Kamus Penyakit

Hati-hati! Kenali Penyakit Scabies yang Berasal dari Kutu Hewan

June 4, 2020 | Felicia Elfriestha | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Apabila kamu sering mengalami gatal di malam hari, bisa jadi kamu terkena penyakit scabies. Apakah kamu sudah tahu tentang penyakit scabies?

Nah untuk lebih memahaminya, yuk kita simak berbegai penjelasan mulai dari gejala hingga pengobatan penyakit ini dalam ulasan berikut!

Tentang penyakit scabies

Penyakit scabies merupakan penyakit kulit yang menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei. Tungau ini memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat bersarang pada lapisan kulit manusia. Tungau bisa bertahan hidup dan bertelur di kulit hingga 2 bulan lamanya.

Kutu penyebab penyakit scabies ini dapat menular jika terjadi kontak langsung dengan penderitanya, salah satu contohnya tidur berdekatan dengan penderita dan menggunakan barang pribadi yang digunakan oleh penderita penyakit ini.

Biasanya orang yang mengidap penyakit ini akan merasakan rasa gatal yang luar biasa di malam hari. Kutu yang masuk dalam kulit dapat menjalar ke seluruh tubuh, sehingga semua badan bisa merasakan gatal dan dapat menularkan ke orang lain.

Biasanya pada orang dewasa rasa gatal ini akan dirasakan di bagian siku, ketiak, pergelangan tangan, pinggang, sela-sela jari, dan bokong. Sedangkan pada anak-anak, rasa gatal ini akan terasa di bagian leher, kepala, tangan, wajah, dan kaki.

Biasanya pada orang dewasa, gejala penyakit ini lebih sedikit ringan, sedangkan pada anak-anak akan lebih gatal. Hal ini menyebabkan penderitanya menjadi tidak bisa tidur nyenyak dan kualitas hidup menjadi terganggu.

Penyebab scabies

Penampakan kutu scabies. Foto: Shutterstock.com

Secara umum, penyebab utama penyakit ini adalah tungau Sarcoptes scabiei yang berukuran sangat kecil dan tidak bisa dilihat secara jelas. Tungau berkaki delapan yang menyebabkan scabies ini hanya dapat dilihat melalui mikroskop.

Tungau betina ini biasanya akan membuat galian di bawah kulit dan meninggalkan telur di lokasi tersebut.

Kemudian saat telur menetas, larva dari tungau mulai beralih ke lapisan terluar kulit, di mana larva tersebut mengalami maturasi dan menyebar ke area lain dari kulit individu tersebut atau individu lainnya.

Tungau dapat menyebar ke area kulit lainnya atau bahkan ke orang lain. Bila kamu melakukan kontak fisik dengan orang yang terinfeksi, tungau juga dapat menyebar.

Selain itu, berbagi barang yang sama dengan orang yang terinfeksi, seperti handuk, seprai, dan pakaian, bisa membuat tungau menyebar.

Dikarenakan tungau memiliki sifat parasit yang sangat aktif, maka diperlukan perawatan secara agresif hingga penderitanya sembuh total tanpa ada jangka waktu yang ditargetkan. 

Gejala scabies

Gejala yang paling umum dirasakan oleh para penderita penyakit ini adalah rasa gatal yang berkepanjangan hingga membentuk luka bakar dan bernanah. Berikut beberapa gejala yang dapat ditimbulkan akibat penyakit ini, antara lain:

Gatal-gatal

Rasa gatal ini adalah salah satu gejala paling umum ketika orang terkena gigitan tungau scabies. Biasanya akan menimbulkan rasa gatal yang sangat kuat dan semakin parah ketika di malam hari sehingga membuat kamu akan sulit tidur.

Ruam merah

Biasanya ruam akibat penyakit ini akan menyerupai benjolan keras dan membentuk garis seperti terowongan. Selain itu, ruam tersebut terlihat seperti bekas gigitan serangga yang kecil dan berwarna merah bahkan terlihat seperti jerawat.

Luka akibat garukan

Gejala lain yang dapat ditimbulkan adalah munculnya luka yang terbentuk akibat terlalu keras menggaruk kulit yang gatal. Biasanya luka ini sering muncul di pagi hari karena tanpa sadar penderitanya menggaruk keras kulit saat tidur.

Kerak tebal pada kulit

Penyakit scabies jenis Norwegian. Foto: acadderm.com

Pada kondisi ini, biasanya akan muncul ketika tungau yang hidup di kulit kamu mencapai ribuan. Biasanya jenis ini disebut dengan Norwegian scabies. Salah satu tanda yang dapat muncul adalah timbulnya kerak yang tersebar pada kulit.

Biasanya kerak akan terlihat berwarna keabu-abuan dan akan mudah hancur saat disentuh. Kamu harus hati-hati dengan jenis scabies satu ini, karena kerak yang mudah hancur dapat menularkan secara mudah ke orang lain.

Biasanya gejala di atas akan muncul dalam waktu 4 hingga 6 minggu setelah kutu penyebab scabies menyerang. Tungau parasit penyebab penyakit ini bahkan dapat bertahan tanpa menempel pada tubuh manusia selama 24 hingga 36 jam lamanya.

Oleh sebab itu kontak dengan benda yang menempel dengan kulit seperti handuk, pakaian dan alas tidur dapat membuat orang lain tertular meski jarang terjadi.

Diagnosis scabies

Secara umum, dokter biasanya akan mendiagnosis scabies dengan cara memeriksa kulit mulai dari kepala hingga kaki. Kemudian dokter akan mencari tanda-tanda keberadaaan tungau di kulit kamu.

Ketika dokter menemukan galian tungau tersebut, dokter akan mengambil sedikit sampel kulit atau biopsi untuk dievaluasi lebih lanjut melalui mikroskop. Dari pemeriksaan miksroskopik itulah yang dapat menentukan adanya tungau dan telurnya.

Faktor-faktor risiko scabies

Ada beberapa kondisi dimana penyakit ini dapat mudah menular apabila dalam kondisi seperti ini, antara lain:

  • Anak-anak
  • Tinggal bersama di panti jompo, asrama, dan bermain tempat penitipan anak yang memiliki scabies
  • Pasien yang sedang rawat inap
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah juga meningkatkan risiko terkena scabies

Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat tungau ini dapat berkembang biak dengan subur. Hal ini disebabkan oleh orang dengan imun rendah tidak mampu melawan tungau.

Tanpa perlawanan dari tubuh, tungau akan berkembang biak dengan sangat cepat. Selain itu lansia, orang dengan HIV/AIDS, penerima transplantasi organ, pengidap kanker, dan orang yang sedang menjalani kemoterapi juga sangat berisiko terkena skabies.

Pengobatan scabies

Penanganan pada scabies biasanya dilakukan dengan mengeliminasi penyebabnya dengan pengobatan. Beberapa jenis krim dan losion dapat digunakan sesuai resep dokter.

Berikut berbagai obat yang biasanya diresepkan oleh dokter untuk mengobati scabies, antara lain:

  • Krim permethrin
  • Losion benzyl benzoate
  • Salep sulfur
  • Krim krotamiton
  • Losion lindane

Meskipun obat tersebut dapat membunuh tungau dengan cepat, tetapi rasa gatal mungkin tidak sepenuhnya hilang selama beberapa minggu ke depan.

Selain obat-obatan di atas, ada pula obat-obatan tambahan yang dapat membantu meringankan gejala scabies, antara lain:

Antihistamin

Obat antihistamin ini berfungsi untuk meredakan gatal akibat alergi dan gangguan kulit lainnya.

Antibiotik

Obat ini efektik untuk membunuh infeksi yang berkembang akibat terus-menerus manggaruk kulit.

Krim steroid

Krim yang satu ini sangat efektif untuk meredakan pembengkakan serta gatal-gatal.

Pengobatan yang bisa dilakukan di rumah

Selain obat-obatan yang dapat mengobati scabies, ini adalah beberapa pengobatan yang dapat dilakukan di rumah, antara lain:

Mengoleskan losion

Losion calamine dapat membantu meredakan sakit, gatal, dan iritasi kulit ringan. Losion ini biasanya dijual bebas di apotek tanpa perlu resep dokter. Namun, jika kamu ragu sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter apakah boleh menggunakan losion ini atau tidak.

Mengompres kulit

Kamu bisa mengompres kulit kamu untuk mengurangi gatal dengan menggunakan handuk yang telah dicelupkan ke dalam air dingin atau panas. Kamu bisa melakukannya kapan pun.

Mengompres kulit yang gatal jauh lebih baik dibandingkan dengan menggaruknya. Ini karena menggaruk kulit yang gatal bisa menyebabkan luka dan infeksi pada kulit.

Gel lidah buaya

Sebagaimana kita ketahui, gel lidah buaya memiliki banyak manfaat yang sangat baik untuk kesehatan, salah satunya untuk mengurangi rasa gatal pada kulit. Gel lidah buaya sama efektifnya dengan benzyl benzoate yang biasa diresepkan untuk mengobati kudis. 

Bahkan, penelitian menemukan fakta bahwa tidak ada efek samping yang muncul saat seseorang diobati dengan bahan yang satu ini. Usahakan gel lidah buaya ini murni tanpa zat tambahan lainnya.

Minyak nimba

Minyak, sabun, dan krim nimba bisa menjadi salah satu pengobatan rumahan yang cukup efektif untuk kudis. Nimba mengandung antiradang, antibakteri dan analgesik.

Minyak cengkeh

Minyak cengkeh ini memiliki sifat antimikroba, anestesi, dan antioksidan yang bisa membantu proses penyembuhan kudis secara alami.

Pencegahan scabies

Pencegahan paling ampuh dalam mencegah scabies adalah mencegah diri agar terhindar dari tungau tersebut. Berikut langkah-langkah yang dapat kamu lakukan, antara lain:

Mencuci barang yang terinfeksi dengan air panas

Membersihkan semua pakaian dan kain yang digunakan. Gunakan air hangat dan sabun untuk mencuci semua pakaian, handuk, dan seprai yang digunakan sejak tiga hari sebelum memulai penanganan. 

Keringkan dengan suhu tinggi. Untuk yang tidak dapat dicuci di rumah, gunakan fasilitas binatu.

Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi

Dikarenakan scabies ini sangat mudah menular dari kulit ke kulit, usahakan untuk menghindari kontak langsung dengan orang atau benda yang terinfeksi.

Sebaiknya gunakan baju dan celana panjang jika di rumah ada anggota keluarga yang terinfeksi penyakit kulit ini. Selain itu, jangan bertukar pakaian atau tidur dalam satu kasur yang sama agar tidak mudah tertular.

Rajin membersihkan rumah

Jenis scabies yang berkrusta dapat dengan mudah menular lewat kerak tebal yang mungkin rontok dari kulit pengidapnya. Oleh karena itu, jika ada anggota keluarga yang terkena scabies usahakan untuk rutin membersihkan lantai rumah kamu, jika perlu dengan vakum.

Selain pengobatan di atas kamu juga harus menerapkan hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit yang berbahaya. Usahakan hidup bersih agar kamu terhindar dari penyakit scabies ini.

Hal yang harus diingat, jangan sampai kamu melakukan kontak dengan orang yang memiliki penyakit scabies dikarenakan penyakit ini dapat dengan mudah menular.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. healthline.com (2019) diakses 3 Juni 2020. Everything You Need to Know About Scabies. 3 Juni 2020 pukul 22.3o.
  2. mayoclinic.org (2018) diakses 3 Juni 2020. Scabies. 3 Juni 2020 pukul 23.oo.
    Berita Terkait
    register-docotr