Kamus Penyakit

Mengenal Penyakit Polio: Apa Penyebab, Gejala dan Cara Mencegahnya?

July 6, 2020 | Dewi Nurfitriyana
no-image

Penyakit polio merupakan salah satu gangguan kesehatan yang sering terjadi pada anak-anak. Dilansir dari kemkes.go.id, virus penyebab penyakit ini banyak terdapat di lingkungan yang memiliki sistem sanitasi buruk.

Penyakit polio disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf, dan bisa membuat penderitanya mengalami kelumpuhan. Menurut World Health Organization (WHO), 1 dari 200 kasus infeksi polio akan menyebabkan kelumpuhan permanen.

Sampai dengan saat ini obat untuk penyakit polio memang belum ditemukan. Namun, pencegahannya bisa dilakukan melalui beberapa cara mulai dari melakukan pola hidup bersih, sampai pemberian vaksin.

Penyakit polio saat ini

Dilansir dari kemkes.go.id, sejak tahun 2016 hingga saat ini polio masih dinyatakan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan Masayarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD).

Berdasarkan data Global Polio Eradication Initiative, dari tahun 2018 hingga minggu 38 tahun 2019, jumlah kasus polio di dunia adalah sebanyak 296 kasus. Ini terdiri dari 111 kasus jenis WPV dan 184 kasus jenis circulating Vaccine Derived Polio Virus (cVDPV).

Kasus-kasus tersebut dilaporkan di 18 negara baik yang berstatus endemis (Afghanistan, Nigeria, dan Pakistan) maupun non endemis (Angola, Benin, Cina, Ethiopia, Filipina, Ghana, Indonesia, Mozambik, Niger, Mozambik, Myanmar, Somalia, Papua New Guinea, dan Republik Afrika Tengah.

Baca juga: Kerap Bikin Bingung, Yuk Cari Tahu Perbedaan Virus dan Bakteri

Apa itu penyakit polio

Memiliki istilah medis poliomyelitis, polio termasuk golongan penyakit yang sangat mudah menular. Ia rentan menyerang sistem syaraf anak-anak, terutama yang berusia di bawah 5 tahun.

Dilansir dari kemkes.go.id, virus polio yang selama ini ditemukan terdiri dari beberapa jenis. Ada yang berupa virus polio vaksin/ sabin, virus polio liar/ Wild Polio Virus (WPV) dan Vaccine Derived Polio Virus (VDPV).

Virus polio liar sendiri memiliki tiga serotipe, yaitu tipe 1, tipe 2 dan tipe 3. Masing-masing memiliki protein kapsid yang sedikit berbeda. Imunitas terhadap satu serotipe tidak memberikan kekebalan terhadap serotipe tipe lainnya.

Sementara VDPV sendiri merupakan virus polio vaksin/ sabin yang mengalami mutasi dan dapat menyebabkan kelumpuhan.

Penyebab penyakit polio

Penyakit ini disebabkan virus yang disebut enterovirus. Penyebarannya dapat terjadi melalui berbagai cara.

Pertama, melalui rute faecal-oral, yakni masuknya virus terjadi melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi dari kotoran yang mengandung virus polio. Kondisi tersebut membuka peluang virus polio masuk melalui mulut dan berkembang biak di usus.

Selain itu, virus ini juga bisa menyebar ketika seseorang yang telah terinfeksi batuk atau bersin dan memercikkan air liur ke permukaan udara.

Selain anak-anak, terdapat golongan lain yang dianggap memiliki risiko besar terpapar penyakit polio. Di antaranya adalah ibu hamil, menyusui, dan orang yang menderita penyakit autoimun seperti HIV.

Gejala penyakit polio

Dilansir dari Healthline, 95 sampai 99 persen orang yang terkena penyakit ini mengalami gejala asimtomatik. Kondisi ini dikenal dengan istilah polio subklinis. Meski seolah tanpa gejala, orang dalam kategori ini tetap bisa menyebarkan polio kepada orang lain.

Gejala yang muncul saat seseorang terkena penyakit ini dapat dibedakan berdasarkan tiga kategori, yakni:

Polio abortif

Merupakan infeksi virus polio yang terjadi dalam skala ringan dan jangka waktu relatif pendek. Biasanya ia memiliki satu atau beberapa gejala sebagai berikut:

  1. Demam
  2. Penurunan selera makan
  3. Mual yang disertai maupun tidak disertai muntah
  4. Radang tenggorokan
  5. Malaise, yakni perasaan tidak nyaman, pegal-pegal, dan lelah yang terjadi tanpa sebab
  6. Sembelit, dan
  7. Sakit pada bagian perut.

Polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan

Gejala pada kategori infeksi ini bisa terjadi antara 1 sampai 10 hari. Cirinya biasanya terbilang ringan dan menyerupai sakit infeksi biasa.

Beberapa tandanya adalah muncul demam, radang tenggorokan, sakit kepala, kaku pada leher sampai tulang belakang, mudah lelah, muntah. Namun, pada beberapa kasus ada juga yang sampai menyebabkan meningtis.

Baca juga: Wajib Tahu! Kenali Gejala-gejala Meningitis Berdasarkan Penyebabnya

Polio yang menyebabkan kelumpuhan

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, 1 dari 200 kasus penyakit polio berpotensi menyebabkan kelumpuhan. Ini biasanya terjadi akibat virus berhasil menyerang sumsum tulang belakang (spinal polio), batang otak (bulbar polio), atau malah keduanya (bulbospinal polio).

Beberapa gejala yang mirip dengan polio, ada yang tidak menyebabkan kelumpuhan. Namun, jika ditelaah lebih rinci, setelah seminggu terinfeksi penderitanya akan mengalami gejala yang lebih buruk seperti:

  1. Kehilangan refleks anggota badan
  2. Kejang yang parah dan sakit otot
  3. Sembelit
  4. Mengeluarkan air liur berlebihan
  5. Kehilangan keseimbangan kadang hanya terjadi pada salah satu sisi bagian tubuh
  6. Lumpuh seketika, baik terjadi sementara maupun permanen
  7. Cacat anggota tubuh, khususnya pada bagian panggul, pergelangan kaki, dan kaki.

Meski terbilang jarang, kasus 1 persen polio yang menyebabkan kelumpuhan ini tetap harus diwaspadai. Apalagi 5 sampai 10 persen dari kasus ini bisa berlanjut mengalami komplikasi yang menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan kematian.

Sindrom setelah polio

Meski kamu telah menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh, masih ada kemungkinan penyakit ini kembali menyerang di kemudian hari.

Ini bisa terjadi dalam rentang waktu 15 sampai 40 tahun sejak diagnosis pertama muncul. Beberapa gejala yang umum terjadi dalam kondisi ini adalah:

  1. Rasa lemah pada persendian yang terjadi terus-menerus
  2. Otot semakin terasa sakit setiap hari
  3. Sangat mudah merasa letih dan lelah
  4. Pengecilan otot yang disebut atropi otot
  5. Kesulitan bernapas
  6. Susah menelan sesuatu
  7. Mengalami sleep apnea, yakni napas terhenti selama beberapa saat di tengah tidur
  8. Tidak bisa mentoleransi suhu dingin
  9. Timbul rasa nyeri pada otot bagian lain yang sebelumnya baik-baik saja
  10. Depresi
  11. Kesulitan berkonsentrasi, dan
  12. Susah mengingat sesuatu.

Dilansir dari Healthline, sekitar 25 sampai 50 persen penderita polio yang telah berhasil sembuh masih berisiko terkena sindrom ini.

Baca juga: Manfaat Beras Hitam, Tingkatkan Kesehatan Hati dan Jantung

Diagnosis penyakit polio

Pertama-tama, dokter akan melihat gejala yang timbul dan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Dokter akan memeriksa refleks yang mengalami gangguan, tingkat kekakuan pada punggung dan leher, sampai seberapa sulit kamu mengangkat kepala saat berbaring.

Selanjutnya dilansir dari cedar-sinai.org, dokter akan melengkapi diagnosis dengan melihat riwayat kesehatan pasien dan melakukan beberapa tes sebagai berikut:

  1. Pengambilan sampel tenggorokan
  2. Pengambilan sampel kotoran
  3. Kadar darah atau cairan serebrospinal

Komplikasi penyakit polio

Komplikasi paling parah yang bisa terjadi dari penyakit ini adalah kelumpuhan. Efeknya bisa berlanjut sampai menyebabkan kesulitan bernapas, susah menelan, dan gangguan sistem pencernaan yang menyebabkan kematian.

Penanganan penyakit polio

Dokter hanya dapat menangani penyakit ini apabila infeksi telah berjalan dengan sendirinya. Mengingat sampai saat ini penyakit ini belum memiliki obat, cara terbaik untuk menanganinya adalah dengan mencegah melalui pemberian vaksin.

Beberapa langkah penanganan pendukung yang bisa dilakukan pada pasien penyakit ini di antaranya adalah:

  1. Istirahat total
  2. Konsumsi obat penghilang rasa sakit, seperti ibuprofen atau acetaminophen
  3. Diet sehat
  4. Mengurangi aktivitas sehari-hari
  5. Pemberian obat anti kejang untuk mengurangi sakit otot
  6. Pemberian obat antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih
  7. Pemberian ventilator untuk membantu pernapasan
  8. Terapi fisik untuk membantu berjalan
  9. Pemberian bantalan atau handuk hangat untuk meredakan sakit pada otot
  10. Terapi fisik untuk menangani sakit pada otot yang terinfeksi
  11. Terapi fisik untuk membantu mengatasi masalah pernapasan, dan
  12. Rehabilitasi paru-paru untuk meningkatkan daya tahan paru-paru.

Pada kasus kronis yang menyebabkan kelumpuhan pada kaki, pasien biasanya akan diberikan kursi roda atau alat bantu gerak lainnya untuk menunjang kegiatan sehari-hari.

Cara pencegahan polio

Keberadaannya yang sangat mudah menyebar menyebabkan penyakit ini sempat sulit untuk diatasi. Namun, pada 1955 para ahli telah berhasil mengembangkan vaksin polio dan sejak itu jumlah kasus penyakit ini terus mengalami penurunan.

Dilansir dari kemkes.go.id, cara mencegah infeksi virus polio yang paling efektif adalah melalui imunisasi. Tujuannya adalah untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit polio seumur hidup, terutama pada anak-anak. Ada 2 jenis vaksin polio, yaitu:

Oral Polio Vaccine (OPV)

Vaksin ini diberikan melalui mulut. Saat ini yang tersedia di Indonesia adalah bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV) yang mengandung virus polio liar tipe 1 dan 3.

Ini merupakan peralihan dari trivalen Oral Polio Vaccine (tOPV) yang penggunaannya telah dihentikan karena WPV2 sudah tidak ditemukan di dunia.

Seiring dengan berjalannya waktu vaksin ini diketahui memiliki keterkaitan dengan terjadinya polio yang menyebabkan kelumpuhan. Oleh karena itu, pemberiannya tidak boleh dilakukan secara rutin dan tidak boleh diberikan pada penderita penyakit autoimun.

Dalam rencana program eradikasi virus polio pada 2030, penggunaan vaksin OPV akan dibatasi dan secara bertahap akan digantikan dengan vaksin IPV.

Inactivated Polio Vaccine (IPV)

Diberikan melalui injeksi intramuscular, vaksin ini mengandung virus tipe 1, tipe 2 dan tipe 3. Jadwal pemberiannya biasanya dibagi dalam 4 kali proses pemberian.

IPV tidak dapat menyebabkan penyakit polio, karena virus di dalamnya sudah mati. Jadi vaksin ini aman digunakan bahkan pada anak yang mengidap penyakit autoimun.

Jika kamu memiliki riwayat alergi terhadap neomycin, streptomycin, or polymyxin B, kemungkinan besar kamu tidak akan diberikan vaksin ini.

Diharapkan sesuai rencana program eradikasi polio, penggunaan IPV dapat membantu percepatan pemberantasan polio di dunia.

Reaksi alergi terhadap pemberian vaksin

Pada beberapa kasus, pemberian imunisasi polio dapat menyebabkan reaksi alergi ringan sampai berat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Kesulitan bernapas
  2. Demam tinggi
  3. Pusing
  4. Gatal-gatal
  5. Pembengkakan pada tenggorokan, dan
  6. Detak jantung menjadi lebih cepat di atas batas normal.

Faktor risiko penyebaran

Kamu menjadi semakin berisiko terkena penyakit ini apabila belum diberikan vaksinasi sesuai jadwal. Selain itu, beberapa hal yang bisa membuatmu semakin rentan terinfeksi virus polio adalah:

  1. Bepergian ke daerah yang baru saja mengalami wabah polio
  2. Mengurus atau hidup dengan orang yang telah terinfeksi polio
  3. Bekerja di laboratorium yang menangani pemeriksaan virus polio
  4. Amandel telah dihilangkan
  5. Mengalami stres berat, dan
  6. Menjalani aktivitas lain yang mengharuskan kamu terpapar pada virus ini.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Polio, https://www.healthline.com/health/poliomyelitis diakses pada 30 Juni 2020

Polio (Poliomyelitis), https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/p/polio-poliomyelitis.html diakses pada 30 Juni 2020

WABAH POLIO DI FILIPINA, INDONESIA TERUS WASPADA!, https://covid19.kemkes.go.id/warta-infem/wabah-polio-di-filipina-indonesia-terus-waspada/#.Xvpq1ecxUaE diakses pada 30 Juni 2020

    Berita Terkait
    register-docotr