada ulasan berikut ini!

Apa itu PTSD?

Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD adalah gangguan psikologis yang dipicu oleh peristiwa mengerikan yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan, seperti kecelakaan, insiden yang mengancam nyawa, dan perang.

Peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang traumatis bagi para penderitanya. Tetapi gejala PTSD tidak selalu muncul langsung setelah kejadian traumatis itu terjadi. 

Penyakit ini didiagnosis setelah seseorang mengalami gelaja kurang lebih selama satu bulan setelah kejadian traumatis.

Namun, ada beberapa orang yang bisa saja baru merasakan dan mengalami gejalanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah mengalami kejadian traumatis.

Kebanyakan orang yang mengalami kejadian traumatis akan menghadapi kesulitan dalam menjalani kehidupannya, tetapi seiring berjalan waktu dan perawatan rutin, kesulitan itu dapat berkurang. 

Baca Juga : Ini Lho Dampak Nonton Film Horor pada Kesehatan Mental

Gejala PTSD adalah

Gejala post traumatic stress disorder atau PTSD ini biasanya akan muncul setelah satu bulan pasca kejadian traumatis, tetapi ada juga yang baru muncul setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Berikut beberapa tanda dan gejala penyakit ini, antara lain:

1. Selalu teringat pada peristiwa traumatis adalah gejala khas PTSD

Penderita penyakit ini biasanya menghidupkan peristiwa traumatis tersebut seakan-akan peristiwa tersebut terjadi lagi (kilas balik). Ingatan traumatis tersebut bahkan sering kali hadir dalam mimpi buruk.

Hal ini dapat menyebabkan penderita tertekan dan menimbulkan reaksi fisiologis seperti keringat dingin dan halusinasi.

2. Mengelak dan menghindar

Gejala PTSD yang kedua adalah penderita biasanya cenderung akan mengelak dan menghindar dari segala yang yang berkaitan dengan peristiwa traumatis tersebut.

Hal ini ditunjukkan dengan menghindari tempat, aktivitas, dan seseorang yang terkait dengan kejadian traumatis tersebut.

3. Pola pikir yang negatif

Biasanya penderita penyakit ini cenderung menyalahkan diri sendiri maupun orang lain. Selain itu, penderita akan kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukainya dan merasa putus asa.

Penderita akan lebih suka menyendiri dan sulit menjalin hubungan dengan orang lain dan juga akan susah berpikir positif dan percaya dengan orang lain.

4. Perubahan perilaku dan emosi

Gejala PTSD yang keempat adalah penderita biasanya seringkali mudah takut atau marah meski tidak dipicu oleh ingatan yang berkaitan dengan peristiwa traumatis.

Hal ini seringkali membahayakan dirinya maupun orang lain. Hal-hal yang dapat membahayakan penderita seperti perilaku merusak diri, misalkan mengonsumsi alkohol secara berlebihan, menyetir dengan kecepatan tinggi, serta kesulitan tidur dan berkonsentrasi.

5. Mudah terkejut

Penderita juga akan mudah terkejut, merasa tegang sehingga membuatnya sulit berkonsentrasi dan tidur.

Penderita akan mudah terkejut dengan hal-hal kecil yang mungkin dianggap biasa saja oleh orang di sekitarnya.

Baca Juga : Manfaat Menanam Tanaman untuk Kesehatan Mental selama Pandemi COVID-19

Penyebab PTSD adalah?

Pada dasarnya, penyebab post traumatic stress disorder atau PTSD adalah belum diketahui secara pasti.

Namun, seseorang dapat mengalami gangguan stres pasca trauma ketika mengalami, melihat, mendengarkan peristiwa yang menakutkan dan mengancam nyawa.

Secara umum, post traumatic stress disorder dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

  • Pengalaman yang menakutkan, termasuk jumlah dan tingkat keparahan trauma yang dialami dalam hidup.
  • Mengalami peristiwa traumatis seperti perang, kecelakaan, bencana alam, perundungan (bullying), kekerasan fisik, pelecehan seksual, operasi).
  • Riwayat gangguan mental pada keluarga, seperti riwayat gangguan kecemasan dan depresi dalam keluarga.
  • Ciri-ciri kepribadian bawaan, seperti kecenderungan temperamental.
  • Cara otak mengatur bahan kimia dan hormone yang dilepaskan tubuh sebagai respons terhadap stres.

Berikut adalah cara diagnosis PTSD

Cara dokter mendiagnosis post traumatic stress disorder atau PTSD adalah melalui beberapa tes khusus.

Secara umum, dokter akan menanyakan gejala yang dialami penderita dengan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tahu gejala yang dialami penderita apakah disebabkan oleh penyakit fisik.

Setelah itu, jika tidak terdapat penyakit fisik, maka penderita akan dirujuk ke dokter spesialis kejiwaan.

Dokter akan melakukan evaluasi psikologis yang mencakup diskusi mengenai tanda, gejala dan peristiwa yang mengarah ke diagnosis PTSD.

Baca Juga : Penyakit Mental Tak Boleh Diabaikan, Ini Penyebab dan Akibat yang Dapat Ditimbulkan

Ini adalah beberapa cara mengatasi PTSD

Cara mengobati atau mengatasi post traumatic stress disorder atau PTSD adalah terapi dan dibantu dengan konsumsi obat tertentu.

Pengobatan ini dapat membantu penderita meredakan emosi dan mengajarkan pasien cara mengendalikan diri dengan baik ketika teringat pada kejadian traumatis.

Beberapa cara pengobatan post traumatic stress disorder yang dapat dilakukan, yakni:

1. Psikoterapi

Pengobatan ini dapat dilakukan secara individual maupun berkelompok, biasanya ahli kesehatan mental akan memberikan beberapa teknik untuk mengatasi stres.

Berikut adalah beberapa jenis terapi untuk mengatasi post traumatic stress disorder atau PTSD:

  • Terapi perilaku kognitif, untuk membantu mengubah pola pikir penderita yang sebelumnya negatif menjadi positif.
  • Terapi paparan, untuk membantu penderita agar bisa menghadapi situasi dan memori yang dianggap menakutkan, sehingga dapat menghadapinya dengan efektif.
  • Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR), terapi ini biasanya digabung dengan terapi paparan dengan cara memberikan beberapa gerakan mata terarah untuk membantu penderita memproses kejadian tersebut.

2. Obat-obatan

Dokter biasanya memberikan obat tergantung pada gejala yang dialami penderita.

Berikut adalah beberpa jenis obat untuk mengatasi gejala post traumatic stress disorder :

  • Antidepresan, untuk mengatasi gejala depresi, gangguan tidur dan gangguan konsentrasi seperti sertraline dan paroxetine.
  • Anticemas, untuk membantu meredakan gangguan kecemasan yang berat. Beberapa obat anti kecemasan memiliki potensi untuk penyalahgunaan, sehingga hanya digunakan untuk jangka pendek.
  • Prazosin, untuk meringankan gejala dan menekan terjadinya mimpi buruk.

Biasanya dokter akan meningkatkan dosis obat apabila tidak efektif dalam mengatasi gejala penyakit ini.

Tetapi jika terbukti efektif, obat ini akan terus diberikan setidaknya hingga 1 tahun. Setelah itu, pengobatan ini akan dihentukan secara bertahap.

3. Perubahan gaya hidup

Selain terapi dan obat-obatan yang dilakukan, perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi penyakit ini, seperti halnya:

  • Mengikuti proses pengobatan dengan sabar.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi.
  • Istirahat cukup dan berolahraga secara teratur.
  • Melakukan kegiatan untuk mengatasi stres dan relaksasi, seperti yoga dan meditasi.
  • Menghindari alkohol, rokok, dan obat terlarang seperti narkotika.
  • Bercerita dengan orang terdekat kamu terkait masalah yang sedang kamu alami atau mengikuti komunitas dengan orang yang mengalami hal yang sama agar dapat bertukar pikiran dan saling mendukung.
  • Mengalihkan rasa cemas dan stres kamu dengan cara melakukan travelling.

Baca Juga : Inilah 5 Jenis Makanan yang Mampu Menunjang Kesehatan Mental Kamu

Cara mencegah PTSD

Setelah melewati peristiwa traumatis tersebut, banyak orang yang mengalami gejala yang mirip dengan PTSD pada awalnya, seperti tidak dapat berhenti memikirkan apa yang terjadi. 

Namun, kebanyakan orang yang mengalami trauma dapat mengatasi kejadian tersebut dan tidak mengalami gangguan stres pasca-trauma jangka panjang.

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan mencari bantuan dan dukungan yang tepat waktu. Hal ini bertujuan agar reaksi stres normal tidak semakin buruk dan berkembang menjadi PTSD.

Beberapa hal yang dapat kamu lakukan dengan berbicara kepada keluarga, teman, atau terapis mengenai kejadian traumatis yang kamu alami. Dukungan dari orang lain dapat membantu dan mencegah seseorang beralih ke pola hidup yang tidak sehat.

Kamu juga disarankan untuk fokus pada hal yang positif, termasuk ketika sedang mengalami kejadian yang traumatis. Misalnya saat mengalami kecelakaan, kamu harus berpikir bersyukur karena kamu selamat dari kecelakaan tersebut.

Berikut ini adalah faktor risiko PTSD

Ada beberapa faktor risiko penyakit ini, terlebih jika seseorang mengalami dan menyaksikan kejadian traumatis.

Berikut adalah beberapa faktor yang membuat kamu lebih berisiko mengalami post traumatic stress disorder :

  • Mengalami trauma secara terus menerus dan berkepanjangan.
  • Kurang mendapat dukungan dari orang terdekat seperti keluarga dan teman.
  • Pernah mengalami trauma masa kecil, misalnya penganiayaan dan diterlantarkan.
  • Memiliki pekerjaan yang meningkatkan risiko terjadinya peristiwa traumatis, seperti personel militer, petugas pertolongan darurat, dan Tim SAR.
  • Menderita kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA.
  • Menderita gangguan mental lainnya, misalnya gangguan kecemasan atau depresi berlebih.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat gangguan mental, seperti depresi.
  • Mendapat pengalaman traumatis sebelumnya, misalnya dirundung (bullying) saat masih kecil.

Apakah penyakit PTSD bisa disembuhkan?

Pada dasarnya gangguan mental seperti penyakit ini mungkin tidak dapat disembuhkan secara total, namun bukan berarti penyakit ini tidak dapat ditangani.

Hal ini dapat dibuktikan oleh beberapa peneliti yang telah berhasil menemukan bagaimana penanganan pada penyakit ini.

Tujuan utama penanganan penyakit ini untuk mengurangi gejala emosi dan gejala fisik yang timbul. Selain itu, untuk memantu penderita mengatasi setiap kali pemicu trauma tersebut muncul. 

Memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menangani penyakit ini karena prosesnya yang berkelanjutan. Namun hingga saat ini para peneliti masih berusaha untuk menemukan penanganan yang semakin baru dan semakin baik lagi.

Baca Juga : Jangan Sembarangan, Begini Cara Tes Kesehatan Mental yang Benar!

Komplikasi PTSD

Penyakit ini dapat menggangu kehidupan penderitanya, baik untuk dirinya sendiri, keluarga bahkan di pekerjaannya. Ada beberapa komplikasi yang terjadi terhadap penyakit ini, antara lain:

  • Gangguan makan.
  • Gangguan kecemasan yang hebat.
  • Ketergantungan alkohol.
  • Penyalahgunaan NAPZA.
  • Keinginan untuk melukai diri sendiri.
  • Keinginan untuk bunuh diri.

Kapan harus berkonsultasi dengan dokter?

Jika terlambat ditangani, penyakit ini bisa sangat berbahaya untuk diri sendiri karena dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri. Kamu sebaiknya segera periksakan ke dokter jika merasakan tanda dan gejala yang telah dijelaskan di atas.

Apalagi jika kamu ataupun kerabat terdekat kamu memiliki keinginan untuk melukai dan melakukan percobaan bunuh diri. Hal ini harus ditangani secara cepat oleh dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
register-docotr